Pendidikan multikultural di Chicago.

Najlah Naqiyah
peserta CLP (Community Leadership Program) di Chicago



Sikap toleransi semakin dibutuhkan ditengah peradaban globalisasi. Salah satu kota yang tengah berproses mengembangkan peradaban multikulturalisme ditemui di Chicago. Chicago adalah miniatur dari kota bagian ketiga terbesar di Amerika Serikat. Chicago sebagai pusat kota dimana tempat orang bekerja. Chicago terdiri dari berbagai penduduk dari berbagai negara. Penduduk tinggal di Chicago berasal dari 50 % kulit putih dan 50 % kulit hitam. Sebagian kecil lainnya adalah orang-orang kulit coklat. Penduduk yang tinggal di kota ini berasal dari berbagai agama yang berbeda. Islam, Kristen Katolik, Protestan, Hindu dan Budha dan Atheis bisa hidup di kota Chicago. Chicago memiliki keunikan budaya. Keunikan tersebut nampak setiap individu yang hidup di kota Chicago. Orang Chicago Amerika tidak begitu perduli dengan orang lain, tetapi mereka sangat tipikal. Orang Chicago biasanya mengenal dulu orang lain, sebelum menghakimi orang tersebut. Keunikan lain juga nampak dari budaya orang-orang Amerika.

Sikap toleransi multikultural sangat terasa di Chicago. Multikultural nampak nyata dari keseharian penduduk kota Chicago. Misalnya, kesediaan orang-orang kulit putih berdampingan dengan orang-orang kulit hitam. Kesediaan menerima orang-orang asing untuk hidup berdampingan dengan orang Amerika. Sikap terbuka terhadap perbedaan adalah ciri masyarakat Amerika. Kesediaan berbagi tempat untuk orang-orang berbeda agama. Suasana multikultural juga terasa pada setiap perjumpaan dengan penduduk kota Chicago. Mayoritas mereka sangat ramah dan menyapa orang yang mereka temui dengan ucapan yang sopan. Mereka terbiasa dengan mengucapkan terima kasih.


Bagaimana kota Chicago membangun peradaban Multikultural? Peradaban toleransi multikultural dibangun dari kesadaran setiap orang yang tinggal di kota Chicago. Peradaban tersebut adalah disiplin, kesetaraan dan persamaan manusia, penegakan hukum, keadilan. Peradaban toleransi memang lahir dari budaya Chicago yang dihargai oleh penduduknya. Tentu, penghargaan tersebut lahir dari sistem pendidikan masyarakat Chicago yang diajarkan di sekolah dan diterapkan sehari-hari. Anak-anak belajar tentang tepat waktu dan disiplin di sekolah. Anak-anak melihat perilaku orang dewasa yang nampak di keseharian mereka. Anak-anak berinteraksi dengan realitas sosial seperti alat-alat transportasi yang mereka tumpangi. Anak-anak belajar dan menemukan sendiri bahwa angkutan umum seperti bus dan kereta api berjalan tepat waktu, aturan-aturan yang dilakukan di masyarakat Chicago berjalan. Mereka belajar dari keseharian para orang tua dan orang dewasa lainnya. Budaya disiplin dan tepat waktu
akhirnya menjadi habits (kebiasaan) yang mendarah daging sejak kecil. Di Indonesia, justru yang terjadi adalah kecuekan pemerintah terhadap anak-anak miskin yang harus membayar mahal transportasi umum ke sekolah. Akhirnya anak-anak sering terlambat datang ke sekolah, gurunya juga sering terlambat. Anak-anak Indoensia sangat miskin contoh disiplin dari masyarakatnya. Menyadari hal tersebut, sudah saatnya, pemerintah Indonesia mulai memikirkan bagaimana agar transportasi berjalan secara cepat dan tepat waktu. Bagaimana caranya untuk memberikan subsidi transportasi? Indonesia bisa mencontoh Chicago, dengan memberi anak-anak kartu-kartu transportasi secara murah yang bisa dipakai oleh siswa dengan transportasi layak, bukan dengan memberikan uang bantuan BBM secara langsung dan tidak jelas digunakan untuk apa uang bantuan BBM tersebut oleh siswa. Dengan demikian, bantuan subsidi BBM akan terasa lebih nyaman dan aman bagi siswa, daripada sekedar pembagian uang tunai yang jumlahnya sedikit, dan tidak terkontrol apabila kebutuhan transportasi siswa tetap mahal.


