Serba-serbi Kisah Kunjungan Ke Tanah Air Ke 49
(SumBar Trip Report # 3)

Tuhan Mahabaik, trims untuk doa-doa Anda, bukan saja kami para peserta
pulang kampung diberkahi dengan cuaca yang oke punya sepanjang trip kami,
terlebih kami dipilihkanNya 'base camp' bernama Kotogadang. Selain letaknya
relatif di pusat SumBar, udaranya sungguh oke sekali bagi saya dan nyonya
penduduk Toronto, Kanada. Airnya jernih bak 7-Up dan dinginnya pas, tidak
seperti air es di cagar-cagar alam Kanada. Ketika kami selesai hiking ke
sungai di Ngarai Si Anok, air yang sesejuk itu sungguh menyegarkan untuk
dipakai mandi. Sejarah Kotogadang istimewa dan itu sebabnya kami
ditempatkanNya disana :-). Konon itulah desa pertama seSumBar yang punya
sambungan telepon, air ledeng dan mungkin juga listrik. Kenapa? Lantaran
pandangan terbuka dari para datuk pemuka adat disitu. Ketika Belanda
memperkenalkan menjual teknologi canggih mereka yang dicurigai ditolak di
kampung lainnya, mereka menerima dan memanfaatkannya. Yang lebih oke lagi
adalah sekolah atau pendidikan modern beraksara Latin di SumBar, dimulai
dari situ. Itu sebabnya datuak-datuak prens kami mampu Holland spreeken a la
kadarnya.

Selesai makan pagi dimana roti selalu tersedia di rumah Neng, kami cabut
menuju Danau Maninjau. Tujuan pertama adalah suatu tempat bernama Embun Pagi,
nama yang belakangan kujumpai sangat tepat. Tikungan dan tanjakan menjelang
dan sesudah Matur, desa kampung halamannya Zein temanku, biasa-biasa saja.
Barulah nanti seusai Embun Pagi, saya menjumpai kelokan yang menurutku sih
'da best in the world' untuk cari mati. Nama kelokannya 'ampe puloh ampe'
atau 44 ditulisnya. Seluruh kelokan yang jumlahnya 44 itu berpola tapal kuda
atau melingkar hampir 360 derajat. Karena kami di dalam bis alias
kecepatannya rendah, maka tidak ada yang sampai mabok atau mual muntah.
Kalaupun ada yang sakit yang pusing, itu adalah bayaran yang murah sekali
untuk berkesempatan melihat Danau Maninjau, yang menurutku memang indah
cantik sekali. Sudah 100 danau yang saya lihat alias standard referensiku
mestinya 'above average'. Danau-danau di Ontario banyak yang indah, tetapi
tidak ada satupun yang dilatar-belakangi barisan bukit-bukit. Lantaran Danau
Maninjau adalah danau yang terbentuk dari kawah purba, letusan gunung berapi
disitu entah di jaman kapan. Pemandangan yang pertama disuguhkan kepada kami
adalah dari tepi atasnya, di Embun Pagi tersebut. Berkat tour guide pa/bunitia
yang kenal medan meskipun anak Padang semua :-), kami tiba masih di pagi hari,
ketika uap air dari permukaan danau sedang menguap ke atas. Pemandangan
seperti itu juga biasa untuk beta yang sering canoeing dan bangun di pagi
hari, menikmati keindahan alam raya. Namun yang istimewa di Danau Maninjau,
uap atau embun yang menguap itu menyatu menyapa awan-awan putih yang juga
bertebaran di atas danau di bagian perbukitannya. Pemandangan seperti itu
istimewa sebab sang danau perlu berada di ketinggian dimana awan akan
berkumpul di dekatnya. Danau-danau di Rocky Mountains-nya Kanada, di Alberta
dan British Columbia, kupercaya juga demikian tetapi mana ada perkedel
restoran Padang disitu. :-)

