|
 |
|
Oei Tjoe Tat
Maria Hartiningsih
Oei Tjoe Tat (lahir 1922 di Solo, Jawa Tengah,
meninggal dunia 1996 di Jakarta) semasa hidupnya adalah
seorang politikus. Karier politiknya dimulai semenjak lulus
dari Universiteit van Indonesië (sekarang Universitas
Indonesia) di Batavia pada tahun 1948.
Ia terpilih wakil presiden Partai Demokrat Tionghoa Indonesia
(PDTI) pada tahun 1953, bergabung dalam Badan Permusjawaratan
Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) pada tahun 1954 dan
sejak tahun 1960 aktif dalam Partai Indonesia (Partindo)
serta menjadi salah satu pengurus pusatnya.
Pada tahun 1963 ia diangkat menjadi Menteri Negara, dan
kemudian sempat menjadi salah satu anggota Kabinet Dwikora
yang dijuluki sebagai Kabinet 100 menteri. Setelah peristiwa
G30S tahun 1965 Oei ditahan oleh pemerintah Orde Baru dan
dipenjarakan selama 10 tahun, tanpa melalui proses pengadilan
sampai tahun 1976. Pada tahun 1976 Oei akhirnya dikenai
tuduhan terlibat dalam G30S, namun tuduhan itu tidak pernah
terbuktikan. Akhirnya Oei dibebaskan dari tahanan pada tahun
1977.
Memoirnya yang berjudul Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden
Soekarno diterbitkannya pada usianya yang ke-73 untuk memperingati
pesta emas hari pernikahannya. Namun pada September 1995,
atas anjuran Fosko '66 (Forum Studi dan Komunikasi '66),
buku ini dilarang beredar oleh pemerintah Indonesia di bawah
Presiden Soeharto. Jaksa Agung setuju dan mengatakan bahwa
buku ini akan "meracuni pikiran generasi muda".
"Tinggalkan Warisan Pengalaman bagi Generasi
Muda"
Ia seorang Menteri Negara di jaman Demokrasi
Terpimpin. Sebuah jabatan strategis dalam pemerintahan Soekarno.
Dalam kariernya sebagai menteri sering diserahkan tugas-tugas
yang teramat penting. Seperti dalam Konfrontasi dengan Malaysia,
ia memegang posisi kunci yang
menjalankan silent mission untuk menghubungi orang-orang
di Negeri Jiran
itu yang bisa bersekutu dengan Indonesia.
Sebagai seorang intelektual keturunan Tionghoa yang berpikir
lurus, Soekarno tak khawatir akan dikhianati. Sebab tak
mungkin orang ini memiliki potensi massa untuk
melakukan kudeta.
Kata Soekarno suatu kali, "...kamulah yang saya pilih,
terutama karena kamu keturunan Tionghoa. Tidak ada satu
jenderalpun akan menuduh kamu ngimpi jadi presiden menggantikan
saya. AD juga tidak akan mencurigai kamu..." Wajar
pula, jika Soekarno menampilkan sisi politis paling banyak
di mata dia, ketimbang di hadapan pembantu-pembantu yang
lain.
Ia memahami betul tindakan-tindakan politik Soekarno. Soekarno
memang dekat dengannya. Mungkin karena itulah, ia harus
mendekam selama sebelas tahun dalam penjara Orde Baru. Ia,
tahu cukup banyak.
Beruntung sekali, orang ini amat mudah dihubungi. Di rumahnya
yang sederhana di kawasan Menteng, kami mewawancarainya
selama lebih dari jam - sampai ludes semua suguhan cemilan
dan sirup yang disediakan buat kami. Hanya dengan modal
membaca otobiografinya - "Oei Tjoe Tat Pembantu Presiden
Soekarno" yang baru-baru ini digugat oleh Fosko '66
- kami melakukan dialog yang cukup seru.
Kami seolah-olah masuk kembali dalam situasi 'ramainya'
Orde Lama melalui
tuturannya. Ia jelaskan betapa sulitnya pemerintah Soekarno
harus mengambil keputusan dari berbagai situasi 'luar' dan
dalam' negeri' yang selalu mendesak. Ia cerita tentang apa
yang didengar dan dilihatnya. Tentang G30S, tentang CIA,
juga tentang memoarnya itu.

