KEHIDUPAN SELAMA di TIONGKOK – Bagian ke-29
Sub judul: Pada Puncaknya

Sobron Aidit
Berjaga-jaga dan bersiap-siap buat menerima kabar buruk melalui deringan tilpun dari rumah sakit atau dari pihak kantor kami, Radio Beijing. Setiap hari apabila sudah sampai di rumah. Sudah tentu situasi tegang sangat menyelimuti saya. Kurang tidur, syaraf terganggu, tidak ada rasa ketenangan dan selalu dalam kehidupan cemas, penuh kekuatiran yang entah kapan datangnya. Yang saya tunggu berita deringan tilpun itu, ternyata tidak datang melalui penantian. Tetapi datang justru melalui ketokan pintu di rumah kami.

Pagi-pagi belum jam 05.00 seorang teman yang sedang bertugas malam itu di Radio mengetok rumah kami. Dia Siao Lie tamatan Universitas Guangdong-Kanton, seorang teman muda, seorang penyiar warta berita,memberitahukan, "Pihak rumahsakit memberitahukan kepada kami, agar bapak ke rumahsakit sekarang ini, karena keadaan ibu sedang dalam krisis. Mobil sudah kami siapkan di bawah. Saya memberitahukan kepada beberapa teman.......", lalu Siao Lie berpamitan. Saya segera membangunkan anak-anak. Saya beritahukan dengan agak pelan dan tenang. Mereka bersiap berangkat. Kami bertiga yang menurut rencanya hari ini, Minggu, akan makan-siang bersama dan saya sudah masak-memasak. Padahal kemaren Sabtunya, Wati masih sempat tersenyum dan tertawa, kini dilaporkan dalam keadaan krisis.

Semua yang saya persiapkan kemaren sorenya tidak kami bawa serta. Dan apakah ucapan Wita sambil dia sesenggukan itu sudah dalam pelaksanaan keputusan Tuhan? Kami sudah merelakannya. Sesampainya kami kira-kira jam 06.00, kami segera menuju kamar Wati. Badan, dadanya sudah penuh dengan sambungan snoer (kawat) halus yang disambungkan dengan mesin cardiogram, lalu ada lagi alat lainnya. Dari layer kaca, ecran, dapat dilihat jalannya jantung yang sudah melemah. Dan dia sudah dalam keadaan koma. Sudah tak bisa bicara dan hanya matanya yang mengecil melihat dan meperhatikan kami.
Dua anak saya mendekati ibunya, memegangi tangannya dan memeluk badan ibunya. Saya biarkan mereka, siap berpisah dengan mamanya. Lalu saya katakan kepada dua anak saya, agar mereka pulang dulu ke rumah untuk menyiapkan pakaian mamanya secara lengkap. Kebaya dan kain dan selendangnya. Saya pesankan agar mereka memilih pakaian mamanya sebagaimana mamanya pergi ke pesta di Gedung Rakyat dan KBRI. Dan pilihkan yang terbaik menurut kalian berdua. Tanpa dikatakan apapun kedua anak saya sudah tahu dan penuh pengertian bahwa hari itu kami akan berpisah buat selama-lamanya dengan mamanya. Mereka segera akan kehilangan mamanya dan saya sebentar lagi akan segera kehilangan istri dan lalu menduda.

Sambil menunggu di pinggiran ranjang Wati, saya memegangi tangannya yang sudah lama kurus, mengecil dan wajahnya memperhatikan saya dengan tenang. Saya berusaha sekuatnya untuk tenang dan menguasai diri. Dalam batin saya - agar lekaslah dua anak-anak saya itu kembali ke rumah sakit karena saya lihat mamanya seakan-akan menunggu kedatangan mereka berdua. Sudah itu lalu dia bisa pamitan dengan tenang kepada kami bertiga. Saya sangat bersyukur karena mejelang jam 07.00 mereka berdua kembali ke kamar mamanya. Dan mamanya sedikit menggerakkan tangannya memegangi tangan kedua anaknya itu.
Saya lihat gambaran grafik di layer kaca cardiogram sudah terputus-putus dan melemah. Akhirnya dia memejamkan mata buat selama-lamanya. Anak-anak sudah tahu pertanda apa semua itu. Dan dua anak saya menjerit sedih karena ditinggalkan mamanya. Wita terjatuh di lantai, pingsan dan Nita hanmpir tak sadarkan diri. Kini sayalah yang mengambil-alih tongkat komando sebagai orangtua, merangkap kedua-duanya, sebagai ayah dan sebagai ibu. Tak sebutirpun airmata saya jatuh berlinang! Saya masih bisa tahan, dan orang orang teman kami dari Radio semakin banyak berdatangan. Rupanya mereka sudah dipesankan oleh pihak rumah sakit bahwa Wati memang sudah waktunya buat pergi untuk selama-lamanya. Sudah pada batas maksimum kekuatan pihak rumah sakit buat menyelamatkannya tetapi rupanya kepandaian dan kesanggupan manusia sangat terbatas.

Dokter berdatangan, tidak lagi hanya mengurus jenazah mamanya anak-anak, tetapi juga mengawasi dan melindungi kami bertiga. Pihak rumah sakit langsung "menyelamatkan kami". Pihak rumah sakit tahu akan semua kehidupan dan kesehatan kami. Seorang dokter yang saya memang sudah kenal baik, segera mengukur tekanan darah saya dan pals tangan saya. Masih dalam batas bias dan masih ada kesanggupan seperti biasa. Walaupun agak naik yaitu 180/110 dan pals 84. Wita yang tadi pingsan tak perlu pengobatan apapun. Dan adiknya masih lebih tahan dari kakaknya. Dan saya tetap dapat menahan agar tak mengalirkan air mata.
Orang-orang sudah banyak berdatangan buat mengucapkan rasa belasungkawa. Saya masih sempat melihat para pimpinan Radio sampai ke tingkjat pusat penuh kesibukan mengatur semua persiapan pemakaman istri saya dan mama dari dua anak saya. Oh, dulu ketika berangkat pada tahun 1963 meninggalkan Jakarta, Indonesia, Wati sesenggukan menagis. Yang ketika itu banyak teman-teman mengantarkan kami di Kemayoran termasuk Bung Nyoto dan banyak teman. Kini dua-dua mereka ini sudah meninggalkan kami, baik Wati yang diantarkan dulu itu maupun Bung Nyoto yang mengantarkan. Dua duanya meninggal dengan cara berlainan, tetapi pengabdiannya masih dalam satu orbit,- Holland,- 14 Feb 2005.

     

 


FastCounter by bCentral