Yudhoyono
Heran, Barang TKI Banyak Menumpuk di Bandara
Jakarta, 29 Agustus 2006 17:10
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menanggapi laporan dari
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Soeparno tentang
masih adanya barang TKI sebanyak 21 ton yang disimpan di
gudang sejak tahun 2001.
"Saya minta hal itu tidak terjadi lagi,"
kata Yudhoyono di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta,
Tangerang, Selasa (29/8), ketika meresmikan ruang tunggu
bagi TKI yang akan berangkat ke luar negeri ataupun tiba
di Tanah Air.
Presiden kemudian mengungkapkan pengalaman
pribadinya pada 1977 ketika koper salah seorang anggota
keluarganya yang bekerja di luar negeri sebagai TKI tertinggal
di Bandara Halim Perdana Kusuma. Ia selanjutnya menuturkan
dirinya yang saat itu berpangkat letnan satu kemudian datang
untuk mengurus koper tersebut dengan berseragam.
"Saya minta pelayanan terhadap tentara,
polisi, ataupun sipil harus sama," katanya.
Pada awal sambutannya, Yudhoyono mengatakan,
para TKI itu merupakan pahlawan devisa yang harus dilindungi
oleh pemerintah. Karena itu pemerintah berkewajiban melindungi
mereka.
Presiden juga menyebutkan, sebelum berangkat
ke luar negeri, mereka harus dibekali keterampilan dan pengetahuan
bahasa.
"TKI harus dipersiapkan secara baik untuk
meningkatkan kualitas mereka sehingga dapat bekerja di luar
negeri," katanya.
Ruang tunggu bagi TKI di Bandara Soekarno-Hatta
luasnya 1400 meter persegi. Setiap hari rata-rata datang
800-1000 orang TKI. Di ruang tunggu tersebut disiapkan fasilitas
informasi tentang penerbangan lanjutan, ruang menyusui,
dan kantin.
Bagi TKI yang akan pulang kampung dengan bus,
PT Angkasa Pura telah menyiapkan fasilitas tersebut sehingga
mereka bisa pulang dengan tenang tanpa diganggu oleh calo
atau pun preman.
Terkait permasalahan calo dan preman, Yudhoyono
memerintahkan seluruh jajaran aparat penegak hukum untuk
memberantas calo dan preman yang selama ini merugikan TKI.
"Saya meminta aparat penegak hukum untuk memerangi
calo dan siapa saja yang memanfaatkan TKI untuk kepentingan
dirinya sendiri," katanya.

Selain di Bandara Soekarno Hatta, ruang tunggu
bagi TKI itu juga dibangun di Bandara Juanda Surabaya, Pelabuhan
Tanjung Priok Jakarta, serta Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
Presiden yang didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono
memperingatkan aparat penegak hukum bahwa calo dan preman
harus diberantas karena mereka telah membuat citra Indonesia
menjadi buruk.
Dalam kesempatan itu, Presiden juga
menginstruksikan seluruh aparat terutama di daerah agar
tidak terjadi lagi pemalsuan dokumen bagi TKI yang akan
berangkat ke negara lain. "Saya minta aparat bekerja
secara tertib jangan sampai terjadi pemalsuan dokumen bagi
TKI," kata Yudhoyono.
[EL, Ant]
|