Budaya Melayu & Bhinneka Tunggal Ika
Bagian ke-3 (tamat)

(keterangan Gambar 5)
Para pemusik tiup Melayu Deli pada festival Danau Toba 1994. Keterbukaan merupakan salah satu ciri khas dari kebudayaan Melayu, seperti yang terlihat pada kostum mereka yang telah memakai batik sebagai ikat kepala.

Masyarakat Indonesia yang dapat digolongkan sebagai pendukung kebudayaan Melayu dipersatukan oleh penggunaan bahasa Melayu. Sejak abad ke-7 bahasa Melayu sudah menjadi lingua-franca (bahasa penghubung) antar berbagai anggota masyarakat di kawasan nusantara, terutama dalam dunia perdagangan. Suatu bahasa tidak selalu erat kaitannya dengan budaya tempat bahasa itu digunakan. Bahasa Melayu tidak hanya dipakai dan dikembangkan oleh orang Melayu tapi juga oleh kelompok-kelompok etnis yang lain. Itulah sebabnya bahasa Melayu berpotensi menjadi bahasa nasional, tentunya diperkaya oleh sumbangan dari bahasa-bahasa daerah lainnya.

Pada dasarnya agama Islam yang dianut oleh orang Melayu adalah Islam Tharekat dan aliran yang membenarkan tetap berlangsungnya tradisi-tradisi setempat yang bernaung di bawah keagungan Islam. Dalam agama Islam yang dianut oleh orang Melayu terdapat variasi ajaran, yaitu perpaduan antara Islam tradisional dan Islam modern. Variasi ini mengikuti sejarah perkembangan kerajaan-kerajaan Melayu yang tradisi-tradisinya masih tetap berlaku sampai sekarang dalam wilayah-wilayah bekas kekuasaan kerajaan-kerajaan yang bersangkutan.

Kebudayaan Melayu juga menghasilkan variasi identitas orang Melayu sendiri. Suatu ciri ke-Melayu-an yang penuh dengan keterbukaan yang dilandasi oleh prinsip hidup bersama dalam perbedaan. Prinsip ini sebenarnya dapat disamakan dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan bangsa Indonesia.

     

 


FastCounter by bCentral