Sebagai orang yang hidup dalam dua periode besar pemerintahan
- Orla dan Orba - ia memang seorang saksi sekaligus bagian
dari sejarah. Mengikuti ceritanya, tidak membuat kita merasa
harus mengutuk sejarah. Tapi mendorong kami untuk mencari
lebih banyak lagi potret-potret sejarah yang hilang, mendorong
kami untuk belajar arif setelah melihat situasi-situasi
khas, sejenak ke belakang dan, mendorong kami untuk juga
menjadi pelaku sejarah. Demi melengkapi proses panjang sejarah
pembentukan bangsa ini yang belum selesai. Yang takkan pernah
selesai. Namun, yang justru memberi kesempatan yang sama
bagi semua generasi untuk terlibat dalam proses panjang
ini. Hal yang berat memang, terlebih bila melihat potret
diri bangsa kita saat ini. Prihatin.

Tapi, kita harus segera mulai. Baiklah, sebelum melangkah
kita berdialog dulu dengan Oei Tjoe Tat. Berdialog dengan
sejarah.
Belakangan ini gejala de-Soekarnoisasi tampaknya mulai mencuat
lagi. Bagaimana Pak Oei melihat ini ?

Oei Tjoe Tat (OTT):
Yah, saya kira kalo itu sengaja dilakukan, itu kan politis.
Wajar dalam sejarah orang/kelompok yang duduk dalam kekuasaan
itu tidak rela melepaskan kekuasaan. Kalo bisa terus menerus
kuasa. Saya sendiri juga, saya kira bila punya kelompok
lalu (ingin) berkuasa selama mungkin. Tentunya segala yang
katakanlah tidak sesuai diantara kita, kita cegah. De-sukarnoisasi
juga begitu dong.
Tanya :
Tapi kenapa harus dengan mendiskreditkan Sukarno 'kan bisa
saja Orba menunjuk kan bukti kelebihannya dalam pengadaan
beras, dsb...
OTT:
Ini yang saya tidak setuju. Cara-caranya yang saya ndak
mengerti.
Tanya :
Ada pendapat yang bilang, usaha-usaha untuk mengangkat kembali
nama Soekarno hanyalah upaya politicking dari kelompok tertentu.
Seperti bertemunya Gus Dur-Mega dalam haul ke makam Bung
Karno misalnya.
OTT:
(Katanya pengerahan massa, ya?) Ya itu, masing-masing punya
pendapat. Sayapun punya pendapat lain sama sekali. Saya
pikir kalau seorang punya keluarga, harus dihormati. Tapi
kalau seorang pemimpin bangsa lebih harus dihormati. Dan
orang-orang tak pantas mencari hal-hal di luar itu. Itu
memang betul seperti yang diucapkan Gubernur Jatim (Basofi
Sudirman-red.), "Sukarno untuk bangsa." Tapi kita
jangan pake kata-kata itu untuk mengecilkan Sukarno, untuk
de-Sukarnoisasi, untuk menghilangkan Sukarno.
Kok, takut sama orang sudah mati. Pake poster segala ndak
boleh. Saya ndak ngerti itu. Cara-cara itu saya ndak ngerti.

Tanya :
Ada yang bilang karena kepemimpinan Orba sekarang orientasinya
sangat elitis, sehingga masyarakat yang tidak lagi dijadikan
'subyek' dalam pembangunan,
kemudian mencari figur yang lain. Ternyata figur yang terdekat
adalah Sukarno, karena dia cukup populis.
OTT:
Bahwa orang membandingkan Orba-Orla saya kira wajar. Apakah
perbandingannya itu tepat atau tidak penilaiannya, itu soal
lain. Orang yang duduk dalam kursi yang enak tentunya akan
bilang ini lebih bagus dari dulu. Sangat subyektif. Tentunya
saya sendiri akan bilang saya juga sangat subyektif. Makanya,
saya bilang buku ini sangat subyektif (sambil mengacungkan
buku otobiografinya).
