Serba-serbi Kisah Kunjungan Ke Tanah Air Ke 50

"Dear, seru nih, cepetan liat," kata Cecile yang sedang memirsa pertandingan
All England partai final ganda campuran di TV. "Siapa lawan siapa?," tanya
saya yang rada telmi sebab kami pergi ke Sumbar hampir seminggu. Inggris
lawan RRT katanya dan hilanglah semangatku nonton. Tetapi demi hubungan baik
antara kedua direktur Jeha Outfitter :-), saya keluar juga dan nonton
beberapa bentar pertandingan partai ganda tersebut. Mestinya saya antusias
yah sebab sampai hari ini termasuk di Jakarta kami berdua badmintonan dan
bila bertanding di klub kami di Toronto, kami selalu 'mixed double'. Namun,
karena tahu Indonesia lagi loyo letoi perbadmintonannya, tidak ada satupun
pemainnya yang masuk ke final, saya ikutan lesu. Sejak beberapa tahun terakhir
tidak ada Melayu yang menjadi juara All England di partai manapun. Tebakan
Anda akan tepat bila RRT dan Korea yang kau jagokan tetapi ada berita baru.
Encik-encik Malaysia yang serumpun bangsa, sekarang menjagoi partai ganda
putera badminton di dunia. Yang lebih hebat, coach mereka si Rexy anak Indo
yang pernah jadi juara dobel putera. Apa yang membedakan prestasi kedua tim
dari negara tetangga dengan iklim sama, bikinan sama, makanan engga beda jauh,
sehingga yang satu berjaya yang lainnya lemah tak berdaya? Jawabannya ada di
teori psiko mengenai status dalam suatu tim. Para jawara yang merasa dirinya
jagoan atau sudah punya status, tak begitu perduli lagi taruh kata mereka
kalah. Mereka juga punya cem-macem alasan sesuai dengan teori 'cognitive
dissonance'. Mestilah kekalahan itu terjadi gara-gara kurangnya dana,
kurangnya penghargaan dan 1001 kekurangan lainnya, yang tidak dialami oleh
para atlit Malaysia, Korea, RRT, deeste.

Masih di dalam teori psiko untuk dipakai menjelaskan kenapa keadaan di Indo
parah dan semakin gawat, seorang pren saya warga etnis mayoritas negeri ini
mengirimkan SMS curhat katanya. Begini kira-kira isinya. Quote. "Bang JH,
skdr berbagi, ini perbincangan ogut dkk ttg negeri ini (ingat bahasa SMS,
aslinya lebih dipersingkat). Tadinya temen-temen pengen ketemu bang JH dan
empok utk ngudo roso (boso Jawi artinya curhat mendalam). Bangsa yang gagal
membangun nurani dan kesadaran baru. Sebagai society (doi intelektuil
negerinya) kita sudah gagal, krn budaya kita hancur dan kita juga tidak
menghasilkan pola pikir baru, somewhere in the twilight zone dah. Setiap
lewat kawasan yang sangat tidak teratur spt UKI, Kp Melayu, gw makin hopeless
thd Indo. Kenegarawanan spt apa yang bisa elo harapkan dari seorang
wapres/menteri yang masih meributkan soal gaji mrk? Apa bedanya mereka dengan
buruh? Belum kalo kita bicara soal pola pikir kaum kelas menengah yang
notabene suatu hari akan berkuasa di negeri ini. So let's get out while we
still can, unless you feel that your country still needs you." Unquote.

