|
 |
|
Teroris
Filipina dan Indonesia Mulai Bergabung
[WASHINGTON] Departemen Keuangan AS menyebutkan
bahwa organisasi International Islamic Relief Organization
(IIRO) yang berbasis di Arab Saudi dan memiliki cabang di
Indonesia dan Filipina, serta sejumlah negara lainnya, telah
membantu mengupayakan pencarian dana untuk kelompok Al-Qaeda
dan terkait dengan sejumlah kelompok teroris.

Bagian Terorisme dan Intelijen Keuangan (TFI), Departemen
Keuangan AS, juga memastikan bahwa Abd Al Hamid Sulaiman
Al-Mujil, yang juga Direktur Eksekutif Eastern Province
Branch IIRO di Arab Saudi, adalah donatur teroris. Al-Mujil
menggunakan posisinya untuk membantu pengumpulan uang dari
jaringan Al-Qaeda di Asia Tenggara.

IIRO berdiri tahun 1978 dengan kantor pusat di sebelah barat
kota Jeddah memiliki cabang di 20 negara Afrika, Asia, Eropa
dan Timur Tengah. Kendati dikenal luas sebagai organisasi
kemanusiaan, organisasi ini memiliki banyak aktivitas terkait
teroris.
"Ini sangat mengejutkan ketika sebuah organisasi yang
dikenal dalam bidang kemanusiaan atau keagamaan ternyata
memberikan dukungan dana kepada kelompok teroris garis keras.
Kami mempunyai perhatian yang lama dengan kantor IIRO offices
dan sekarang kami ajak publik untuk menghentikan pendanaan
jaringan Al-Qaeda tersebut," kata Stuart Levey dari
TFI awal Agustus lalu.
Bergabung
Sementara itu akhir pekan lalu ABC memberitakan bahwa Satuan
Tugas Anti-Teroris Pemerintah Filipina menyampaikan bukti
bahwa kelompok teroris Filipina dan Indonesia merencanakan
bergabung dan latihan bersama di Filipina kepada ratusan
anggota yang baru direkrut.
Dalam sebuah dokumen yang ditemukan menyebutkan kelompok
teroris Filipina dan Indonesia akan melakukan serangan bom
dan penyanderaan atas pejabat pemerintah.
Pimpinan Satuan Tugas Anti-Teroris Ricardo Blancaflor menyebutkan
dokumen yang dibuat pada tahun 2005 lalu itu merencanakan
penggabungan dari Jemaah Islamiyah, Tanzim Qaidat al Jihad,
Negara Islam International dan Darul Islam Terror Group
yang berbasis di Indonesia. Sedangkan kelompok yang berbasis
di Filipina adalah The Abu Sayyaf, Rajah Sulayman Movement
dan sebuah faksi dari Moro Islamic Liberation Front.
Blancaflor mengatakan penggabungan kelompok-kelompok itu
sudah berjalan.
Dia juga menyebutkan bahwa sejumlah aksi bom yang terus
terjadi di beberapa titik di Filipina pada 2005 lalu dilakukan
oleh Jemaah Islamiyah, Abu Sayyaf dan The Rajah Sulayman
Movement.
Secara terpisah, tentara Filipina membunuh satu orang pengikut
Abu Sofia, kelompok pemberontak Muslim yang mempunyai kaitan
dengan jaringan Al-Qaeda, dalam sebuah bentrokan antar kedua
pihak. Sedangkan tiga anggota lainnya ditahan tentara pemerintah
dari Batalion Infanteri ke-37 dalam bentrok di Kota Sultan
Kudarat, sebelah selatan Provinsi Maguindanao (880 km selatan
Manila), demikian disampaikan juru bicara militer Letnan
Kolonel Julieto Ando.
Tembak-menembak pada Minggu (20/8) lalu tersebut berlangsung
selama 30 menit. [AP/H-12]
SUARA PEMBARUAN DAILY
|