Kembali ke Halaman Muka (Back to Main Page)

WARNA KAMPUNG JAWA di PHILADELPHIA
(NEVER BEFORE UNVEILED)

Oleh : Bono Anggono

Bagian Pertama

Krisis moneter, pengangguran besar-besaran dan
kerusuhan sosial yang terjadi ditanah air pada tahun
1998 lalu memiliki andil dalam terbentuknya Kampung
Jawa di Philadelphia. Disebut Kampung Jawa karena ada
ribuan WNI mayoritas asal Surabaya dan kota-kota
lainnya di Pulau Jawa yang menetap dan bekerja di
Philadelphia dan sekitarnya.

Sekilas tentang kota di pantai timur Amrik ini,
Philadelphia merupakan salah satu kota dalam negara
bagian Pennsylvania. Pendatang asal Indonesia biasanya
mendarat di Kota New York dan melanjutkan perjalanan
darat ke Philadelphia yang dapat ditempuh dalam waktu
satu setengah jam. Diapit oleh negara bagian New York
diutara dan Maryland serta New Jersey diselatan,
dibandingkan dengan kota-kota lain di Amerika Serikat,
Philadelphia bukanlah kota yang nyaman maupun ramah
untuk dihuni. Tidak sedikit WNI yang menjadi korban
kejahatan orang-orang lokal dari mulai ditodong,
digebuki hingga masuk rumah sakit hingga diperkosa.


Bagi anda yang belum pernah berkunjung, jangan
bayangkan pemandangan kampung Jawa Philadelphia mirip
pemandangan kota di film-film Hollywood yang anda
tonton. Disini yang disebut apartment adalah deretan
rumah tanpa halaman dan garasi berlantai dua atau
tiga, macam ruko di Indonesia, setiap lantai disebut
apartment. Jika di Indonesia anda mengkhawatirkan
keselamatan kijang dan bebek peliharaan yang berada
diluar rumah, disini kekhawatiran anda bertambah satu
yakni keutuhan sepeda anda. Sering terlihat kerangka
sepeda terkunci kokoh pada tiang rambu jalan sementara
roda depan, roda belakang dan sadelnya raib entah
kemana. Apakah anda pernah lihat counter Chinese Food
berlapis anti-peluru? Namun demikian sangat
membanggakan masyarakat Indonesia, saat ini bintang
RAMBO Sylvester Stallone sering terlihat mondar-mandir
dikampung Jawa walaupun bukan untuk mencari Indomie,
de'e menjadikan Victor Cafe di Dickinson Street
sebagai lokasi shooting ROCKY VI. Beberapa wong Indo
harap-harap cemas mendapat tawaran mengisi peran
pembantu.Tidak jelas siapa perintis dan pembuka jalan
orang-orang Indonesia disini, yang pasti kisah sukses
dibalik tetesan air mata dan keringat mereka yang
pulang kampung, yang tersebar dari mulut kemulut dan
kenyataan semakin sulitnya mencari sesuap nasi ditanah
air, Kampung Jawa ini semakin padat dan kini tidak
hanya dihuni oleh orang-orang kelahiran pulau Jawa.

Pendatang asal Indonesia terbagi atas dua bagian
besar. Yang pertama adalah mereka yang 'patuh' pada
hukum imigrasi Amerika, mendarat dengan visa wisata
dan mengantongi formulir I-94 yang membolehkan mereka
melancong selama enam bulan. Disini bukan menjadi
wisatawan tetapi karyawan dan kembali kekampung
halaman sebelum 'stay' mereka habis. Kelompok ini
biasanya bukan orang susah ditanah air, pada setiap
kesempatan mereka gemar bercerita bahwa di Indonesia
mereka sesungguhnya adalah bos besar,memiliki
pabrik,memiliki usaha ini dan itu,bekerja di Amrik
hanya sekedar mencari pencerahan dan ingin merasakan
bagaimana menjadi kuli. Setelah sekian bulan pulang
ketanah air,kembali lagi ke Philadelphia dengan cerita
lain. Bagian kedua adalah pemegang 'one-way ticket',
sudah datang lupa pulang, lupa keluarga, lupa kirim
uang dan lupa segalanya. Kelompok ini terbagi lagi
menjadi dua : yang 'urus-surat' dengan harapan akan
dapat tinggal di Amrik seumur hidup dan kelompok
'hit-and-run', yakni mereka yang tidak peduli tentang
status imigrasi,pokone cari dollar sebanyaknya untuk
modal buka pabrik di Indonesia
, setelah kantong penuh dan tulang punggung agak
bengkok karena kerja keras kemudian pamit pulang pada
paman Sam'iun. Para pendatang ini berusia antara 20-an
hingga 60-an tahun.