Tanya :
Tapi begini Pak Oei, sampai sekarang orang melihat Orla
itu dengan berbagai pendapat, versi dan interpretasi. Ada
yang bilang pada saat Orla, realitas sosial-ekonomi katanya
kacau. Sementara ada yang bilang ini adalah konsekuensi
logis dari program-program politik ekonomi yang dipilih
oleh Sukarno ketika kita sedang menghadapi Nekolim dsb.
Nah, Pak Oei sebagai seorang yang pada saat itu menjabat
sebagai menteri tentunya tahu bagaimana sebenarnya saat
itu.
OTT:
Begini ya. Saya ini pernah menjadi pelaku politik. Di luar
kemampuan saya. Tapi ditakdirkan pernah menjadi pelaku politik.
Disamping pelaku politik kita mengenal pengamat politik.
Pengamat politik melihat segala sesuatu itu dari... Mungkin
lebih obyektif, dari agak jauhan... Jarak jauh dalam arti
fisik atau dalam arti waktu.

Sehingga pengamat politik itu secara emosial
tidak terikat. Maka waktu orang-orang ini, antara lain,
membuat buku "Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai"
dan macam-macam lagi, saya pernah menulis surat pembaca
ke Tempo. Tapi karena saya menulis itu, Tempo segera mendapat
teguran keras.
Saya menulis begini: sebaiknya semua orang Indonesia, kalau
menulis tentang Soekarno itu, harusmenahan diri, tidak boleh
memaki-maki, tidak terlalu memuji. Kalau mau menulis Soekarno,
lebih baik kita membaca karya pakar-pakar luar negeri, dari
pada orang-orang kita. Seperti saya sendiri, emosional.
Karena saya terlibat langsung dan saya merasakan langsung
segalanya. Mungkin saya memuja-muja Bung Karno atau apa.
Tapi, kalau seorang Prof. Daniel S. Lev, atau Ben Anderson,
Wertheim atau siapa saja di luar negeri, Indonesia 'kan
sebagai negara asing bagi mereka. Mereka tidak involve,
mereka lebih baik.
Saya bilang begitu... Lha, kalau orang Indonesia mau menulis
tentang Sukarno secara 50 tahun lagi. Karena surat itu,
segera Tempo ditegur keras.
Padahal saya pernah empat kali mengirim surat pembaca pada
Tempo, tapi tidak ditegur. Saya memuji Hatta tidak ditegor.
Saya cerita tentang Marshall Green tidak ditegor. Ketika
saya tidak membela BK, tapi cuma membela obyektifitas, itu
ditegor..
Jadi beda antara pengamat politik dan pelaku politik. Contoh,
Arief Budiman yang sekarang sangat dekat dengan saya (Prof.
Lev pernah meminta Arief untuk menyunting buku Pak Oei.
Hal yang mengejutkan bagi Pak Oei. Setahunya, Arief adalah
orang yang membantu 'terdongkelnya' Soekarno. Sedangkan
ia sendiri adalah pendukung Soekarno. "Jadi memang
ndak bisa ketemu." ). Ternyata, Arief
sebelum berangkat ke Amerika dan setelah datang dari Amerika,
itu berubah.
Setelah dia membuat desertasi tentang Allende, berubah (Desertasi
ini yang memaparkan keterlibatan CIA dalam penggulingan
Presiden Chilli Salvador Allende, kini sudah diterbitkan
dalam bentuk buku-red.). Saya mau katakan, orang bisa berubah.
Pak Oei pun menceritakan bagaimana ia kemudian bertemu dengan
Arief Budiman. Sekembalinya dari AS, Arief menelpon Pak
Oei dan memperkenalkan dirinya. Menurut Arief ia disuruh
oleh Prof. Lev untuk menghubungi Oei Tjoe Tat. Tapi, ketika
baru bertemu dengan Pak Oei, Arief langsung 'menyerang',
"Pak Oei ini sebagai seorang intelektual, kok mem-bebek
pada Soekarno yang otoriter?"
"Dikasih salvo begitu, saya malah senang," ujar
Pak Oei. Baginya memang lebih baik orang jangan terlalu
memuji-muji, tapi berdialog. Dan, belum lama ini, kebetulan
Pak Oei diundang dalam kegiatan diskusi di Jawa Tengah yang
juga dihadiri oleh Arief Budiman. Pada waktu itu, Arief
kembali menanyakan mengapa sewaktu di Yogya dulu, Bung Karno
lebih memilih ditawan oleh Belanda ketimbang
ikut ke hutan seperti yang dilakukan oleh Sudirman.
