|
 |
|
Bersih
Desa MALANG-Kelurahan
Merjosari, salah satu kelurahan di wilayah Barat Kota Malang,
Sabtu (15/04) hingga Minggu (16/04) menggelar acara Bersih
Desa. Acara ini merupakan sebuah ritual memohon keselamatan
dan kemakmuran desa. Ribuan masyarakat Merjosari pun keluar
rumah mereka untuk menyaksikan pertunjukkan budaya oleh
warga.
Antara lain, jaran kepang, kuda lumping, reog Ponorogo,
dan berbagai tampilan budaya dari masyarakat. Beberapa atraksi
tersebut sebelum ditampilkan di depan panggung di lapangan
Merjosari dikirab keliling wilayah kelurahan tersebut.
Selain acara pertunjukkan budaya, juga digelar acara gerak
jalan dan lomba voley ball. Sedangkan acara puncaknya, yakni
melakukan ziarah ke makam kepala desa pertama Merjosari
yang bernama Aji Mertojoyo yang meninggal pada awal abad
19.
“Setiap tahun kami memang mengadakan acara bersih desa seperti
ini. Tujuannya, yakni ingin menumbuhkan kembali tradisi-tradisi
nenek moyang yang sudah jarang dilakukan oleh sebagian besar
warga Kota Malang. Selain itu, kami juga mengadakan kolaborasi
elemen-elemen budaya yang berakar dari masyarakat,” jelas
Ketua Panitia Bersih Desa, Gatot Hariono.
Dari pengamatan Malang Post di lapangan, ribuan masyarakat
nampak menikmati acara pertunjukkan budaya tersebut. Selain
terkonsentrasi di lapangan Merjosari, banyak warga yang
berjajar di pinggir jalan kampung karena ingin menyaksikan
kirab.
Yang paling menarik perhatian masyarakat adalah pertunjukkan
tari kuda lumping dan reog Ponorogo. Karena, setelah beberapa
saat menari, sebagian penari biasanya kesurupan dan bertingkah
layaknya binatang kuda. Begitu pula dengan
tari reog Ponorogo. Penari menjelang berakhirnya tarian
selalu kesurupan. Tingkah mereka seperti harimau, sesuai
dengan topeng harimau besar berhiaskan bulu burung merak
yang mereka kenakan sambil menari.
Sementara itu, di Kelurahan Lesanpuro, pada hari yang sama,
juga mengadakan acara bersih Desa. Hanya saja, di kelurahan
ini, acara puncak ditutup dengan pertunjukkan Wayang Kulit
dengan mengambil judul cerita 'Semar Mbangun Kahyangan'.
Di kelurahan ini, warga juga melakukan araj-arakan. Usai
melakukan arak-arakan, masyarakat setempat melakukan doa
bersama memohon keselamatan di sebelah makam Nyi Ageng Gribig
yang merupakan leluhur warga Lesanpuro.
Warga berkumpul mengelilingi dua tumpeng bernama Tumpeng
Robyong dan Tumpeng Kabuli, sedangkan para sesepuh memanjatkan
doa kepada Tuhan YME. Usai berdoa, warga segera menyerbu
tumpeng tersebut dengan tangan telanjang.
|