Oei Tjoe Tat


Maria Hartiningsih

Oei Tjoe Tat (lahir 1922 di Solo, Jawa Tengah, meninggal dunia 1996 di Jakarta) semasa hidupnya adalah seorang politikus. Karier politiknya dimulai semenjak lulus dari Universiteit van Indonesië (sekarang Universitas Indonesia) di Batavia pada tahun 1948.
Ia terpilih wakil presiden Partai Demokrat Tionghoa Indonesia (PDTI) pada tahun 1953, bergabung dalam Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) pada tahun 1954 dan sejak tahun 1960 aktif dalam Partai Indonesia (Partindo) serta menjadi salah satu pengurus pusatnya.
Pada tahun 1963 ia diangkat menjadi Menteri Negara, dan kemudian sempat menjadi salah satu anggota Kabinet Dwikora yang dijuluki sebagai Kabinet 100 menteri. Setelah peristiwa G30S tahun 1965 Oei ditahan oleh pemerintah Orde Baru dan dipenjarakan selama 10 tahun, tanpa melalui proses pengadilan sampai tahun 1976. Pada tahun 1976 Oei akhirnya dikenai tuduhan terlibat dalam G30S, namun tuduhan itu tidak pernah terbuktikan. Akhirnya Oei dibebaskan dari tahanan pada tahun 1977.
Memoirnya yang berjudul Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno diterbitkannya pada usianya yang ke-73 untuk memperingati pesta emas hari pernikahannya. Namun pada September 1995, atas anjuran Fosko '66 (Forum Studi dan Komunikasi '66), buku ini dilarang beredar oleh pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soeharto. Jaksa Agung setuju dan mengatakan bahwa buku ini akan "meracuni pikiran generasi muda".

"Tinggalkan Warisan Pengalaman bagi Generasi Muda"

Ia seorang Menteri Negara di jaman Demokrasi Terpimpin. Sebuah jabatan strategis dalam pemerintahan Soekarno.
Dalam kariernya sebagai menteri sering diserahkan tugas-tugas yang teramat penting. Seperti dalam Konfrontasi dengan Malaysia, ia memegang posisi kunci yang
menjalankan silent mission untuk menghubungi orang-orang di Negeri Jiran
itu yang bisa bersekutu dengan Indonesia.
Sebagai seorang intelektual keturunan Tionghoa yang berpikir lurus, Soekarno tak khawatir akan dikhianati. Sebab tak mungkin orang ini memiliki potensi massa untuk
melakukan kudeta.
Kata Soekarno suatu kali, "...kamulah yang saya pilih, terutama karena kamu keturunan Tionghoa. Tidak ada satu jenderalpun akan menuduh kamu ngimpi jadi presiden menggantikan saya. AD juga tidak akan mencurigai kamu..." Wajar pula, jika Soekarno menampilkan sisi politis paling banyak di mata dia, ketimbang di hadapan pembantu-pembantu yang lain.
Ia memahami betul tindakan-tindakan politik Soekarno. Soekarno memang dekat dengannya. Mungkin karena itulah, ia harus mendekam selama sebelas tahun dalam penjara Orde Baru. Ia, tahu cukup banyak.
Beruntung sekali, orang ini amat mudah dihubungi. Di rumahnya yang sederhana di kawasan Menteng, kami mewawancarainya selama lebih dari jam - sampai ludes semua suguhan cemilan dan sirup yang disediakan buat kami. Hanya dengan modal membaca otobiografinya - "Oei Tjoe Tat Pembantu Presiden Soekarno" yang baru-baru ini digugat oleh Fosko '66 - kami melakukan dialog yang cukup seru.
Kami seolah-olah masuk kembali dalam situasi 'ramainya' Orde Lama melalui
tuturannya. Ia jelaskan betapa sulitnya pemerintah Soekarno harus mengambil keputusan dari berbagai situasi 'luar' dan dalam' negeri' yang selalu mendesak. Ia cerita tentang apa yang didengar dan dilihatnya. Tentang G30S, tentang CIA,
juga tentang memoarnya itu.