Juga ketika istana dikepung suatu ketika, menurut sumber
yang dipercaya Arief, Soekarno ketika itu malah melarikan
diri. Untuk peristiwa di istana, hal ini dijawab oleh Pak
Oei, yang melihat sendiri peristiwa di istana itu, "saya
tidak mendapat kesan - mataku lho - Soekarno sama sekali
ndak gugup."
Pak Oei lalu menanyakan pada Arief, kalau ia mengenal Zulkifli
Lubis. Orang ini - Zulkfili - adalah soerang tentara yang
dikenal sebagai salah satu 'bapak' intel di Indonesia, pernah
ditahan Soekarno dan yang dikatakan menjadi otak pelemparan
granat terhadap Soekarno di Cikini dulu.
Beberapa bulan sebelum dia meninggal, sempat bercerita tentang
Soerkarno. Dia berkata pada Pak Oei, "kalau orang berkata
bahwa Soekarno dan Hatta sebenarnya takut ikut gerilya,
tapi lebih senang ditahan Belanda, itu tidak fair."
Karena dalam cerita Zulkifli, ketika itu Soekarno dan Hatta
bertanya pada pimpinan gerilya, "ini keadaan darurat,
jadi keselamatan RI ini dalam tangan anda semua.

Kalian memutuskan saya dan Hatta ikut kalian ke hutan, apa
kita harus tetap di
istana?" Hal yang dijawab oleh TB Simatupang (alm.),
"Bapak Presiden dan
Wakil Presiden harus tinggal di istana." Namun, oleh
Zulkifli Lubis, pendapat Simatupang ini ditentang.
Karena Lubis telah menyiapkan pasukan untuk mengamankan
Presiden dan Wakil Presiden. Akhirnya, karena Simatupang
berpangkat lebih tinggi, pendapatnyalah yang dijalankan.
Dengan cerita ini, Pak Oei menyatakan kepada Arief Budiman,
"bila tidak mengenal data ini, jangan mengatakan Soekarno
dan Hatta itu pengecut."
Ada hal menarik yang juga diceritakan tentang Arief oleh
Pak Oei. Dalam diskusi di atas, Pak Oei menyatakan salutnya
kepada orang-orang semacam Arief yang penuh idealisme dalam
demonstrasi di awal tahun naiknya Orde Baru. Mereka yang
berpikir bahwa Orla adalah jelek dan harus diganti dengan
pemerintahan baru. Mereka ini, berani berkorban. Karena
itu Pak Oei berkata pada Arief, "kamu semua pahlawan,
berani bergerak sendiri."
"Ndak. Kami ini dihasut tentara," jawab Arief.
Ada lagi. "Ini mungkin takdir Allah," katanya.
Sebab semua orang tahu, Soe Hok Gie, adiknya Arief Budiman
yang memimpin demonstrasi dan pembakaran di rumah Oei.Hal
yang juga dikomentari oleh Arief, "Iya,itu adik saya
belum berpengalaman, belum tahu siapa Pak Oei."
"Arief Budiman itu memang orangnya fair, jujur,"
tambah Oei menetralisir.]
Tanya :
Mengenai keadaan ekonomi seputar Orla...
OTT:
Jelas, saya bukan ekonom. Saya menulis buku ini (memoarnya-red.),
sebetulnya tidak dengan rela. Tapi karena Romo Mangunwijaya
dan Kyai Abdurrahman Wahid. Dua orang ini bilang pada saya:
Karena Pak Oei sudah tua jadi jelas sudah tidak bisa mengabdi
lagi kepada negara.
Satu-satunya yang harus diperbuat adalah menulis tentang
pengalaman.Pengalaman tak boleh dibawa ke liang kubur, biar
tinggalkan sebagai warisan bagi generasi muda. Bagaimana
generasi muda menilainya, itu bukan urusan Pak Oei. Itu
kata Romo Mangun. Gus Dur, lain kata. Dia bilang pada saya:
Takdir itu menempatkan Pak Oei sebagai bagian (?) dari sejarah
bangsa ini. Jadi, semua pengalaman itu tidak milik pribadi.
