Sudah Kehilangan

Bang Anwar dan istrinya yang kami panggil Mak Tuo dan Pak Tuo beberapa hari di rumah kami. Sudah itu mereka segera kembali ke selatan, ke tempat di mana kami dulu hidup. Di Nanchang, Desa Kepala Ayam yang jauhnya ribuan km dari ibukota. Kepergian Pak dan Mak Tuo sangat menyedihkan kami karena barulah kami terasa begitu sepi kosong. Mereka sangat berbaik-hati kepada keluarga kami. Ketika masa-masa jayanya kehidupan di Indonesia, keluarga Anwar Dharma yang berkedudukan di Medan ini pada akhirnya pindah ke Jakarta karena kebutuhan pekerjaan dan bekerja di Harian Rakyat harian organ Partai. Dia adalah salah seorang yang dianggap Bang Amat sebagai pekerja-keras, teladan dan baik. Akhirnya dia ditugaskan di Moskow.
Kini terasa pada kami begitu banyak yang meninggalkan kami. Dan kini tinggal kami bertiga. Saya harus lebih banyak mencurahkan perhatian kepada kehidupan anak-anak kami ini. Mereka sedang menghadapi ujian penghabisan SMAnya. Wita di SMA yang berbasiskan bagian A, sastra modern dan sastra klasik Tiongkok. Bahasa Tionghoanya dituntut harus lebih baik daripada di SMA biasa. Adiknya Nita di SMA yang basisnya berbahasa Inggris bahasa Inggrisnya dituntut harus lebih baik daripada SMA biasa. Dia bersekolah di mana tempat kami mengajar di IBA (Institut Bahasa Asing) Beijing ketika masa pertama kami tiba di Tiongkok.
Teman-teman Radio sangat baik perhatiannya kepada saya kepada kami. Beberapa teman sering mengajak bertamu ke rumahnya. Maksudnya agar saya dapat melupakan rasa kesedihan akibat kehilangan ini. Secara bergantian mereka datang buat mengajak saya ngobrol, main dan bepergian atau datang ke rumah teman-teman lainnya. Saya melihat usaha mereka agar saya terlupakan akan peristiwa baru-baru ini. Karena mereka datang dan mengajak maka sayapun ikut dengan rasa rela memenuhi ajakan mereka. Tetapi dari pihak saya sendiri tidak ada timbul niat buat mencari teman-teman itu. Karena saya sedang asyik “menikmati” kesendirian saya. Dalam hati saya biarlah saya sementara ini bersunyi diri masih sangat melekat bahwa saya baru saja kehilangan istri dan anak-anak saya kehilangan mamanya. Kepada anak-anak, saya sering datang ke kamarnya mengajak ngobrol. Tampaknya malah mereka lebih kuat dari saya sendiri dan syukurlah. Saya ingin agar mereka hanya berkonsentrasi kepada pelajaran mereka. Apalagi beberapa bulan lagi me-reka akan menghadapi ujian penghabisan SMAnya masing-masing.
Saya banyak membaca buku. Banyak membaca puisi asing baik dari penyair Eropa, AS maupun yang dari Tiongkoknya. Dalam keadaan begini sepi sendiri apabila datang ke rumah berbagai rasa sunyi melanda diri. Dan saya mencoba membuat puisi tentang kehidupan dan sekitar saya.
Dalam kesedihan ini saya menulis puisi yang seiring dengan kehidupan saya. Penuh dengan kesedihan, tetapi juga ada rasa perlawanan, ada perjuangan. Karena apabila diperturutkan rasa-duka begini hanyalah semata-mata membikin diri kita tenggelam dalam kesedihan dan duka nestapa.
Apalagi tugas saya kini menjadi rangkap bukan hanya jadi ayah tetapi juga jadi mama dan teman, sahabat dari anak-anak saya. Kehidupan mereka seharusnya saya pikirkan, saya dahulukan. (Holland, 16 Feb 050)

 


     

 


FastCounter by bCentral