Sebagai orang yang hidup dalam dua periode besar pemerintahan - Orla dan Orba - ia memang seorang saksi sekaligus bagian dari sejarah. Mengikuti ceritanya, tidak membuat kita merasa harus mengutuk sejarah. Tapi mendorong kami untuk mencari lebih banyak lagi potret-potret sejarah yang hilang, mendorong kami untuk belajar arif setelah melihat situasi-situasi khas, sejenak ke belakang dan, mendorong kami untuk juga menjadi pelaku sejarah. Demi melengkapi proses panjang sejarah
pembentukan bangsa ini yang belum selesai. Yang takkan pernah selesai. Namun, yang justru memberi kesempatan yang sama bagi semua generasi untuk terlibat dalam proses panjang ini. Hal yang berat memang, terlebih bila melihat potret diri bangsa kita saat ini. Prihatin.


Tapi, kita harus segera mulai. Baiklah, sebelum melangkah kita berdialog dulu dengan Oei Tjoe Tat. Berdialog dengan sejarah.
Belakangan ini gejala de-Soekarnoisasi tampaknya mulai mencuat lagi. Bagaimana Pak Oei melihat ini ?


Oei Tjoe Tat (OTT):
Yah, saya kira kalo itu sengaja dilakukan, itu kan politis. Wajar dalam sejarah orang/kelompok yang duduk dalam kekuasaan itu tidak rela melepaskan kekuasaan. Kalo bisa terus menerus kuasa. Saya sendiri juga, saya kira bila punya kelompok lalu (ingin) berkuasa selama mungkin. Tentunya segala yang katakanlah tidak sesuai diantara kita, kita cegah. De-sukarnoisasi juga begitu dong.
Tanya :
Tapi kenapa harus dengan mendiskreditkan Sukarno 'kan bisa saja Orba menunjuk kan bukti kelebihannya dalam pengadaan beras, dsb...
OTT:
Ini yang saya tidak setuju. Cara-caranya yang saya ndak mengerti.
Tanya :
Ada pendapat yang bilang, usaha-usaha untuk mengangkat kembali nama Soekarno hanyalah upaya politicking dari kelompok tertentu. Seperti bertemunya Gus Dur-Mega dalam haul ke makam Bung Karno misalnya.
OTT:
(Katanya pengerahan massa, ya?) Ya itu, masing-masing punya pendapat. Sayapun punya pendapat lain sama sekali. Saya pikir kalau seorang punya keluarga, harus dihormati. Tapi kalau seorang pemimpin bangsa lebih harus dihormati. Dan orang-orang tak pantas mencari hal-hal di luar itu. Itu memang betul seperti yang diucapkan Gubernur Jatim (Basofi Sudirman-red.), "Sukarno untuk bangsa." Tapi kita jangan pake kata-kata itu untuk mengecilkan Sukarno, untuk de-Sukarnoisasi, untuk menghilangkan Sukarno.
Kok, takut sama orang sudah mati. Pake poster segala ndak boleh. Saya ndak ngerti itu. Cara-cara itu saya ndak ngerti.

Tanya :
Ada yang bilang karena kepemimpinan Orba sekarang orientasinya sangat elitis, sehingga masyarakat yang tidak lagi dijadikan 'subyek' dalam pembangunan,
kemudian mencari figur yang lain. Ternyata figur yang terdekat adalah Sukarno, karena dia cukup populis.
OTT:
Bahwa orang membandingkan Orba-Orla saya kira wajar. Apakah perbandingannya itu tepat atau tidak penilaiannya, itu soal lain. Orang yang duduk dalam kursi yang enak tentunya akan bilang ini lebih bagus dari dulu. Sangat subyektif. Tentunya saya sendiri akan bilang saya juga sangat subyektif. Makanya, saya bilang buku ini sangat subyektif (sambil mengacungkan buku otobiografinya).
Tanya :
Tapi begini Pak Oei, sampai sekarang orang melihat Orla itu dengan berbagai pendapat, versi dan interpretasi. Ada yang bilang pada saat Orla, realitas sosial-ekonomi katanya kacau. Sementara ada yang bilang ini adalah konsekuensi logis dari program-program politik ekonomi yang dipilih oleh Sukarno ketika kita sedang menghadapi Nekolim dsb. Nah, Pak Oei sebagai seorang yang pada saat itu menjabat sebagai menteri tentunya tahu bagaimana sebenarnya saat itu.
OTT:
Begini ya. Saya ini pernah menjadi pelaku politik. Di luar kemampuan saya. Tapi ditakdirkan pernah menjadi pelaku politik. Disamping pelaku politik kita mengenal pengamat politik. Pengamat politik melihat segala sesuatu itu dari... Mungkin lebih obyektif, dari agak jauhan... Jarak jauh dalam arti fisik atau dalam arti waktu.