Tapi, milik seluruh bangsa. Akhirnya segala sesuatu itu
saya tulis. Artinya yang saya tulis itu betul. Apa itu enak
atau tidak enak, kalau saya pandang itu betul, saya tulis.
Dengan catatan, tidak semua pengalaman saya, saya tulis...
Kembali pada pertanyaan tadi.
Keadaan ekonomi dulu sama sekarang itu bagaimana? Saya anggap
pertanyaan itu tidak bisa dijawab. Karena situasi dan kondisinya
lain. Bahwa, hari-hari terakhir Orla, inflasi gila-gilaan.
Dan kita selalu defisit. Semua betul.
Dan, Soekarno pribadi sangat kurang pengertiannya dan pekanya
akan soal-soal ekonomi keuangan, itu betul. Secara pribadi.
Bukan berarti Soekarno pribadi tidak mau memperhatikan soal-soal
itu. Memang. Dia tidak punya satu 'PT' pun. Lain dari pada
presiden kita sekarang...
Kembali ke soal tadi. Ini, Chaerul Saleh.
Dia menteri koordinator bidang keuangan ekonomi dsb. Ia
mengatakan berkali-kali, 80% dari budget negara itu diperuntukkan
untuk ABRI. Untuk perjuangan politik. Perebutan Irian Barat.
Memadamkan pemberontakan-pemberontakan. Bagaimana kalau
hanya 20% dari budget kita digunakan untuk pembangunan dan
lain-lain. Tidak bisa disamakan dengan keadaan sekarang.
Dan, dulu karena Soekarno dalam perang dingin antara Sovyet
dan Amerika, dianggap sebagai anak yang bengal, - beda dengan
sekarang yang dianggap good boy -, kalau bisa kedua negara
itu mau 'menyentik' Soekarno.
Soekarno ini paling menjengkelkan, bandel. Dia tidak mau
ke sana, tidak mau ke sini.
Padahal, Amerika minta kalau bisa Indonesia ini memihak.
Kaya raya alamnya. Lokasinya luar biasa strategis. Siapa
yang menguasai Indonesia menguasai Asia.
Siapa yang menguasai Asia, menguasai dunia. Mereka cari
akal bagaimana caranya bisa 'menyentik' Soekarno. Jadi,
soal ekonomi, betul apa yang dikatakan... (Pak Oei, ingin
menjelaskan situasi dimana dua raksasa dunia, yang karena
posisi Indonesia benar-benar "non blok", tidak
mau memberikan bantuan ekonomi bagi Indonesia.)
Bedanya dengan sekarang. Kita lihat lapangan-lapangan golf.
Tapi saya tanya, apakah lapangan golf itu berarti pembangunan?
Padahal petani-petani diusir dari
lahan-lahannya. Lalu pembangunan itu artinya apa?
Kalau kita membangun jalan tol, membangun apa, tidak? Ya,
membangun dong. Tapi bagi saya yang punya mobil. Buat pedagang
asongan, apa itu membangun? Bagi mereka pakai tol atau tidak,
sama saja toh? Jadi tergantung 'pembangunan' itu bagi siapa.
...Kalau kita berbicara dengan bahasa Indonesia ini, hati-hati.
Seperti 'pengamanan'. Saya 'diamankan'. Tapi,
kok telpon saya diputusin. Revolver saya kok dicabut. Sehingga
saya tepaksa 'nulis pada 'Harto. Ada loh itu. Jadi, bahasa
Indonesia ini saya ndak 'ngerti. 'Pengamanan' itu apa. 'Pembangunan'
itu apa. 'Pancasila' itu apa, saya juga nggak 'ngerti.
Tanya :
Mengenai anggapan bahwa Soekarno itu totaliter, bagaimana?
Bukankah ia pernah membubarkan konstituante, yang menimbulkan
kesan seolah-olah kekuasaan ini tersentralisir di tangannya?
OTT:
Kita sementara, kembali kepada pembubaran konstituante.
Saya sementara ini sependapat, kurang lebih, dengan Adnan
Buyung Nasution bahwa pembubaran konstituante itu merupakan
set back bagi perkembangan sejarah demokrasi di Indonesia.
