Berbekal Pedang, Gho Hu Se Raih Bintang Jasa Pratama
Ken Yunita - detikcom
Jakarta - Berbekal sebilah pedang, Gho Hu
Se, warga keturunan, melawan Belanda merebut kemerdekaan.
Jiwa raga pun rela dipersembahkan untuk tanah air.
Wajah Gho Hu Se tampak sumringah kala Presiden
SBY mengalungi tanda kehormatan Bintang Jasa Pratama di
lehernya di Istana Negara, Jalan Veteran, Jakarta, Selasa
(15/8/2006).
"Saya senang sekali terima penghargaan
ini. Saya senang hati bisa pakai ini," kata Gho Hu
Se yang mengenakan baju veteran coklat dan peci kuning.
Menurut dia, mantan Presiden Soeharto pun
pernah menjanjikan akan memberikan tanda kehormatan. "Dulu
Bapak Soeharto mau pasang ini, tetapi tidak jadi. Saya tidak
tahu kenapa," ujar pria kelahiran Sibolga, Tapanuli
tahun 1922 ini.
Senyuman terus mengembang saat berbagi kisah
perjuangannya kepada wartawan di Istana.
Gho Hu Se ikut serta mengangkat senjata saat
perang agresi militer Belanda II di Benteng Ulaba, Tapanuli
pada tahun 1948 hingga 1949.
"Ya mau gimana lagi, saat itu kondisinya
perang kemerdekaan dan saya harus ikut perang. Saya ikut
bertempur dan berperang. Ngatur-ngatur senjata sama teman-teman,"
terang Gho Hu Se dengan antusias.
Luka demi luka pun tidak dihiraukannya demi
meraih kemerdekaan. "Itu pertempuran mati-matian. Macem
mana kaki, tangan saya kena luka, kena pedang," ujarnya
sambil menunjukkan bekas luka di tangan dan kaki kanannya.
Kini, pejuang perang berpostur kurus dan pendek
ini menghabisi hari tuanya di Medan bersama istri tercintanya.
"Kalau mau cerita tentang perjuangan,
dan melihat foto-foto kenangan saya, datanglah ke rumah,"
ajak Gho Hu Se dengan logat Melayu yang kental. Merdeka!(aan)
|