|
 |
ZHOU
ENLAI IN BANDUNG
MINGGU lalu, beruntung sekali rasanya
aku mendapat kesempatan menonton
preview film Zhou Enlai in Bandung. Acaranya digelar di
PPHUI (Pusat
Perfilman H Usmar Ismail), Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta.
Penyelenggaranya Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia. Para
undangan antara
lain adalah Ibu Megawati Soekarnoputri, perwakilan Deperdag,
Kebudayaan, dan
para Duta Besar sejumlah Negara sahabat.

Film Zhou Enlai in Bandung termasuk genre dokudrama berlatar
belakang
fakta sejarah yang benar-benar terjadi. Menuturkan satu
babak dari kehidupan
Perdana Menteri RRT, selama tujuh hari misinya di Indonesia
(dari 18 sampai
dengan 24 April 1955), khususnya memimpin delegasi RRT dalam
Konferensi
Asia-Afrika 1955.

Diproduksi oleh Beijing Film Studio dan China Film Group
Corp.
(Perusahaan Film Negaranya China), dengan tiga produser;
Yang Buting, Yan
Xiaoming, dan Li Bolin. Disutradarai oleh Wei Lian berdasarkan
skenario
karya Chen Dunde.
Pemain utamanya, Wang Tie Cheng (sebagai Zhou Enlai) berakting
simpatik, kalem, sederhana bersahaja, dan meyakinkan, didukung
aktor kawakan
Indonesia, Soultan Saladin (sebagai Presiden Soekarno yang
berwibawa), Ali
Abdullah (Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo), aktor India
Pratap Sharma (PM
Jawaharlal Nehru), dan puluhan lainnya lagi yang memainkan
karakter
tokoh-tokoh kepala pemerintahan negara-negara Asia-Afrika
dengan kemiripan
sangat meyakinkan (bayangkan penyeleksiannya).
Syuting berlangsung dalam tahun 2004 lalu. Berlokasi selain
di Jakarta
dan Bandung, juga di Hainan. Sejatinya memang film ini dimaksudkan
untuk
menyambut ultah ke-50 Konferensi Asia-Afrika yang diselenggarakan
Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono di Bandung tahun 2005 kemarin.
Yang sangat mengagumkan dari film berdurasi sekitar 90 menit
ini
adalah keakuratan dan ketelitiannya. Bagaimana tim artistik
dipimpin Lin
Chaoxiang berhasil menghadirkan mobil-mobil tempo doeloe,
termasuk pesawat
terbang produksi India pada masa itu, di samping detil busana,
bahkan
jalan-jalan dan suasana di Jakarta serta Bandung pada tahun
1955!
Cerita diawali dengan meledaknya pesawat terbang India,
Princess
Kashmir, yang membawa delegasi pertama Tiongkok ke Indonesia
untuk menghadiri
Konferensi Asia-Afrika. Tercatat tanggal 11 April 1955,
selepas Hong Kong,
di atas Laut Tiongkok Selatan, pesawat itu meledak dan menewaskan
semua
rombongan delegasi. Esoknya, 12 April, Pemerintah China
mengumumkan pesawat
terbang itu disabotase oleh agen rahasia Kuomintang, Taiwan.
Di Kunming, Provinsi Yunnan, Perdana Menteri merangkap Menteri
Luar
Negeri Zhou Enlai, tak gentar oleh sabotase delegasi pertama,
tetap
memutuskan untuk menghadiri Konferensi Asia-Afrika. PM Zhou
yang tersohor
jauh lebih bijaksana ketimbang Mao Zedong selaku Ketua Partai
Komunis
sekaligus Presiden RRT, segera berunding dengan staffnya.
Menepis semua
cegahan staffnya, PM Zhou memutuskan untuk mengemban misi
diplomatik,
terbang ke Jakarta, dengan menggunakan pesawat terbang Hegemon
King in the
Air, milik India Airlines. Perbuatannya ini sangat mengangkat
harkat India,
hingga mencerahkan wajah Nehru, PM India, yang selalu didampingi
putrinya,
Indira Gandhi.
PM Zhou sempat singgah lebih dahulu ke Rangoon, ibukota
Burma, untuk
bertemu PM U Nu. Kedatangan Zhou di bandara Kemayoran disambut
luar biasa
oleh warga keturunan China di Jakarta. Empat mobil penjemput
dikirimkan oleh
Presiden Soekarno termasuk limusin pribadinya. PM Ali Sastroamidjojo
melakukan penyambutan resmi.