Saya setuju dengan pendapat itu. Tapi, saya tidak setuju
bila dikatakan bahwa pembubaran konstituante itu dilakukan
Soekarno karena kehendaknya untuk berkuasa. Seperti dikemukakan
antara lain oleh Arief Budiman pada waktu itu. Arief Budiman
mengatakan Soekarno itu juga sama otoriter, sebab dia membubarkan
konstituante hasil pemilihan rakyat. Dan menurut keterangan
yang dia dapat, "Soekarno dan Nasution 'AD'lah yang
mendesak supaya konstituante
dibubarkan." Dia tanya pada saya, "Pak Oei, betul
apa ndak itu?" Saya bilang saya ndak tahu. Tapi, bahwa
konstituante dibubarkan, ini sampai menimbulkan clash di
kalangan BAPERKI - suatu ormas yang saya sendiri mempunyai
kedudukan penting.
Tapi, karena itulah Yap Thiam Hien berang (?). Dia mengundurkan
diri dari pengurus pusat karena tidak bisa menyetujui pembubaran
konstituante. Yap Thiam Hien ini advocaat dalam kantor saya.
Satu dompet dengan saya. Dia juga kawan seperjuangan di
Sin Ming Hui dan di BAPERKI. Tapi waktu di BAPERKI, kita
'pecah' dalam soal konstituante. Saya berpendapat seorang
demokrat, seorang juriist, sehingga dia cenderung pada formalisme.
Saya juga seorang juriist, seorang demokrat. Tapi, kalau
kita duduk dalam konstituante, kita juga orang politik.
Nah, kenyataannya pada saat sampai kepada penentuan negara
ini dasarnya apa, Islam atau Pancasila, tidak ada satu pihakpun
yang bisa meraih 2/3 suara yang dibutuhkan menurut UU supaya
bisa 'gol'. Jadi, mau negara Islam tidak bisa, mau negara
Pancasila tidak bisa.
Meskipun, lebih dari separuhnya mendukung Pancasila. Yang
mendukung Pancasila adalah partai-partai besar. PNI paling
gede, PKI, kemudian IPKI, Partai Katholik, Partai Kristen
Indonesia, MURBA, BAPERKI sendiri dan banyak lagi.
Yang Islam, didukung yaitu NU, MASYUMI, PSII, dsb. Kemudian,
Perdana Menteri Juanda (alm.) mengusulkan kembali ke UUD
'45. Juanda dan tentara lho. Dan, Bung Karno setuju. Itu
kemudian ditolak juga oleh seluruh konstituante. Jadi, bagaimana
ini.
Padahal, di sekitar kita, pemberontakan-pemberontakan, PRRI-PERMESTA
di mana-mana. Dan, kita ketahui armada Inggris dan Amerika
itu berkeliaran.
Jadi ini keadaan darurat. Kemudian, partai-partai yang pro
Pancasila itu mengata kan, "karena ini macet dan kita
tidak mau terima uang buta, pendeknya mulai besok kita tidak
datang lagi ke sidang kita, tidak mau terima gaji. (Seandainya
DPR kita juga begitu, ck, ck, ck... Tentu nggak banyak pemborosan)"
Artinya, karena lebih dari separuh tidak ada di konstituante,
tidak bisa sidang. Jadi, pemerintah dipojokkan dalam situasi
itu. Kalau Soekarno ndak bubarkan itu bagaimana?
Wong itu, orang-orang nggak mau datang. Seperti BAPERKI,
semua tidak datang. Saya juga nggak mau. Hanya Yap Thiam
Hien mau datang. Nah, keadaan ini kan
harus ada suatu akhir toh. Kemudian Soekarno membubarkan.
Ini 'pelakunya' Soekarno. Kita yang hidup sekarang, bisa
bilang, wah ini keliru. Tapi, kalau ndak dibubarkan bagaimana?
Apa uang negara itu mesti dihabiskan? Sampai kapan itu saya
tidak tahu.
Tanya :
Pemberontakan bisa menggunakan situasi itu. Dan yang penting
itu (ancaman) Amerika. Di jaman itu we have to fight, kita
mesti berjuang untuk to be or not to
be. Bukan soal kemakmuran saja. Tapi, untuk 'ada republik'
atau 'tidak'. Ada Indonesia atau tidak. Jadi persoalan di
jaman itu jelas, ya?