Sehingga pengamat politik itu secara emosial tidak terikat. Maka waktu orang-orang ini, antara lain, membuat buku "Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai" dan macam-macam lagi, saya pernah menulis surat pembaca ke Tempo. Tapi karena saya menulis itu, Tempo segera mendapat teguran keras.
Saya menulis begini: sebaiknya semua orang Indonesia, kalau menulis tentang Soekarno itu, harusmenahan diri, tidak boleh memaki-maki, tidak terlalu memuji. Kalau mau menulis Soekarno, lebih baik kita membaca karya pakar-pakar luar negeri, dari pada orang-orang kita. Seperti saya sendiri, emosional.
Karena saya terlibat langsung dan saya merasakan langsung segalanya. Mungkin saya memuja-muja Bung Karno atau apa. Tapi, kalau seorang Prof. Daniel S. Lev, atau Ben Anderson, Wertheim atau siapa saja di luar negeri, Indonesia 'kan sebagai negara asing bagi mereka. Mereka tidak involve, mereka lebih baik.
Saya bilang begitu... Lha, kalau orang Indonesia mau menulis tentang Sukarno secara 50 tahun lagi. Karena surat itu, segera Tempo ditegur keras.
Padahal saya pernah empat kali mengirim surat pembaca pada Tempo, tapi tidak ditegur. Saya memuji Hatta tidak ditegor. Saya cerita tentang Marshall Green tidak ditegor. Ketika saya tidak membela BK, tapi cuma membela obyektifitas, itu ditegor..
Jadi beda antara pengamat politik dan pelaku politik. Contoh, Arief Budiman yang sekarang sangat dekat dengan saya (Prof. Lev pernah meminta Arief untuk menyunting buku Pak Oei. Hal yang mengejutkan bagi Pak Oei. Setahunya, Arief adalah orang yang membantu 'terdongkelnya' Soekarno. Sedangkan ia sendiri adalah pendukung Soekarno. "Jadi memang ndak bisa ketemu." ). Ternyata, Arief
sebelum berangkat ke Amerika dan setelah datang dari Amerika, itu berubah.
Setelah dia membuat desertasi tentang Allende, berubah (Desertasi ini yang memaparkan keterlibatan CIA dalam penggulingan Presiden Chilli Salvador Allende, kini sudah diterbitkan dalam bentuk buku-red.). Saya mau katakan, orang bisa berubah.
Pak Oei pun menceritakan bagaimana ia kemudian bertemu dengan Arief Budiman. Sekembalinya dari AS, Arief menelpon Pak Oei dan memperkenalkan dirinya. Menurut Arief ia disuruh oleh Prof. Lev untuk menghubungi Oei Tjoe Tat. Tapi, ketika baru bertemu dengan Pak Oei, Arief langsung 'menyerang', "Pak Oei ini sebagai seorang intelektual, kok mem-bebek pada Soekarno yang otoriter?"
"Dikasih salvo begitu, saya malah senang," ujar Pak Oei. Baginya memang lebih baik orang jangan terlalu memuji-muji, tapi berdialog. Dan, belum lama ini, kebetulan Pak Oei diundang dalam kegiatan diskusi di Jawa Tengah yang juga dihadiri oleh Arief Budiman. Pada waktu itu, Arief kembali menanyakan mengapa sewaktu di Yogya dulu, Bung Karno lebih memilih ditawan oleh Belanda ketimbang
ikut ke hutan seperti yang dilakukan oleh Sudirman.
Juga ketika istana dikepung suatu ketika, menurut sumber yang dipercaya Arief, Soekarno ketika itu malah melarikan diri. Untuk peristiwa di istana, hal ini dijawab oleh Pak Oei, yang melihat sendiri peristiwa di istana itu, "saya tidak mendapat kesan - mataku lho - Soekarno sama sekali ndak gugup."
Pak Oei lalu menanyakan pada Arief, kalau ia mengenal Zulkifli Lubis. Orang ini - Zulkfili - adalah soerang tentara yang dikenal sebagai salah satu 'bapak' intel di Indonesia, pernah ditahan Soekarno dan yang dikatakan menjadi otak pelemparan granat terhadap Soekarno di Cikini dulu.
Beberapa bulan sebelum dia meninggal, sempat bercerita tentang Soerkarno. Dia berkata pada Pak Oei, "kalau orang berkata bahwa Soekarno dan Hatta sebenarnya takut ikut gerilya, tapi lebih senang ditahan Belanda, itu tidak fair." Karena dalam cerita Zulkifli, ketika itu Soekarno dan Hatta bertanya pada pimpinan gerilya, "ini keadaan darurat, jadi keselamatan RI ini dalam tangan anda semua.