Mereka yang agak tua dan berdarah
Tionghoa dipanggil Asuk untuk yang pria dan A-I untuk
yang wanita.Mereka yang 'urus-surat', jika berhasil
maka kasta mereka akan naik keperingkat yang lebih
tinggi. Demikian menjadi lebih pede, gemar
memperlihatkan taringnya pada yang masih gulita dan
mulai menagih hutang pada sang paman.

Bagian Kedua

"Kemudahan" yang tidak didapat dikota lain adalah
satu-satunya alasan mereka bermukim dan bekerja di
Philadelphia.Bayangkan, tanpa harus mengerti bahasa
Inggris,tanpa harus memiliki pengalaman kerja dan
pendidikan memadai mereka akan diantar-jemput dan
dipekerjakan dipabrik sebagai temporary-worker oleh
job-agent tanpa ikatan dan perlindungan hukum apapun.
Seringkali gaji mereka tidak dibayarkan oleh para
sub-agent yang juga asal Indonesia. Gaji pekerja yang
didapat dari tetesan keringat digunakan untuk modal
judi dan kalau hal ini terjadi, mereka tidak bisa
berbuat apapun menuntut hak mereka.Bagi mereka yang
berusia lebih muda dan mengerti bahasa Inggris,lebih
memilih kerja di toko, rumah-makan atau dry-clean.
Sementara mereka yang tidak punya pilihan selain
bekerja dipabrik trampil menggunakan sikutnya agar
dapat bertahan. Sesama mereka berlomba bekerja sebaik
mungkin dan menjadi 'mo-kong',istilah yang diberikan
Tionghoa Surabaya pada mereka yang sombong dan merasa
superior.Dari sekian ribu orang Indonesia belum ada
satupun yang berhasil mengharumkan nama bangsa dengan
jabatan CEO, wong Indo di Penn State umumnya bekerja
dibagian PPC, ini bukan singkatan Product and Planning
Control melainkan Picking, Packing and Cleaning.


Pekerjaan yang makin langka saat ini membuat para
agent dan sub-agent berkepala besar dan bertindak
sewenang-wenang. Bandingkan dengan upah minimum
$6,75/jam di California, minimum wage di Pennsylvania
hanya $5,15/jam.Anda dapat menghitung keuntungan para
agent, andaikan mereka memiliki 200 orang yang bekerja
melalui mereka dan mengambil keuntungan 2 dollar per
jam. Tidak heran kerap terjadi perselisihan menjurus
kekerasan memperebutkan tulang diantara mereka. Apakah
para agent ini memiliki izin usaha dan membayar pajak?
Belum tentu. Semua gaji pekerja dibayar tunai.

Diantara ribuan orang yang tinggal berhimpitan dalam
beberapa blok diselatan kota (south Philly),tidak
sedikit yang jeli melihat peluang usaha. tercatat ada
belasan usaha catering yang menawarkan masakannya,
$6,00 untuk dua macam lauk dikirim langsung hingga
pintu apartemen tanpa harus bayar uang tips. Sementara
beberapa orang lainnya lebih suka mengkhususkan diri
dalam satu atau dua macam makanan yang dititipkan pada
grocery store milik orang Indonesia. Ada yang
mengkhususkan pada rujak cingur, pepes, nasi krawu,
tong seng, dll. South Philly telah menjadi kota yang
menawarkan makanan Indonesia terlengkap di Amerika
Serikat. Banyak pondokan yang dihuni orang Indonesia
tidak dilengkapi alat penyedot asap masakan didapur.
Saat musim dingin yang mereka sebut wua-dem udaranya,
seluruh jendela rumah tidak hanya ditutup rapat tetapi
juga disegel dengan kardus dan lembaran plastik untuk
mengurangi rasa adem, kalau sudah begini rambut dan
mantel bulu ala celeb Hollywood yang dipakai beraroma
bawang putih and terasi. Selain bergerak dibidang
makanan, tengoklah iklan-iklan usaha di Mingguan
berbahasa Indonesia, ada jasa potong rambut, jasa
pijat hingga sopir taksi gelap wong jowo yang bernama
Andi Lau.