Multikultural yang tumbuh di Chicago ialah kesediaan setiap orang untuk saling menghargai perbedaan satu dengan yang lainnya. Hidup berdampingan dengan perbedaan agama tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kesediaan bersikap toleran akan sangat di butuhkan. Islam sesungguhnya memiliki ajaran demokrasi, keadilan, persamaan derajat, dan toleransi serta disiplin. Tetapi pada realitas keseharian, hal itu belum terwujud di Indonesia yang 90 % penduduknya mayoritas Islam. Di Indonesia , ajaran Islam hanya hidup diatas teks suci yang setiap kali dibaca di pesantren-pesantren dan di masjid-masjid, tapi jauh dari praktek sehari-hari saat menjalani kehidupan. Betapa Islam sangat menganjurkan untuk tepat waktu. Bahkan Allah SWT juga bersumpah demi waktu. Bahwa manusia adalah berada dalam kerugian apabila manusia tidak menggunakan waktu dengan baik. Ajaran solat mengajarkan orang-orang Islam untuk tepat waktu. Solat fardu sehari lima kali, adalah ajaran yang mengandung nilai untuk menghargai waktu. Herannya, mengapa justru ummat Islam terbesar di Indonesia masih berleha-leha ? Karena ajaran Islam belum menyatu pada perilaku keseharian pemeluknya. Ummat Islam masih tidak mampu mengatur bagaimana agar memperoleh teknologi cepat dan tepat waktu dalam urusan kerja. Mestinya spirit tersebut mengilhami para tokoh agama untuk berpikir bagaimana mengatur negara Indonesia berbudaya disiplin. Jika sadar bahwa Indonesia amatlah tertinggal dari negara-negara maju, maka semestinya sadar untuk berubah dan berusaha seperti perilaku negara maju. Salah satu kunci perilaku negara maju, seperti Chicago adalah semua berjalan tepat waktu dan serasi. Ketepatan waktu merupakan hal penting untuk membangun peradaban yang saling menghargai.

Belajar dari multikultural di Chicago, adalah kesediaan untuk bersikap toleransi terhadap sesama manusia. Sikap toleransi akan muncul apabila memiliki sikap respek terhadap sesama manusia. Sikap respek untuk bersedia memahami dan mengerti orang lain. Sikap respek tidak akan tumbuh hanya dengan kata, tetapi perlu di praktekkan pada kesediaan kita berdampingan untuk berlaku sama terhadap kepada semua manusia.

Kedua, adanya sikap kesediaan untuk memberikan maaf (forgiveness) kepada orang lain. Kesediaan untuk memaafkan adalah sikap penting untuk menerapkan multikultural. Dimana hidup dengan orang yang berbeda ras, etnik dan agama tentu membutuhkan interaksi yang berbeda. Mengampuni orang yang menyalahi kita akan membuka pintu dialog untuk saling kenal mengenal dan memahami orang lain. Dengan cara memberikan maaf, apabila orang lain yang menyinggung perasaan, sikap keras, dan salah paham. Dengan memberikan maaf, akan ada dialog yang memberikan saling mengerti posisi masing-masing dan mengakhiri konflik yang terjadi. Dialog dengan jujur dan kesediaan menerima orang lain seperti apa adanya, akan memudahkan hati kita membuka diri untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda.

Ketiga, Menyadari bahwa orang lain berbeda dan menghargai perbedaan itu sebagai kewajaran. Kesadaran adanya perbedaan antara satu dengan yang lainnya menuntun sikap untuk toleransi. Dengan menyadari adanya orang lain yang berbeda, orang lain memiliki kebutuhan berbeda, mendorong sikap untuk sadar dimana hidup multikultural adalah suatu niscaya.

Akhirnya, belajar dari kota Chicago, rasanya bukan tidak mustahil, suatu saat nanti Indonesia bisa mengejar ketertinggalannya. Indonesia yang memiliki ribuan budaya multikultural akan bisa hidup damai dengan saling mencintai, memahami dan maju bersama-sama. Indonesia yang menghargai individu berdasarkan karakter dan isi pribadi mereka, bukan semata karena keturunan, kekayaan, jabatan atau ras tertentu. Dengan bersikap terbuka kepada setiap perbedaan, maka kemajuan akan tercapai bersama-sama.

Program Pertukaran para Tokoh ini diselenggarakan oleh Heartland International, Amerika Serikat, bekerja sama dengan Center for Civic Education, Jakarta, atas dana dari Departeman Luar Negeri Amerika Serikat. Program ini diupayakan sebagai usaha memperkokoh pendidikan pada lembaga-lembaga sekolah menengah swasta dan negeri di Indonesia.