Kalian memutuskan saya dan Hatta ikut kalian ke hutan, apa kita harus tetap di
istana?" Hal yang dijawab oleh TB Simatupang (alm.), "Bapak Presiden dan
Wakil Presiden harus tinggal di istana." Namun, oleh Zulkifli Lubis, pendapat Simatupang ini ditentang.
Karena Lubis telah menyiapkan pasukan untuk mengamankan Presiden dan Wakil Presiden. Akhirnya, karena Simatupang berpangkat lebih tinggi, pendapatnyalah yang dijalankan.
Dengan cerita ini, Pak Oei menyatakan kepada Arief Budiman, "bila tidak mengenal data ini, jangan mengatakan Soekarno dan Hatta itu pengecut."
Ada hal menarik yang juga diceritakan tentang Arief oleh Pak Oei. Dalam diskusi di atas, Pak Oei menyatakan salutnya kepada orang-orang semacam Arief yang penuh idealisme dalam demonstrasi di awal tahun naiknya Orde Baru. Mereka yang berpikir bahwa Orla adalah jelek dan harus diganti dengan pemerintahan baru. Mereka ini, berani berkorban. Karena itu Pak Oei berkata pada Arief, "kamu semua pahlawan, berani bergerak sendiri."
"Ndak. Kami ini dihasut tentara," jawab Arief.
Ada lagi. "Ini mungkin takdir Allah," katanya. Sebab semua orang tahu, Soe Hok Gie, adiknya Arief Budiman yang memimpin demonstrasi dan pembakaran di rumah Oei.Hal yang juga dikomentari oleh Arief, "Iya,itu adik saya belum berpengalaman, belum tahu siapa Pak Oei."
"Arief Budiman itu memang orangnya fair, jujur," tambah Oei menetralisir.]

Tanya :
Mengenai keadaan ekonomi seputar Orla...
OTT:
Jelas, saya bukan ekonom. Saya menulis buku ini (memoarnya-red.), sebetulnya tidak dengan rela. Tapi karena Romo Mangunwijaya dan Kyai Abdurrahman Wahid. Dua orang ini bilang pada saya: Karena Pak Oei sudah tua jadi jelas sudah tidak bisa mengabdi lagi kepada negara.
Satu-satunya yang harus diperbuat adalah menulis tentang pengalaman.Pengalaman tak boleh dibawa ke liang kubur, biar tinggalkan sebagai warisan bagi generasi muda. Bagaimana generasi muda menilainya, itu bukan urusan Pak Oei. Itu kata Romo Mangun. Gus Dur, lain kata. Dia bilang pada saya: Takdir itu menempatkan Pak Oei sebagai bagian (?) dari sejarah bangsa ini. Jadi, semua pengalaman itu tidak milik pribadi.
Tapi, milik seluruh bangsa. Akhirnya segala sesuatu itu saya tulis. Artinya yang saya tulis itu betul. Apa itu enak atau tidak enak, kalau saya pandang itu betul, saya tulis. Dengan catatan, tidak semua pengalaman saya, saya tulis... Kembali pada pertanyaan tadi.
Keadaan ekonomi dulu sama sekarang itu bagaimana? Saya anggap pertanyaan itu tidak bisa dijawab. Karena situasi dan kondisinya lain. Bahwa, hari-hari terakhir Orla, inflasi gila-gilaan. Dan kita selalu defisit. Semua betul.
Dan, Soekarno pribadi sangat kurang pengertiannya dan pekanya akan soal-soal ekonomi keuangan, itu betul. Secara pribadi. Bukan berarti Soekarno pribadi tidak mau memperhatikan soal-soal itu. Memang. Dia tidak punya satu 'PT' pun. Lain dari pada presiden kita sekarang...