Di Kedutaan Besar RRT, Zhou berdialog langsung dengan warga
Tionghoa.
Pada masa itu, warga Tionghoa seolah terpecah menjadi tiga
golongan.
Golongan pertama, hoakiauw, yakni mereka yang mempertahankan
kewarganegaraan
Tiongkok. Golongan kedua, mereka yang ingin menjadi warga
negara Indonesia,
karena lahir, berkarya, dan kelak juga ingin mati di sini.
Golongan ketiga
adalah Koumintang yang berkiblat ke Chiang Kaishek, Presiden
Taiwan.
Presiden Soekarno sempat bertukar pendapat dengan PM Zhou
mengenai
politik dwi kewarganegaraan bagi kalangan Tionghoa. Justru
PM Zhou lebih
menganjurkan agar warga Tionghoa menjadi WNI. Ucapnya pada
ratusan orang
Tionghoa yang dengan penuh antusias merubungnya dalam hujan
rintik-rintik
malam hari di halaman Kedubes, "Anggaplah kalian sebagai
anak perempuan yang
telah menikah, walaupun telah dianggap sebagai orang luar,
namun apakah akan
ditolak jika mengunjungi rumah orangtuanya sendiri? Tidak,
percayalah,
kalian pasti diterima jika sekali waktu ingin berkunjung
ke tanah leluhur,
itu sikap resmi pemerintah Tiongkok."
Prinsip utama Zhou, "Janganlah kau berbuat yang kau
tak mau orang lain
berbuat seperti itu kepadamu," selain memperkenalkan
Lima Prinsip Dasar dari
Tiongkok.
Tercatat 29 negara Asia-Afrika yang menjadi peserta resmi
konferensi.
Terjadi gontok-gontokan di antara peserta sendiri. Misalnya
India dengan
Pakistan. Bahkan Thailand blak-blakan mengencam sikap Pemerintah
Tiongkok.
Sedangkan Gamal Abdl Nasser dari Mesir memperingatkan bahayanya
komunis.
Namun dengan kebijaksanaan luar biasa, dengan lembut, Zhou
berpidato selama
dua puluh menit, menegaskan kedatangan delegasinya bukanlah
untuk bertikai,
bukan untuk mempromosikan komunis, melainkan mencari persatuan
dan kesatuan
antar bangsa-bangsa Asia-Afrika. Berkat pidatonya yang menyejukkan
itulah,
akhirnya tercapai kesepakatan antar bangsa-bangsa yang melahirkan
Dasa Sila
Bandung.
Di sela-sela kesibukannya, Zhou yang hanya tidur dua jam
per harmal,
itu pun menjelang subuh, sempat juga ia bertemu dengan puteri
sulung
Presiden Soekarno, Megawati Soekarnoputri, yang baru berusia
sekitar lima
tahun namun sudah mampu berbahasa Inggris. Sementara keselamatan
pribadinya
terancam oleh 23 pembunuh bayaran yang disusupkan Kuomintang.
Intrik-intrik
dari pihak Barat seperti Dulles dari Amerika Serikat. Wartawan-wartawan
dunia internasional yang tak mau melewatkan kesempatan bersejarah,
konferensi terbesar di dunia yang pertama tak melibatkan
Amerika dan Eropa.
Terus-terang aku pribadi sangat terkesan pada film yang
digarap dengan
kualitas dan tujuan baik ini. Film ini membuat aku bangga,
terharu,
sekaligus malu. Perasaan terakhir ini karena kita sendiri
sebagai bangsa
Indonesia belum mampu membuat film yang mencanangkan kebesaran
Bung Karno
sebagai pemersatu Asia-Afrika yang diakui dunia pada masa
kejayaannya. Kalau
saja filmnya tentang misalnya Zhou Enlai in Beijing, rasanya
aku tak perlu
merasa bangga apalagi terharu.
Timbul niat untuk menghadirkannya di bioskop-bioskop Indonesia
agar
bisa ditonton oleh khalayak ramai. Kalau ada di antara pembaca
yang punya
modal, niat untuk menjalin kerjasama, punya saran atau usul,
silakan
menghubungi aku.
Yan W.
| |