|
 |
Sekali
Merdeka, Tetap Maling!
"Merdeka tapi konsisten menjadi
kere!" Kalimat itu diucapkan tokoh Mbah Semar dalam
pertunjukan Merdeka Secara Jenaka oleh Orkes Sinten Remen
pimpinan Djadoek Ferianto di Taman Ismail Marzuki, Jakarta,
18-19 Agustus 2006.
Dengan musik dan banyolan, mereka merenungkan makna kemerdekaan
di tengah kondisi Indonesia saat ini.
Pertunjukan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki
(TIM), itu dibuka dengan suasana kehidupan pagi hari di
satu sudut kota. Tampak seseorang tertidur di bangku. Ada
lelaki mengenakan surjan dan belangkon. Terlihat tokoh Semar,
diperankan Butet Kerta- redjasa, terbirit-birit menuju WC
di sudut kiri belakang panggung.
Di tengah pentas tampak berdiri jam kota. Pemandangan ini
mengingatkan pada lanskap salah satu sudut kota Yogyakarta,
tepatnya daerah sekitar Ngejaman, di ujung Malioboro, di
depan Pasar Beringharjo. Tampak pula tiang bambu untuk memasang
burung perkutut. Penonton seperti diajak masuk ke dalam
atmosfer dan jagat batin sebuah Yogya yang belakangan diguncang
bencana.
Sayup-sayup dari sebuah radio terdengar berita dalam bahasa
Jawa. Antara lain disampaikan tentang pertunjukan wayang
kulit dengan cerita "Betara Kala Nguntal 30 Yuta."
Betara Kala adalah tokoh raksasa dalam pewayangan, nguntal
(menelan bulat-bulat) 30 juta.
Penonton terbahak-bahak. Mereka seperti menangkap relasi
antara banyolan di pentas dan realitas di luar yang berkait
dengan angka 30 juta itu. Banyolan soal angka 30 juta itu
terus berlanjut pada adegan lain. Dari dialog tokoh Pakde
Sisilo, yang diperankan Den Baguse Ngarso, cukup jelaslah
bahwa angka itu berkait dengan dana yang pernah dijanjikan
pemerintah untuk korban gempa di Yogya dan sekitarnya.
"Lho, yang 30 juta itu nanti tidak turun dalam bentuk
rupiah kok, tapi yen," kata tokoh Pakde yang lalu meneruskan.
"Yen ono--kalau ada." Yen dalam bahasa Jawa bisa
berarti "kalau".
Rutinitas
Merdeka Secara Jenaka dikemas sebagai tontonan yang menggabungkan
unsur musik, nyanyian, dan teater yang disutradarai Agus
Noor. Selain awak Orkes Sinten Remen, "Pertoenjoekan
Hiboeran" ini juga didukung pelawak Joned, Mbok Beruk,
Rieke Dyah Pitaloka, sampai Sujud Sutrisno, seorang pengamen
kendang terkenal di Yogyakarta.
Banyolan dikemas dalam guyon parikeno. Ini merupakan sindiran
yang disampaikan dalam bentuk gurauan khas dagelan Mataram.
Dengan cara itu, pihak tersindir tidak tersakiti, tapi malah
terhibur dan selanjutnya diharapkan ada semacam introspeksi—kalau
sadar.
Dialog, banyolan, dirangkai sebagai bagian dari adegan pengantar
untuk masuk ke dalam lagu. Lagu Reformasi Haru, misalnya,
dilingkungi dengan adegan seorang calo demo—diperankan pelawak
Joned—yang mencari tenaga bayaran untuk demonstrasi. Banyolan
seputar korupsi diakhiri dengan lagu Maling Budiman yang
termuat di album terbaru Sinten Remen berjudul Maling Budiman.
Penonton disodori sketsa- sketsa ironis yang terjadi di
negeri merdeka dan, konon, telah melakukan reformasi ini.
Sketsa itu disampaikan secara cair, menghibur. Setidaknya
tidak dalam takaran tegang, penuh amarah menyala-nyala seperti
gaya demonstran kesiangan.
Hiburan semacam itu disodorkan sebagai bentuk alternatif
untuk menghayati makna kemerdekaan. Penghayatan akan makna
kemerdekaan itu, seperti tersirat dalam buku pengantar pertunjukan,
selama ini dianggap telah terjebak pada bentuk-bentuk seremoni
rutin.
"Situasi seperti itu juga memperlihatkan betapa perayaan
kemerdekaan seperti telah kehilangan momentumnya sebagai
sebuah kemungkinan untuk secara terus-menerus memperbarui
konsepsi dan semangat kemerdekaan bangsa," papar Sinten
Remen dalam buku pengantar pertunjukan.
Tokoh bocah yang mengenakan seragam sekolah merah putih
digambarkan sebagai sosok yang ingin melakukan upacara bendera.
Akan tetapi, dari pagi hingga petang ia selalu gagal mengajak
setiap orang yang dijumpainya. "Pangkatmu apa? Kere
kok upacara!" kata ibu dari bocah itu yang diperankan
Mbok Beruk, komedian populer di Yogya.
Maling
Oleh Mbah Semar, segala bentuk upacara itu dipertanyakan
relevansinya dengan realitas di negeri merdeka yang tengah
menanggung bertumpuk-tumpuk masalah. Ia mempertanyakan apakah
upacara itu akan menyelesaikan masalah dan mampu mengubah
nasib rakyat. Negara merdeka, tapi, kata Mbah Semar, rakyat
konsisten menjadi kere.
Di pentas, nasib rakyat itu disodorkan dalam lagu Kere Trendy.
Masalah para kere digambarkan dalam sketsa seorang perempuan
yang ribut gara-gara kehilangan celana dalam dan kemudian
dinyanyikan dalam lagu Celana Dalammu.
Nasib para kere, wong cilik, terlihat di pentas dalam tokoh
dan profesinya, seperti tukang cukur, tukang bikin kunci,
penggali sumur—yang hanya digambarkan "gerainya"—sampai
pelacur. Orang yang terpaksa melacurkan diri pun masih susah
mendapatkan uang. Dan, ketika seseorang akhirnya datang,
ternyata orang itu tidak membayar. Wajah sengsara rakyat
tidak disodorkan dalam gaya mengiba-iba, tetapi tetap dalam
format guyonan.
"Kok dengaren ya, ora ana bojone uwong sing pada ucul—tumben
tidak ada suami orang yang pada keluyuran," celetuk
pelacur yang disambut tawa riuh penonton.
Kemerdekaan, upacara, dan nasib rakyat seperti berdiri sendiri-sendiri,
tidak saling berkait. Mbah Semar menjadi heran karena upacara
yang menjadi momentum untuk merefleksikan makna kemerdekaan
itu diikuti oleh para maling. Terdengarlah celetukan, "Maling
(kok) upacara!"
Maka, pekik kemerdekaan sekali merdeka tetap merdeka itu
di pentas Sinten Remen dipelesetkan menjadi, "sekali
merdeka tetap maling!"
Itu hanya guyon parikeno ala Sinten Remen untuk menjadi
permenungan introspektif di hari kemerdekaan negeri ini.
(Frans Sartono)
| |