OTT:
Ya. Akhirnya golongan Islam juga setuju untuk kembali ke
UUD '45.
Bagi saya, Oei Tjoe Tat dan orang-orang BAPERKI,
mengakui UUD '45 lebih primitif dari UUDS tahun '50. Jadi
kalau kita kembali ke UUD '45, kita mundur. Tapi dalam hati
kecil, biarlah kita muncur yang penting (Indonesia) eksis.
Soal hak asasi dan sebagainya, lain kali deh. Kalau Pancasila
sudah dikukuhkan, (yang lainnya) gampang.
Pilihan yang memang sulit. ... Pecah BAPERKI karena itu.
Yap Thiam Hien memang jujur. Tapi, saya bilang, "you
duduk di kursi sini (konstituante-red.) tidak sebagai
juriist, sebagai orang politik." Itu bedanya dengan
saya. Makanya saya setuju dengan Adnan Buyung Nasution.
Ia memahami bahwa keadaan itu memaksa Soekarno dan teman-teman
lain membubarkan konstituante. Tapi menurut dia, tetap hal
itu disesalkan, karena ini set back bagi demokrasi.
Tanya :
Mengenai MANIPOL-USDEK, bukankah ini merupakan doktrin yang
sepertinya
terlalu dipaksakan ke benak rakyat. Mengapa hal ini mesti
dilakukan Soekarno?
OTT:
Saya tidak akan langsung menjawabnya. Kalau sekarang diadakan
penataran Pancasila berkali-kali dan orang komentarnya akan
muncul, itu pasti. Jaman dulu, Roeslan Abdulgani itu juru
bicara MANIPOL-USDEK. Dulu, ada sementara orang yang mengejek
itu, "ketimbang indoktrinasi, mbok disediakan saja
ndok sama terasi." Soekarno ndak marah, dia ketawa.
Roeslan juga ketawa. Mereka semua masih 'ngerti humor.
Nah, di mana ada humor di situ ada soal kemanusiaannya.
Ada setitik demokrasi. Sekarang kamu coba bilang, "wah
penataran itu hanya buang-buang uang saja." Bisa dibilang
mau jadi komunis nanti.
Dulu, suasananya agak rileks. Kalau kita menteri-menteri
tiap Kamis datang di gedung BI Pancuran, apa ada orang pake
dasi? Tidak. Pake sandal jepit malah. (Beda dengan sekarang
yang menurut Pak Oei "serba serem, serba angkuh."
Dulu kalau Soekarno datang sebelum sidang dimulai, menteri-menteri
ditaboki, "hey ke mana saja kowe?" Suasananya
lain.
Dalam konstituante pun, bila sedang memasuki sidang, maka
akan muncul perdebatan yang hebat. "Sampai melotot-melotot
matanya." Tapi, pada saat sidang bubar, masing-masing
"orang PKI rangkul-rangkulan dengan orang MASYUMI.
Orang NU dengan PNI, orang PARTINDO dengan orang NU".
"Jadi di luar sidang, semua saudara," Pak Oei
menyimpulkan.)
Tanya :
Mengenai konfrontasi dengan Malaysia. Dalam memoar Pak Oei,
peran Bapak
cukup besar dalam menjalankan silent mission ke kelompok-kelompok
di Malaysia yang menentang Tengku Abdul Rahman. Bisa diceritakan
lebih banyak lagi seputar konfrontasi ini?
OTT:
Kalau obyektif, kita diganggu oleh Inggris lebih dahulu
dari pada kita konfrontasi dengan Malaysia. Itu betul. Bahwa
Inggris sebagai pion Amerika menggunakan taktik untuk mengganggu
Indonesia. Ada seorang Jenderal yang - entah masih hidup
atau sudah nggak bisa bicara -, Jenderal Darto (?) dan Pak
Hario. Di jaman militer mereka tahu, bahwa penduduk di Kalimantan
Utara tidak mengenal Merah Putih. Mereka mengenal lagunya
God Save The King.