Kembali ke soal tadi. Ini, Chaerul Saleh. Dia menteri koordinator bidang keuangan ekonomi dsb. Ia mengatakan berkali-kali, 80% dari budget negara itu diperuntukkan untuk ABRI. Untuk perjuangan politik. Perebutan Irian Barat. Memadamkan pemberontakan-pemberontakan. Bagaimana kalau hanya 20% dari budget kita digunakan untuk pembangunan dan lain-lain. Tidak bisa disamakan dengan keadaan sekarang. Dan, dulu karena Soekarno dalam perang dingin antara Sovyet dan Amerika, dianggap sebagai anak yang bengal, - beda dengan sekarang yang dianggap good boy -, kalau bisa kedua negara itu mau 'menyentik' Soekarno.
Soekarno ini paling menjengkelkan, bandel. Dia tidak mau ke sana, tidak mau ke sini.
Padahal, Amerika minta kalau bisa Indonesia ini memihak. Kaya raya alamnya. Lokasinya luar biasa strategis. Siapa yang menguasai Indonesia menguasai Asia.
Siapa yang menguasai Asia, menguasai dunia. Mereka cari akal bagaimana caranya bisa 'menyentik' Soekarno. Jadi, soal ekonomi, betul apa yang dikatakan... (Pak Oei, ingin menjelaskan situasi dimana dua raksasa dunia, yang karena posisi Indonesia benar-benar "non blok", tidak mau memberikan bantuan ekonomi bagi Indonesia.)
Bedanya dengan sekarang. Kita lihat lapangan-lapangan golf. Tapi saya tanya, apakah lapangan golf itu berarti pembangunan? Padahal petani-petani diusir dari
lahan-lahannya. Lalu pembangunan itu artinya apa?
Kalau kita membangun jalan tol, membangun apa, tidak? Ya, membangun dong. Tapi bagi saya yang punya mobil. Buat pedagang asongan, apa itu membangun? Bagi mereka pakai tol atau tidak, sama saja toh? Jadi tergantung 'pembangunan' itu bagi siapa. ...Kalau kita berbicara dengan bahasa Indonesia ini, hati-hati.