Ibukota propinsi Agam, Lubukbasung, sama seperti Pekalongan, tahan napas
sebentar, lewat lah alun-alun dan seluruh kotanya :-). Tiada yang menarik
lagi sepanjang perjalanan, kecuali banyaknya orang kawin di hari itu, mungkin
tahu akan diliatin sebis. Dari Lubukbasung, suhu mulai panas sebab menuju
ke arah pantai. Tidak jauh dari kota Pariaman, menjelang lapangan terbang
BIM, kami singgah di Pauh untuk makan siang terakhir di trip ini. Sedih sekali
rasanya ketika pelayan restoran mengatakan mereka tidak punya perkedel :-).
Sebagai layaknya seorang datuak dan yang dituakan maupun ya sudah gaek :-),
Datuak Palindih angkat bicara ketika bis mulai mendekati BIM. Sahaya kebagian
dibawa-bawa di dalam ceritanya kenapa ia sampai mau susah-susah cape-cape
mensponsori trip kami ini. Ya, tak lain tak bukan karena ia mau mempromosikan
keasyikan air SumBar sehingga Bang Jeha cukup makan nasi dan air, sudah sehat
kuwat dan hampir bisa menyaingi seorang anak Mapala UI yang masih aktif.
Dasar si Agam emang kelakuan, ia memberikan pertanyaan ledekan ke saya: "Jadi
Jus, kayanya kita engga bisa naik gunung sama-sama (sebelum saya aut)?"
Sahaya hanya bisa nyengir bak kuda tua yang tadinya dinaiki Jengis Khan.
Mungkin ia mau ngekik saya balik sebab sebelumnya saya sudah bertanya juga
kepadanya, "Gam, kapan elu mau bemodal sendiri ke Kanada, ikutan camping
canoeing ama gua ke cagar alam?" Dengan tersipu-sipu ia berkata, "Iya yah,
gua emang belon pernah pake duit sendiri ke Kanada."

Itu hanya satu contoh ledek-ledekan di antara kami semua, sebagian besar
orbek di kampung mereka meski tidak mempunyai gelar datuak. Tak mungkin Pak
Agam yang sehari-hari tasnya dibawain satpam waktu masih jadi direktur Bank
Mandiri, bukan saja bisa kita panggil namanya, juga kita sindirin :-). Tiada
batasan suku, agama dan ras di dalam perumpian kami, sesuatu yang sudah dari
sononya di kumpeni ibeem. Gelak tawa dan canda kami pun disertai oleh cuaca
yang sangat bersahabat, hampir tak pernah turun hujan sepanjang perjalanan
atau di tempat kami turun keluar. Tidak sekalipun perutku yang rada sowak
bertingkah karena memang air di Kotogadang seperti 7-Up, sayangnya cuma
kadang-kadang doang keluarnya :-). Tentu itu bukan salah tuan nyonya rumah
kami lantaran kupercaya banyak pabrik air botolan yang sudah mengurasnya
terlebih dahulu. Satu buktinya, ketika saya lagi hiking di desa Si Anok, kami
menjumpai beberapa maling kayu alias penebang liar disitu.

Tibalah akhir dari tayangan yang kuberi subjudul khusus ini, trip
report ke Sumatera Barat, salah satu propinsi indah dan masih asri di Indo.
Kepada semua peserta yang mencapai 34 orang, atas nama pa/bunitia, kuucapkan
terima kasihku. Kepada para pendoa dan pemberi ucapan selamat terutama di
milis ex-IBM-er Sanbima, tararengkiyu prens. Atas persahabatan Anda semua,
thank you very much my beloved friends. We shall treasure our friendship
till the day we say goodbye forever. Sampai bertemu di kisah yang mendatang
yang akan merupakan seri terakhir dari dongengan Bang Jeha di awal tahun ini.

Jusni Hilwan
Email ID: hilwan@rogers.com. Homepage: http://ca.geocities.com/hilwan
Toronto, Canada

     

 


FastCounter by bCentral