Ikut Cruise ke Mediterranean # 4

Athens, Athina dalam bahasa Yunani adalah kota yang sarat dengan sejarah,
budaya dan ilmu pengetahuan termasuk ilmu psikologi :-). Nama Agora yang
mendasari agoraphobia, ketakutan akan keramaian ternyata berasal dari suatu
daerah pasar di dekat Athens. Rupanya dari jaman dahulu kala, sudah banyak
manusia yang menghindar dari pergaulan karena takut bertemu dengan sesamanya,


padahal konon orang Yunani di Athens baik-baik ramah-tamah. Karena mereka
bangsa pedagang maritim maka mereka perlu ngerumpi dengan bangsa tetangga
supaya jualannya laku. Dengan demikian mereka berpola pikiran terbuka,
toleran seperti Anda-anda :-), dan cincai-an model pedagang di Glodok kalau
Anda tawar ketika ia baru buka. Bangsa Yunani dari dulunya sudah toleran
karena mereka butuh imigran, eh pendatang yang mempunyai cem-macem kepiawaian.
Baik para artis, petani, pelaut, maupun buruh kasar. Mereka diberikan KTP
tanpa ada kolom agamanya, diberi hak politik dan azasi sehingga mereka menjadi
setia kepada kota Athena.

Nama Athena sebetulnya adalah nama dewi laut bangsa Yunani. Kuil pemujaan
bagi kota itu terletak di Acropolis yang merupakan suatu bukit di atas kota.
Kuil utamanya, bangunan marmer terindah disitu yang bernama Parthenon, adalah


kuil untuk memuja Athena si Perawan (arti dari parthenos). Selain itu ada kuil
Athena Nike, ya merek sepatu Anda, yang berarti Athena si Juara. Bila Anda
senang menonton sandiwara, masih ada satu bangunan reruntuhan teater bernama
Dionysius yang berkapasitas 17 ribu penonton, lebih besar dari Istora Senayan
dan merupakan teater tertua di Yunani. Teater Dionysius ini, yang merupakan
teater terbuka, dipugar dan dipakai untuk pagelaran cem-macem seni modern di
saat kini.

Kita tinggalkan sedikit dongengan sejarah di atas dan kita lanjutkan dengan
kisah nyata Bang Jeha beserta nyonya ikut city tour Athens dan ke Acropolis.
Sebelum ikut cruise ini saya berkesempatan survai selama 2 bulanan, meminjam
beberapa buku yang tersedia di perpustakaan Toronto mengenai seluruh kota yang


akan disinggahi kapal. Jadi saya sudah tahu atau sadar, mana kota yang cari
penyakit untuk kita lakukan tour sendiri selama sehari atau kurang pada saat
kapal berlabuh, mana yang bisa kita pergiin dhewek. Kecuali Anda mahir bahasa
Yunani, that looks like Greek to me indeed :-), sukar dah untuk bepergian
sendirian di dalam tempo yang terbatas.

Memang ada beberapa pilihan kendaraan umum dari terminal kapal cruise di
Piraeus untuk ke Athens maupun Acropolis tetapi copet yang kemungkinan lebih
jago dari copet Toronto, berkeliaran prens. Ketika kami pulang seusai tour
dan makan di restoran kapal kembali, nyonya bule di sebelahku mensyer
pengalaman dikerjain oleh supir taksi. Padahal naik taksi p.p. ke kota sudah
sekitar 40 Euro atau sama dengan ongkos ikut city tour (per orang). Dengan
risiko masih bisa dikerjain oleh copet dan lalu nyasar ketika jalan-jalan
sendirian, untuk kota asing seperti Athena, ada baiknya Anda ikut guided tour
sahaja kalau berniat kesana.

Satu kesan dominan kalau saya mengunjungi kota atau tempat kuno seperti
Acropolis ini adalah: sedih. Ketika baru saja keluar dari terminal kapal dan
menuju bis di lapangan parkir, saya hampir kejengkang melihat ada sekitar 100
bis barangkali yang antri disitu. Sebab bukan saja ada kapal Grand Princess
kami berkapasitas 2600 orang, juga ada kapal Royal Caribbean, Brilliance of
the Seas dan satu kapal cruise gede lainnya yang sedang berlabuh dan
mengirimkan turis ke Acropolis. Padahal semuanya cuma mau melihat batu
berumur yah 2500-an tahun dah. Padahal tidak kekurangan batu tua lumutan di
Melayu, en toh tidak ada kapal cruise yang bersandar di selatan kota
Jogjakarta atau di pelabuhan kota Semarang. Bayangkan dampak perekonomian
dari ribuan turis sehari yang bukan cuma datang untuk melihat batu, tetapi
juga makan dan minum serta tidur. Indonesiyahhh, dikau emang payahhh, bisanya
pada berantem mulu :-(.

"Apakah Parthenon itu emang indah Bang Jeha?," tanya Anda penasaran. Sungguhan
biasa-biasa azha prens, batunya ya marmer sih, yang ditumpuk-tumpukin doang.
Untuk saya pemandangan alam seperti Niagara Falls, jauh lebih mencekam dan
akan lebih saya bela mati-matian untuk melihatnya, ketimbang Parthenon. Oke
dah, relief dan pahatan serta ukiran di batu pualam tersebut memang kelihatan
lebih nyeni, dibandingkan dengan yang di Candi Borobodur. Tapi engga ada
adegan ML (make love) seperti relief di candi-candi kite :-) (yang sebentar
lagi bakal ditutupin kain barangkali kalau RUU Porno sudah goal di DPR RI).
Ketika Bang Jeha minta difoto oleh da bosnya dengan latar belakang patung
yang ada si "ujangnya", weladalah petugas ngusir dan bilang engga boleh
motret bersama orang :-). Payah yah orang museum tersebut. Singkatnya prens
sadayana, kalau Anda sedang mengumpulkan duit buat jalan-jalan dan cuma bisa


di tanah air kita, kaga usah lah ke Acropolis, ke Candi Borobudur aja,
mumpung masih berdiri, tidak rubuh terkena gempa. Bai bai lam lekom, sampai
kisah berikutnya.
... (bersambung) ...


Jusni Hilwan

     

 


FastCounter by bCentral