Seperti 'pengamanan'. Saya 'diamankan'. Tapi, kok telpon saya diputusin. Revolver saya kok dicabut. Sehingga saya tepaksa 'nulis pada 'Harto. Ada loh itu. Jadi, bahasa Indonesia ini saya ndak 'ngerti. 'Pengamanan' itu apa. 'Pembangunan' itu apa. 'Pancasila' itu apa, saya juga nggak 'ngerti.
Tanya :
Mengenai anggapan bahwa Soekarno itu totaliter, bagaimana? Bukankah ia pernah membubarkan konstituante, yang menimbulkan kesan seolah-olah kekuasaan ini tersentralisir di tangannya?
OTT:
Kita sementara, kembali kepada pembubaran konstituante. Saya sementara ini sependapat, kurang lebih, dengan Adnan Buyung Nasution bahwa pembubaran konstituante itu merupakan set back bagi perkembangan sejarah demokrasi di Indonesia.
Saya setuju dengan pendapat itu. Tapi, saya tidak setuju bila dikatakan bahwa pembubaran konstituante itu dilakukan Soekarno karena kehendaknya untuk berkuasa. Seperti dikemukakan antara lain oleh Arief Budiman pada waktu itu. Arief Budiman mengatakan Soekarno itu juga sama otoriter, sebab dia membubarkan
konstituante hasil pemilihan rakyat. Dan menurut keterangan yang dia dapat, "Soekarno dan Nasution 'AD'lah yang mendesak supaya konstituante
dibubarkan." Dia tanya pada saya, "Pak Oei, betul apa ndak itu?" Saya bilang saya ndak tahu. Tapi, bahwa konstituante dibubarkan, ini sampai menimbulkan clash di kalangan BAPERKI - suatu ormas yang saya sendiri mempunyai kedudukan penting.
Tapi, karena itulah Yap Thiam Hien berang (?). Dia mengundurkan diri dari pengurus pusat karena tidak bisa menyetujui pembubaran konstituante. Yap Thiam Hien ini advocaat dalam kantor saya.
Satu dompet dengan saya. Dia juga kawan seperjuangan di Sin Ming Hui dan di BAPERKI. Tapi waktu di BAPERKI, kita 'pecah' dalam soal konstituante. Saya berpendapat seorang demokrat, seorang juriist, sehingga dia cenderung pada formalisme.
Saya juga seorang juriist, seorang demokrat. Tapi, kalau kita duduk dalam konstituante, kita juga orang politik. Nah, kenyataannya pada saat sampai kepada penentuan negara ini dasarnya apa, Islam atau Pancasila, tidak ada satu pihakpun yang bisa meraih 2/3 suara yang dibutuhkan menurut UU supaya bisa 'gol'. Jadi, mau negara Islam tidak bisa, mau negara Pancasila tidak bisa.
Meskipun, lebih dari separuhnya mendukung Pancasila. Yang mendukung Pancasila adalah partai-partai besar. PNI paling gede, PKI, kemudian IPKI, Partai Katholik, Partai Kristen Indonesia, MURBA, BAPERKI sendiri dan banyak lagi.
Yang Islam, didukung yaitu NU, MASYUMI, PSII, dsb. Kemudian, Perdana Menteri Juanda (alm.) mengusulkan kembali ke UUD '45. Juanda dan tentara lho. Dan, Bung Karno setuju. Itu kemudian ditolak juga oleh seluruh konstituante. Jadi, bagaimana ini.
Padahal, di sekitar kita, pemberontakan-pemberontakan, PRRI-PERMESTA di mana-mana. Dan, kita ketahui armada Inggris dan Amerika itu berkeliaran.
Jadi ini keadaan darurat. Kemudian, partai-partai yang pro Pancasila itu mengata kan, "karena ini macet dan kita tidak mau terima uang buta, pendeknya mulai besok kita tidak datang lagi ke sidang kita, tidak mau terima gaji. (Seandainya DPR kita juga begitu, ck, ck, ck... Tentu nggak banyak pemborosan)" Artinya, karena lebih dari separuh tidak ada di konstituante, tidak bisa sidang. Jadi, pemerintah dipojokkan dalam situasi itu. Kalau Soekarno ndak bubarkan itu bagaimana?
Wong itu, orang-orang nggak mau datang. Seperti BAPERKI, semua tidak datang. Saya juga nggak mau. Hanya Yap Thiam Hien mau datang. Nah, keadaan ini kan
harus ada suatu akhir toh. Kemudian Soekarno membubarkan. Ini 'pelakunya' Soekarno. Kita yang hidup sekarang, bisa bilang, wah ini keliru. Tapi, kalau ndak dibubarkan bagaimana? Apa uang negara itu mesti dihabiskan? Sampai kapan itu saya tidak tahu.
Tanya :
Pemberontakan bisa menggunakan situasi itu. Dan yang penting itu (ancaman) Amerika. Di jaman itu we have to fight, kita mesti berjuang untuk to be or not to
be. Bukan soal kemakmuran saja. Tapi, untuk 'ada republik' atau 'tidak'. Ada Indonesia atau tidak. Jadi persoalan di jaman itu jelas, ya?
OTT:
Ya. Akhirnya golongan Islam juga setuju untuk kembali ke UUD '45.

