BENCANA ALAM JANGAN SAMPAI TUTUPI MASALAH-MASALAH BESAR NASIONAL

Akhmad Assad
Bencana alam besar ataupun kecil tak kunjung henti mendera negeri kita sejak selesainya pilpres 2004 dan timbulnya "pimpinan nasional" yang baru .Ternyata berragam kebijakan yang dijalankan oleh formasi kekuasaan yang baru, secara nasional juga banyak miripnya dengan dampak bencana-bencana alam itu.
Hati kita sedih ketika tsunami menerpa Aceh dan kini kita pilu kembali dengan apa yang diperbuat oleh gempa di Daerah Istimewa Jogjakarta dan provinsi Jawa Tengah. Ditambah lagi dengan sejumlah kalamitas lain yang berskala lebih kecil dibanyak bagian Nusantara.
Namun hendaknya kita ingat bahwa semua itu serta dampaknya, penderitaan yang dirasakan oleh sesama warga dan saudara kita setanah air, jangan sekali-kali sampai membuat masyarakat kita melupakan dan lengah terhadap jumlah besar masalah-masalah besar dalam skala nasional yang dihadapi oleh bangsa kita.
Sangat sukar untuk membuat urutan prioritas dalam menyebut problema-problema yang berat, rumit dan banyak yang telah berlangsung lama.
Sangat krusial dan menentukan dalam upaya bangsa kita untuk mengalahkan praksis dan budaya korupsi, kolusi dan nepotisme ialah pentingnya menyelesaikan secara tuntas melalui jalur hukum kasus mantan presiden Soeharto. Demikian juga aspek crime against humanity dari kasus itu yang sekait dengan jatuhnya korban berjumlah sangat besar pada peristiwa-peristiwa 1965-1966.
Sangat menentukan pula sekait dengan eksistensi Republik Indonesia seperti yang kita punyai sekarang ini ialah masalah RUU Anti Pornoaksi dan Pornografi. Tentu saja semua negara didunia ini mempunyai UU tentang perbuatan mesum dan pornografi. Namun larangan yang kebablasan, apalagi yang disengaja disusupi oleh maksud memberlakukan secara setapak demi setapak sebuah azas yang bertentangan dengan keadaan dan tradisi bangsa kita yang plural dan toleran adalah sangat membahayakan bagi persatuan dan kesatuan kita dalam kehidupan berbangsa. Inilah bahaya RUU APP bila sampai formulasinya yang akan disahkan oleh DPR akan bertolak belakang dengan substansi Pancasila.
Permasalahan besar lainnya ialah hubungan pemerintah terkini yang bersifat sangat mengabdi (servile) kepada modal asing sekait dengan masalah Freeport, Blok Cepu, Newmont dan lain-lain. Sekait Freeport, sikap pemerintah yang hanya mengobarkan sentimen nasionalis semata pada dampaknya dengan kehidupan warga di Irian Barat dengan mengabaikan pembangunan cepat dan yang dapat diraba (tangible) disana bahkan dapat berdampak pada sentimen untuk melepaskan diri dari Republik ini. Dan tanggungjawab terletak sepenuhnnya pada pundak pemerintah SBY-JK.
Kumpulan sangat besar dari masalah yang berawal dari kebijakan pemerintah terkini, seperti dalam hal menaikkan harga BBM secara sangat drastis, sangatlah merugikan kehidupan rakyat banyak. Sangat optimistik bahwa misalnya kaum pekerja, buruh dan karyawan, demikian juga petani dan elemen-elemen masyarakat lainnya telah berani menggeliat untuk menuntut perbaikan nasibnya. Para cerdik pandaipun tak henti-henti melontarkan kritik pada pemerintah karena penyelenggaraan negara nya sangat amburadul.
Semua ini menuntut pada seluruh bangsa untuk berorganisasi, bergerak, bersatu dalam kegiatan untuk memperbaiki nasib bangsa ini. Jajaran kekuasaan yang ada semakin tampak sudah perlu untuk diganti dengan yang pro rakyat, pro demokrasi dan pro bangsa. Semua ini adalah tugas berat kita, demi kita sendiri pula.
AAsaad

     

 


FastCounter by bCentral