Buruh migran asal Indonesia umumnya bekerja lima hari
per minggu namun demikian banyak diantara mereka yang
mengejar 'ote' alias over-time bekerja belasan jam per
hari, tujuh hari per minggu. Yang ini biasanya akan
merepotkan kawan satu kost jika jatuh sakit, beberapa
orang bahkan menemui ajalnya di Philadelphia.

Bagian Ketiga


Hari Sabtu dan Minggu biasanya digunakan untuk membeli
kebutuhan sehari-hari, mencuci pakaian, menyantap menu
empat sehat lima sempurna diresto buffet, jalan-jalan
ke Chinatown atau mengadu peruntungan di Ase (Atlantic
City) dinegara bagian New Jersey. Suasana Chinatown
saat weekend mirip pecinan di Indonesia, jika
seseorang melemparkan batu, batu itu pasti akan
mendarat dikepala wong Indo.Biasanya yang dicari di
Chinatown adalah makanan, obat-obatan tradisional atau
menabungkan uang mereka di Asian Bank.Di Chinatown
juga ada resto bernama Joy Tsin Lau, tempat favorit
orang Indonesia yang ketemu jodoh di Philadelphia dan
melangsungkan pesta pernikahan disini. Untuk pergi ke
Atlantic City tidaklah sulit, cukup naik bus Grey
Hound seharga $20,00 PP, sesampainya di casino uang
tiket bus akan dikembalikan pada anda utuh untuk modal
main. Terdapat belasan casino disini dengan segala
macam permainan. Bagi pemain, selain ongkos bus gratis
mereka juga berkesempatan untuk dapat makan minum
bahkan bermalam dihotel bintang lima. Ada beberapa
orang Indonesia yang berpredikat sebagai King and
Queen gamblers di Atlantic City.

Untuk memenuhi kebutuhan informasi terkini dari tanah
air, beredar empat Mingguan berbahasa Indonesia yakni
Kabar Kilat, BUMI, Dunia Kita serta Topik Indonesia.
Yang terakhir ini dicetak dalam bentuk tabloid sarat
gossip skandal sex A-I-A-I. Dari semuanya, Kabar Kilat
yang paling dicari para pembaca karena informatif dan
sajian iklan barisnya yang lengkap.

Dibandingkan komunitas Asia lainnya di Philadelphia
yang kompak dan saling tolong menolong, komunitas
Indonesia tidak demikian. Jargon AMERIKA-MAN! sangat
populer bagi mereka yang meng-Amerika-kan dirinya
yakni tidak mempedulikan sesama orang Indonesia dan
menjadi raja tega. belum ada orang Indonesia yang
menjadi panutan dan ringan tangan untuk memberikan
bantuan tanpa melihat latar belakang SARA kepada
sesama saudara Indonesia yang kesulitan ditanah rantau
ini. Lihatlah iklan baris rumah kost, tidak sedikit
dari ibu kost yang memusuhi
dan tidak mau menerima mereka yang 'urus-surat' untuk
tinggal bersama mereka. Entah bagaimana mereka
mengecek kebenaran identitas calon penghuni kost,
mereka yang 'urus-surat' berusaha untuk mematuhi hukum
imigrasi Amerika, seharusnya para pemilik pondokan
angkat topi bukan sebaliknya. Disaat pekerjaan langka
tidakkah lebih baik (juga bagi kesehatan) jika
pekerjaan double-shift selama 16 jam dilakukan oleh
dua orang yang berlainan?

31 Januari lalu masyarakat Indonesia di Kampung Jawa
dihebohkan oleh isu sweeping oleh petugas imigrasi.
Entah siapa yang memulai dan mendapat bocoran dari
FBI, dari hari kehari isu makin menyeramkan hingga
mereka menanti-nantikan pidato tahunan presiden Bush
di televisi yang konon akan menyinggung masalah
sweeping imigrasi para WNI. Mereka berpikir selain
menyerang Iraq, Bush juga akan menyerang Kampung Jawa
Philadelphia!. AMERIKA-MAN! juga memberikan
keleluasaan akan kebebasan yang berlandaskan
aji-mumpung. Mumpung masih di Amerika, mumpung masih
bisa file bankruptcy, mumpung jauh dari bojo dan
aji-mumpung lainnya yang tidak bisa dilakukan
dikampung halaman.

Dengan semakin banyaknya perusahaan Amerika yang
memindahkan industri manufakturnya ke Tiongkok dan
negara berkembang lainnya, tanpa peningkatan kemampuan
bahasa Inggris dan ketrampilan kerja, sampai kapan
Kampung Jawa Philadelphia akan bertahan ?

 

 
       

 


FastCounter by bCentral