Tapi kita tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk sampai
ke sana. Bagian-bagian itu secara de facto dikuasai oleh
Inggris. Jadi, tanpa konfrontasi kita ini sudah diganggu
oleh Inggris. Tentang pembentukan Malaysia dan diberikannya
tempat pada Malaysia dalam Dewan Keamanan PBB, bagi Soekarno
ini tidak bisa. Tengku Abdul Rahman itu juga memang suka
menyinggung martabat Soekarno. Sedangkan Soekarno orangnya
tidak bisa diremehkan.
(Di bukunya menurut Pak Oei hal ini belum dia tuliskan,
"memang ada hal yang tidak bisa dikemukakan dulu, ada
banyak pertimbangan.") ...(Kembali ke soal kebijakan
konfrontasi) waktu saya mau diangkat jadi menteri, saya
mendekati beberapa menteri. Leimena yang paling banyak.
Beliau dikenal sebagai seorang Kristen yang jujur dan setia.
Saya anggap beliau sebagai kakak yang lebih tua.
Sebagai manusia yang baik dalam hal moral
- bukan politis. Saya tanya sama dia, "Om Yo, kalau
saya jadi menteri itu, tugasnya apa dan bagaimana saya mesti
berlaku?" Saya ini kan menteri negara tidak punya departemen.
Bos saya langsung Soekarno. Om Yo bilang, "Rasio saya
sangsi apakah rasional kita konfrontasi dengan Malaysia.
Sebab Malaysia itu berarti England. Dan england, always
rules the better, always rules the world.
Padahal RI ini keadaannya kacau balau. Karena saya mempercayakan
diri pada political sense Soekarno yang sangat tajam, insting
saya mengatakan, tapi otak saya tidak bisa menerima. Tapi
kalau kamu ada sesuatu yang secara prinsip tidak setuju,
lebih baik tidak ikut dan mengundurkan diri. Dari pada seperti
banyak menteri yang diam-diam tapi 'nyabot dari dalam."
Om Yo sendiri sangsi. Saya sendiri tadinya kurang jelas.
Tapi, I did my best. Saya lihat bila kita melakukan sesuatu
di
atas Malaysia, mereka telah mengetahui lebih dahulu. Sehingga
penerjun-penerjun yang kita drop, itu ditangkapi. Jadi,
jelas di dalam kompi ada pengkhianatan. (Mengenai konfrontasi
ini, Pak Oei mengakui bahwa, terlepas dari berbagai argumen
yang dikemukakan Soekarno tentang pentingnya konfrontasi
dengan Malaysia, "kita memang tidak cukup siap.")
Waktu saya sering ke luar negeri dalam rangka konfrontasi,
saya persiapkan itu. Dan, saya punya bukti-bukti yang saya
laporkan kepada ketika bahwa intel-intel yang ada sekarang
(di jaman Orba-red.)
sebetulnya harus menghormatinya. "Anggaplah sebagai
saudara tua." Ia tahu tugas intelejen itu apa, termasuk
untuk mencari-cari kesalahan orang. Dalam pengalamannya,
peran pemuda Indonesia yang belajar di luar negeri, seringkali
lebih efektif sebagai 'intelejen' baginya, ketika ia berkunjung
ke luar negeri. Ia rasakan itu, terutama ketika era konfrontasi
sedang berlangsung.)
Tanya :
Silent Mission selain itu, apa?
OTT:
Saya ditugasi untuk, antara lain, mencegah buruh-buruh Jepang
mengangkut senjata-senjata ke Malaysia. Saya harus meyakinkan
mereka. Akhirnya, mereka menolak mengangkut senjata dari
Jepang ke Malaysia.
Tapi, saya diam-diam waktu itu. Supaya pemerintah Jepang
tidak mengetahui. Makanya sewaktu terjadi G30S dan nama
saya dicoret-coret di tembok, "Oei Tjoe Tat menjual
Indonesia kepada Malaysia." Marah saya. Kemudian saya
telpon Jenderal Soegiharto, intel dari Jaksa Agung dan AD.
Saya bilang padanya, "bagaimana nih, menjelaskannya?"
Dia Jawab, "ndak bisa dong. Pak Oei tidak boleh menjelaskan
karena itu resiko dari tugas dan jabatan." Saya bilang,
"clear-kan dong. Supaya rakyat tahu. Kasih keterangan
pada pers." Tetapi tetap ndak bisa.
|