AS Siap Perang Lagi

Perancis Bersedia Dialog dengan Iran Secepatnya
Fallon, Selasa - Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld hari Senin (28/8) menyatakan, militer AS masih sanggup untuk berperang di lain tempat meskipun saat ini terdapat pengerahan pasukan besar-besaran di Irak dan Afganistan.
Rumsfeld menyatakan hal itu ketika ditanya mengenai kemungkinan opsi militer dalam menghadapi krisis nuklir Iran.
"Saya terus ditanya, bila pasukan Anda sudah dikerahkan di Irak dan Afganistan, apakah militer AS akan kesulitan sehingga tak mampu menghadapi permasalahan di belahan dunia lain? Jawabannya adalah tidak. Kami mampu untuk menghadapi problem-problem lainnya," kata Rumsfeld kepada pasukan AS di Nevada, Senin.


"Saya merasa senang karena negara kita mampu memenuhi tanggung jawab seperti yang diharapkan rakyat dan yang menjadi tugas presiden," lanjutnya.
Rumsfeld memperingatkan para "musuh potensial" bahwa AS siap berperang untuk melindungi kepentingannya.
Di hari yang sama, Deplu AS juga mengeluarkan pernyataan bahwa AS akan mengupayakan sanksi DK PBB bila Iran menolak menghentikan pengayaan uranium selambatnya 31 Agustus.
"Ini merupakan kemauan komunitas internasional untuk ’mengambil opsi sanksi’ bila Iran mengabaikan tuntutan PBB untuk menghentikan program nuklirnya dan membuka fasilitasnya bagi pemeriksaan internasional," kata juru bicara Deplu AS Sean McCormack.
AS bukan saja akan berupaya menjatuhkan sanksi, kata McCormack, tetapi juga akan berunding dengan negara-negara lainnya untuk melakukan tekanan finansial pada Iran.
Pendekatan Perancis
Berbeda dengan Washington yang cenderung keras dalam menghadapi Iran, Paris lebih memilih berhati-hati. Menlu Perancis Philippe Douste-Blazy hari Selasa kemarin mengatakan, Perancis siap untuk memulai dialog dengan Iran dalam rangka mengakhiri pertikaian menyangkut program nuklirnya.
Meski demikian, Perancis akan terus mendesak Iran untuk menghentikan program pengayaan uraniumnya.
"Otoritas Iran mengatakan bahwa mereka terbuka bagi dialog dan siap untuk memulai perundingan. Tanpa meninggalkan tuntutan agar Iran menghentikan aktivitas nuklirnya yang sensitif, Perancis juga siap untuk memulai perundingan," kata Douste-Blazy dalam pertemuan tahunan dengan para duta besar Perancis di Paris.
Douste-Blazy menambahkan, perundingan tersebut harus jelas, konkret, dan bertanggung jawab. "Kami ingin dialog ini secepatnya dan serius, dengan keinginan untuk menemukan jalan keluar bagi permasalahan nuklir Iran," katanya.
Saat ini, kata Douste-Blazy, Perancis menilai jawaban Iran terhadap tawaran paket insentif AS-Eropa dan tuntutan DK PBB agar Iran menghentikan pengayaan uranium selambatnya tanggal 31 Agustus "tidak memuaskan".
Pidato Ahmadinejad
Sebagai "jawaban" terhadap tekanan yang diterima Iran menjelang batas waktu 31 Agustus, Presiden Mahmoud Ahmadinejad, Selasa, mempertanyakan hak veto anggota tetap DK PBB.
"AS dan Inggris merupakan sumber dari berbagai ketegangan dunia. Di Dewan Keamanan, di mana mereka seharusnya melindungi keamanan, mereka (malah) menikmati hak veto. Bila ada yang mengonfrontir mereka, tak ada tempat untuk menyampaikan keluhan," kata Ahmadinejad dalam jumpa pers di Teheran.
Dalam kesempatan itu Ahmadinejad juga mengajak Presiden AS George W Bush untuk melakukan debat televisi langsung yang tidak disensor untuk membicarakan masalah-masalah dunia dan untuk mencari penyelesaian ketegangan saat ini.
"Saya sarankan kita berbicara dengan Tuan Bush, Presiden AS, dalam debat televisi langsung. Kita akan menyampaikan pendapat kita, demikian juga dengan mereka," katanya. (AFP/AP/MYR)


 

 

     

 


FastCounter by bCentral