Prens sadayana, itulah sekelumit curhat seorang anak negeri ini ke beta, yang
bisa melihat persepsinya, terutama karena sekarang ini saya tidak berada di
dalam kekemelutan negeri Anda. Tidak perlu kita melihat jauh-jauh atau
ngomong serba "tinggi" seperti dia. Kemacetan lalin saja sudah mencerminkan
kekalutan kota dan negeri ini. Seperti kemarin saya macet-cet-cet di Roxy,
dari Mangga Besar mau ke Tomang, butuh persis 2 jam, 1.5 jam lebih disitu.
Monyet-monyet, termasuk saya kalau sedang nyetir, sudah melanggar segala
macam aturan. Motor datang dari arah berlawanan di jalur kita. Bis dan angkot
ngetem (berhenti nunggu penumpang kalau Anda engga ngerti) di satu dua jalur
jalanan. Mobil terus wae meski lampunya sudah merah. Melihat merasakan
kemacetan seperti itu, konon Roxy cuma salah satu dari 1000 lainnya,
terbayang berapa besarnya kerugian negeri ini, padahal ga susah-susah banget
kalau monyet-monyet itu mau ditertibkan. Di seluruh jalur jalan itu, tak
ada satupun polantas bertugas, sebagai gantinya beberapa Pak Ogah berusaha
sebisa mungkin mereka, untuk mendapatkan nafkah a la kadarnya. Itulah
sebabnya saya jadi males nyupir di kunjungan kali ini sebab mobil pinjamanku
manual dan terakhir kaki seraya bayem mengalami kemacetan jam-jam-an.

Inilah dongengan terakhir di kunjungan Bang Jeha pulkam ke kota kelahirannya
di Januari 2006. Awal keokean dimulai pagi-pagi ketika seorang pengendara
motor, pegawai dari titipan kilat TIKI, datang mengantarkan DVD 'Memoirs
of A Geisha' hadiah seorang fans dongenganku :-). Setelah kucoba, bukan saja
gambar yang keluar serba tajam teknikolor, suaranya yang nyaring terdengar
dari loudspeaker di laptop ThinkPadku. Alamat perjalanan 24 jam balik ke
Toronto akan tidak semembosankan seperti biasanya, apalagi masih ada 10 DVD
lainnya yang kubawa. Keokean nomor dua tiba ketika 3 buku hadiah prenku JWJ,
sampai di rumah nyokapku. Dua buku mengenai bonsai dan yang ketiga berjudul
Kraton Jogja, The History and Cultural Heritage. Buku yang bernara-sumber
puluhan ningrat dan orbek wong Jawi, direktur proyeknya adalah ya prenku
Junardy, nama bagusnya. Keokean masih belum habis. Sejak pertama pulkam
setelah sahaya pindah ke luar batang, tahun 1986 ketika itu, koper belanjaan
barang pulang ke TO selalu saya yang ngepak. Da bosku tinggal duduk memantau
karya suaminya :-). Dibutuhkan suatu seni atau ilmu tersendiri untuk ngepak
koper, apalagi kalau isinya akan membuat toko makanan camilan di Toronto
tersaing :-). Anda sebut bumbu apa, mestinya ada, sampaipun ke kemiri segar,
daun salam dan terasi. Krupuk dari mulai Ny. Siok, Ny. Giok, Ny. Kiok,
kumplit, termasuk kerupuk Palembang Bangka Padang, kripik pedasnya maksudku.
Pokoknya ke empat koper kami masing-masing akan fully loaded, 70 lbs satunya.
Nah, keasyikan hamba di kali ini, ialah dibantu pembokat ibuku yang ngepak.
Mengapa ia mendadak rajin demikian? Sebab ia tahu kalau sekarang ini saya
yang ngepak, alamat 10 pak getas Bangka akan jadi 5 :-), 20 pak kerupuk
bawang akan jadi setengahnya, 20 pouch kecap Cap Bango akan jadi hanya
beberapa doang, dan seterusnya. Sekitar 10% dari total berat bawaan adalah
titipan sedulur prens kami di Toronto, maupun oleh-oleh JHO untuk clientnya.

Tibalah saatnya sahaya minta permisi dari Anda semua, baik rombongan
pulkampers ke SumBar, Anda-anda di Indo yang perjalanan hidupmu sebulan ini
bersilangan dengan saya karena kita sempat bertemu, maupun terutama sedulur
keluargaku dan nyonya. Terima kasih bagi semua persahabatan dan kasih kalian
kepada hamba dan isteri, di dalam bentuk apapun. Terima kasih sebelumnya atas
doa restu selama ini, dimana saya butuhkan kembali banget-banget dalam
perjalanan kami ke Toronto, Kanada, di esok hari. Sampai berjumpa, adios
farewell so long adieu goodbye, lam lekom selalu.

Jusni Hilwan
Email ID: hilwan@rogers.com Website: http://www.deegos.net/jho
Toronto, Canada

 

     

 


FastCounter by bCentral