Bagi saya, Oei Tjoe Tat dan orang-orang BAPERKI, mengakui UUD '45 lebih primitif dari UUDS tahun '50. Jadi kalau kita kembali ke UUD '45, kita mundur. Tapi dalam hati kecil, biarlah kita muncur yang penting (Indonesia) eksis. Soal hak asasi dan sebagainya, lain kali deh. Kalau Pancasila sudah dikukuhkan, (yang lainnya) gampang.
Pilihan yang memang sulit. ... Pecah BAPERKI karena itu. Yap Thiam Hien memang jujur. Tapi, saya bilang, "you duduk di kursi sini (konstituante-red.) tidak sebagai
juriist, sebagai orang politik." Itu bedanya dengan saya. Makanya saya setuju dengan Adnan Buyung Nasution. Ia memahami bahwa keadaan itu memaksa Soekarno dan teman-teman lain membubarkan konstituante. Tapi menurut dia, tetap hal itu disesalkan, karena ini set back bagi demokrasi.
Tanya :
Mengenai MANIPOL-USDEK, bukankah ini merupakan doktrin yang sepertinya
terlalu dipaksakan ke benak rakyat. Mengapa hal ini mesti dilakukan Soekarno?
OTT:
Saya tidak akan langsung menjawabnya. Kalau sekarang diadakan penataran Pancasila berkali-kali dan orang komentarnya akan muncul, itu pasti. Jaman dulu, Roeslan Abdulgani itu juru bicara MANIPOL-USDEK. Dulu, ada sementara orang yang mengejek itu, "ketimbang indoktrinasi, mbok disediakan saja ndok sama terasi." Soekarno ndak marah, dia ketawa. Roeslan juga ketawa. Mereka semua masih 'ngerti humor.
Nah, di mana ada humor di situ ada soal kemanusiaannya. Ada setitik demokrasi. Sekarang kamu coba bilang, "wah penataran itu hanya buang-buang uang saja." Bisa dibilang mau jadi komunis nanti.
Dulu, suasananya agak rileks. Kalau kita menteri-menteri tiap Kamis datang di gedung BI Pancuran, apa ada orang pake dasi? Tidak. Pake sandal jepit malah. (Beda dengan sekarang yang menurut Pak Oei "serba serem, serba angkuh." Dulu kalau Soekarno datang sebelum sidang dimulai, menteri-menteri ditaboki, "hey ke mana saja kowe?" Suasananya lain.
Dalam konstituante pun, bila sedang memasuki sidang, maka akan muncul perdebatan yang hebat. "Sampai melotot-melotot matanya." Tapi, pada saat sidang bubar, masing-masing "orang PKI rangkul-rangkulan dengan orang MASYUMI. Orang NU dengan PNI, orang PARTINDO dengan orang NU". "Jadi di luar sidang, semua saudara," Pak Oei menyimpulkan.)

Tanya :
Mengenai konfrontasi dengan Malaysia. Dalam memoar Pak Oei, peran Bapak
cukup besar dalam menjalankan silent mission ke kelompok-kelompok di Malaysia yang menentang Tengku Abdul Rahman. Bisa diceritakan lebih banyak lagi seputar konfrontasi ini?
OTT:
Kalau obyektif, kita diganggu oleh Inggris lebih dahulu dari pada kita konfrontasi dengan Malaysia. Itu betul. Bahwa Inggris sebagai pion Amerika menggunakan taktik untuk mengganggu Indonesia. Ada seorang Jenderal yang - entah masih hidup atau sudah nggak bisa bicara -, Jenderal Darto (?) dan Pak Hario. Di jaman militer mereka tahu, bahwa penduduk di Kalimantan Utara tidak mengenal Merah Putih. Mereka mengenal lagunya God Save The King.
Tapi kita tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk sampai ke sana. Bagian-bagian itu secara de facto dikuasai oleh Inggris. Jadi, tanpa konfrontasi kita ini sudah diganggu oleh Inggris. Tentang pembentukan Malaysia dan diberikannya tempat pada Malaysia dalam Dewan Keamanan PBB, bagi Soekarno ini tidak bisa. Tengku Abdul Rahman itu juga memang suka menyinggung martabat Soekarno. Sedangkan Soekarno orangnya tidak bisa diremehkan.
(Di bukunya menurut Pak Oei hal ini belum dia tuliskan, "memang ada hal yang tidak bisa dikemukakan dulu, ada banyak pertimbangan.") ...(Kembali ke soal kebijakan konfrontasi) waktu saya mau diangkat jadi menteri, saya mendekati beberapa menteri. Leimena yang paling banyak. Beliau dikenal sebagai seorang Kristen yang jujur dan setia. Saya anggap beliau sebagai kakak yang lebih tua.