Adakah corak pendidikan pesantren Syeh Abdul Qodir al-jailani menarik untuk dibandingkan dengan system pendidikan di Amerika Serikat? Pendidikan di pesantren Syeh Abdul Qodir berorientasi pada pengembangan keislaman dan pengetahuan umum. Pengembangan keagamaan Islam menjadi dasar mengembangkan kurikulum pesantren. Misalnya, metode “sorogan” yang sekarang berkembang dengan metode kontekstual learning. Dimana metode ini diterapkan pada berbagai pengajian kitab di pesantren. Metode “sorogan” adalah metode mengajar secara langsung oleh kiai/nyai ke santri secara individu. Metode sorogan diberlakukan juga pada saat santri belajar menghapalkan al-Qur’an. Para santri menghapal ayat-ayat al-Qur’an dan langsung menyetor hapalannya dihadapan K. H. Abdul Hafidz setiap pagi. Metode “sorogan” merupakan kekayaan pesantren untuk terus dikembangkan dengan kombinasi metode belajar modern.

Ciri khas unik lainnya yang dimiliki oleh pendidikan di pondok pesantren Syeh Abdul Qodir Al-Jailani ialah tradisi manakiban syeh Abdul Qodir al-Jailani setiap malam ahad. Tradisi manakiban ini sebagai bentuk pembentukan budaya social yang relegius. Dimana masyarakat berkumpul bersama dari berbagai lapisan dan berdoa agar senantiasa memperoleh kehidupan yang lebih baik. Doa manakiban langsung dipimpin oleh K. H. abdul Hafidz Aminuddin. Banyak manfaat yang diperolejh dari adanya tradisi manakiban ini, Pertama, membangun rasa keimanan yang kuat terhadap Allah SWT, dimana masyarakat diajak untuk berdzikir dan memuji kekuasaan Allah SWT. Masyarakat yang hadir bersama-sama membaca doa dan bertakbir “Allahu Akbar”, tahmid “alhamdulillah”, tahlil “la ila ha illa Allah”. Kedua, Membangun silaturrahmi diantara jamaah manakib. Silaturrahmi dengan sesame anggota akan membangun jaringan kerja yang kuat dikehidupan sehari-hari. Kerekatan hubungan antara masyarakat inilah yang
membesarkan ikatan sosial masyarakat Probolinggo. Ketiga, tradisi manakiban dengan melakukan solat “qodoil hajat” (Solat untuk memohon agar doa-doanya di kabulkan oleh Allah SWT). Dengan tradisi manakib inilah pondok pesantren mengembangkan pendidikan ke masyarakat. Kini pendidikan yang ada di pesantren Syeh Abdul Qodir al-jailani terdiri dari TK, Madrasah Ibtidaiyah, Diniyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Pendidikan formal di pesantren syeh Abdul Qodir terus mencari bentuk agar memberikan kehidupan yang lebih baik nanti bagi masa depan para santri-santrinya.

Keberangkatan saya ke Amerika kali ini diniatkan untuk belajar tentang sistem persekolahan di AS dan berdiskusi tentang pondok pesantren di tengah perubahan pendidikan modern. Pondok, menurut saya, adalah pusat pendidikan bagi masyarakat pedesaan dan perkotaan. Untuk itu, pesantren harus terus berbenah dengan serius. Pesantren mesti mampu menjawab tuntutan masyarakat yang menginginkan adanya kualitas pendidikan yang handal, maka pesantren harus membuka diri untuk belajar ke negara maju, seperti Amerika Serikat. Sistem sekolah di AS ini banyak menunjukkan bukti. Kebanyakan lulusan sekolah di AS tidak diragukan dapat mengelola pekerjaaan sesuai kompetensi yang mereka asah di sekolah.

Selama keberadaan para peserta di Chicago Heartland International mengadakan beberapa seminar, yaitu kegiatan tentang kepemimpinan, pengenalan tgerhadap asas-asas demokrasi, kewarganegaraan yang aktif, keanekaragaman dan toleransi serta kewiraswastaan. Kegiatan lain adalah kunjungan ke sekolah-sekolah dan LSM di Amerika. Kegiatan kebudayaan, mengunjungi beberapa kota di AS selatan, seperti Memphis, Atlanta, Alabama, Mississipi dan diakhiri di Washington DC.

Salam

Naj

http://najlah.blogspot.com
http://syaqo.blogspot.com


     

 


FastCounter by bCentral