|
 |
|
Pendidikan
Demokrasi di Amerika
Oleh: Najlah Naqiyah
M, Pd
Penulis adalah utusan dari pondok pesantren
Syeh Abdul Qodir Al-Jailani Kraksaan Probolinggo
Chicago,10 Mei 2006. /Indonesia Media
Pendidikan,
toleransi dan demokrasi di Amerika memiliki tantangan besar
menyangkut pembangunan ekonomi dan partisipasi politik.
Tanggung jawab pemerintah USA adalah memberikan layanan,
sedangkan rakyat mempunyai tanggung jawab untuk memanfaatkan
layanan. Pada konstalasi Amerika, pendidikan tidak dibicarakan
di pemerintah pusat, tetapi diserahkan sepenuhnya pada kebijakan
negara bagian. Undang-undang federal Amerika menyebutkan
bahwa pemerintah negara bagian bisa mengambil tanah dan
melelangnya untuk membangun lembaga pendidikan, seperti
sekolah dan universitas. Isue yang berkembang sekarang adalah
apakah negara bagian yang lebih banyak memberikan biaya
pendidikan atau biaya dari pajak properti?
Di Amerika terdapat dua sistem pendidikan, yaitu sekolah
negeri (public school) dan sekolah swasta (privat school).
Sekolah negeri adalah berafiliasi dengan negara. Sedangkan
sekolah swasta berafiliasi dengan agama tertentu. Di Chicago,
ada dua universitas ternama yaitu University of Illinois
Chicago (UIC) dan Chicago University.
UIC aadalah universitas negeri yang dibiayai oleh pemerintah
kota, sedangkan universitas Chicago dibiayai oleh partisipasi
orang tua.
Isue pendidikan di Amerika saat ini ada tiga hal, (1) siapa
yang menanggulangi biaya pendidikan (2) siapa yang membuat
kurikulum sekolah (3) siapa yang mempunyai akses. Untuk
menanggulangi sekolah diperoleh dari pajak rumah, tanah,
properti serta kekayaan. Hasil pajak tersebut untuk membiayai
sekolah dikomunitasnya. Persoalan yang muncul sekarang di
Amerika ialah adanya segregasi sosial yang makin lebar.
Orang-orang kaya tinggal di tempat yang berbeda dengan orang-orang
miskin. Mereka membentuk area tempat sekolah yang berbeda
pula, sehingga adanya perbedaan antara kualitas sekolah
yang dimiliki oleh komunitas orang kaya dan miskin. Sekolah
di komunitas orang-orang kaya sangat maju, sedangkan sekolah
bagi orang-orang miskin sangat terbelakang. Hal ini mengancam
adanya ketidaksetaraan dan kesempatan (equal and control)
yang kini tengah bergulir di Amerika serikat.
Siapa yang membuat kurikulum sekolah? Kurikulum sekolah
adalah berkaitaan dengan apa yang diajarkan disekolah. Dalam
undang-undang pemerintah federal tidak mendukung salah satu
agama, karena itu sekolah negeri tidak ada pelajaran agama.
Pendidikan umum cenderung sekularistik. Sebaliknya sekolah
swasta cenderung berafiliasi dengan agama tertentu (relegius
school), misalnya sekolah yang dikelola oleh komunitas Katolik,
seperti SMA Swasta Agama Katolik Cristo Rey Jesuit yang
berorientasi pada pelayanan di salah satu wilayah yang berkembang
di Chicago. Alasan didirikan sekolah ini untuk meningkatkan
kemanusiaan dan intelektual, melestarikan warisan keagamaan
dan kebudayaan. Kurikulum dilakukan dengan dwi bahasa dan
berpartisipasi dalam Corporate Intership Program. Sekolah
berbasis agama Islam Universal di kenal juga di Amerika
Utara, usaha yang unik dilakukan dengan memasukkan bahasa
arab sebagai bahasa kedua, mengikuti proyek tarbiyah. sekolah
ini menggunakan busana muslim dengan izin tertentu. Sejak
didirikan sekolah swasta, banyak memberikan sumbangan bagi
pendidikan di Amerika serikat. Persoalannya ialah jika sekolah
memiliki dana yang terbatas, maka kurikulum pendidikan seperti
seni dan musik menjadi berkurang di sekolah Amerika.
Pada dasarnya yang menentukan standar minimum kurikulum
di tingkat sekolah menengah adalah negara bagian. Sedangkan
pada tingkat universitas, dikelola secara independen oleh
universitas tersebut.
Perolehan akses di setiap lembaga pendidikan begantung dari
komunitas lokal. Pemberian akses pendidikan menyangkut pada
kesetaraan (equality) dan kesempatan (opportunity). Bagi
komunitas yang kaya, tentu tidak menjadi persoalan, tetapi
bagi komunitas yang miskin, akan menjadi sangat sulit memperoleh
akses pendidikan yang berkualitas. Pertentangan antara equality
dan controlling menjadi suatu yang niscaya dicarikan jalan
keluarnya. Misalnya, pemerintah negara bagian bertanggung
jawab untuk mendanai pendidikan. Sayangnya, Illinois adalah
negara yang rendah berpartisipasi pada pendidikan, hanya
30%saja dari anggaran negara Illinois untuk biaya pendidikan.
Ada kekhawatiran juga apabila sekolah
secara keseluruhan di danai oleh negara bagian, maka masyarakat
setempat tidak memperoleh akses untuk mengontrol sekolah.
Menyangkut tentang kesempatan (opportunity), Amerika telah
memberikan akses untuk orang-orang yang memiliki kemampuan
berbeda (disability) dengan memberikan program pendidikan
khusus. Sekolah program khusus dibentuk untuk mengurangi
diskriminasi. Diskriminasi saat ini terasakan lebih banyak
dikarenakan perbedaan kekayaan, maka diperlukan upaya memajukan
demokrasi melalui pendidikan
• Demokrasi dan Pendidikan
• Anak-anak menjadi agen untuk mempromosikan demokrasi.
Jika demokrasi berjalan, maka harus memiliki orang-orang
yang berpendidikan untuk dipilih. Orang yang dipilih sebagai
wakil harus mampu dan bisa diajak berdialog, berkomunikasi,
tentang segala aspirasi masyarakat. Seorang wakil yang bisa
memilih invormasi yang benar untuk membela kepentingan rakyat.
Pendidikan adalah tempat untuk menyemai ajaran demokrasi
pada generasi muda. Mendidik anak-anak agar mengetahui tugas-tugas
kongres, tanggung jawab presiden, peran pengadilan, tanggung
jawab sebagai warga negara, dan sistem pemerintah yang dianut.
Di Amerika, ada ribuan posisi di tingkat lokal yang bisa
diperebutkan oleh orang-orang yang berpendidikan. Misalnya,
menjadi wali kota, dewan sekolah, kepala sekolah dan sebagainya.
Tujuan demokrasi ialah memberikan kesempatan kepada setiap
individu untuk membangun kantornya sendiri. Dan pendidikan
adalah kunci terbentuknya demokrasi yang kokoh. Semakin
tinggi pendidikan seseorang semakin banyak terlibat berpartisipasi.
|