Sebagai manusia yang baik dalam hal moral - bukan politis. Saya tanya sama dia, "Om Yo, kalau saya jadi menteri itu, tugasnya apa dan bagaimana saya mesti berlaku?" Saya ini kan menteri negara tidak punya departemen. Bos saya langsung Soekarno. Om Yo bilang, "Rasio saya sangsi apakah rasional kita konfrontasi dengan Malaysia. Sebab Malaysia itu berarti England. Dan england, always rules the better, always rules the world.
Padahal RI ini keadaannya kacau balau. Karena saya mempercayakan diri pada political sense Soekarno yang sangat tajam, insting saya mengatakan, tapi otak saya tidak bisa menerima. Tapi kalau kamu ada sesuatu yang secara prinsip tidak setuju, lebih baik tidak ikut dan mengundurkan diri. Dari pada seperti banyak menteri yang diam-diam tapi 'nyabot dari dalam." Om Yo sendiri sangsi. Saya sendiri tadinya kurang jelas. Tapi, I did my best. Saya lihat bila kita melakukan sesuatu di
atas Malaysia, mereka telah mengetahui lebih dahulu. Sehingga penerjun-penerjun yang kita drop, itu ditangkapi. Jadi, jelas di dalam kompi ada pengkhianatan. (Mengenai konfrontasi ini, Pak Oei mengakui bahwa, terlepas dari berbagai argumen yang dikemukakan Soekarno tentang pentingnya konfrontasi dengan Malaysia, "kita memang tidak cukup siap.") Waktu saya sering ke luar negeri dalam rangka konfrontasi, saya persiapkan itu. Dan, saya punya bukti-bukti yang saya laporkan kepada ketika bahwa intel-intel yang ada sekarang (di jaman Orba-red.)
sebetulnya harus menghormatinya. "Anggaplah sebagai saudara tua." Ia tahu tugas intelejen itu apa, termasuk untuk mencari-cari kesalahan orang. Dalam pengalamannya, peran pemuda Indonesia yang belajar di luar negeri, seringkali lebih efektif sebagai 'intelejen' baginya, ketika ia berkunjung ke luar negeri. Ia rasakan itu, terutama ketika era konfrontasi sedang berlangsung.)
Tanya :
Silent Mission selain itu, apa?
OTT:
Saya ditugasi untuk, antara lain, mencegah buruh-buruh Jepang mengangkut senjata-senjata ke Malaysia. Saya harus meyakinkan mereka. Akhirnya, mereka menolak mengangkut senjata dari Jepang ke Malaysia.
Tapi, saya diam-diam waktu itu. Supaya pemerintah Jepang tidak mengetahui. Makanya sewaktu terjadi G30S dan nama saya dicoret-coret di tembok, "Oei Tjoe Tat menjual Indonesia kepada Malaysia." Marah saya. Kemudian saya telpon Jenderal Soegiharto, intel dari Jaksa Agung dan AD.
Saya bilang padanya, "bagaimana nih, menjelaskannya?" Dia Jawab, "ndak bisa dong. Pak Oei tidak boleh menjelaskan karena itu resiko dari tugas dan jabatan." Saya bilang, "clear-kan dong. Supaya rakyat tahu. Kasih keterangan pada pers." Tetapi tetap ndak bisa.


 

     

 


FastCounter by bCentral