Serba-serbi Kisah Kunjungan Ke Tanah Air Ke 46

Anda yang pernah kemping ikut JHO, Jeha Outfitter, satu-satunya perusahaan
outfitting anak Indo di seluruh Amerika Utara :-), tentu kenal Defi Samson.
Bukan saja ia kuat hikingnya dan paddlingnya, tetapi sekali ia menarik tali
temali kanu di atas kap mobil, bila mereknya bukan Rolls Royce, ada bahaya
kapnya amblas :-). Defi yang perilakunya kaya propesor alias lupaan, suatu
ketika lupa ia taruh dimana kacamata butanya (buat baca). Ia berusaha untuk
mengingat-ingat dimana ia menaruhnya tetapi si samson kita tetap tidak bisa
mengingatnya. Alhasil, semua prennya ikutan mencari kacamata hilang di
campsite kami di Killarney Lake, padahal ia mah tenang wae. "Nanti saya minta
ibu saya beliin lagi, engga apa-apa Oom," katanya tenang. Sekarang baru
kutahu rahasianya kenapa ia kalem demikian, setelah saya pergi ngechek frame
dan ongkos bikin kacamata di toko Bipola di KG. Frame merek Rodenstock dari
titanium, plus lensa buatan Zeiss yang jenis 'colourmatic' dan progressive,
total jendral cuma Rp 3.6 juta, belum ditawar! Di Toronto, bojoku belum lama
bikin, konon Zeiss colourmatic juga, lensanya doang 500 $ Cdn alias Rp 4 juta
lebih, sesenpun kaga didiskon. Frame Rodenstock titanium, kuberani bertaruh
sedikitnya 500 $ lagi. Pantesan si Defi tetap hepi kehilangan kacamatanya :-).

Jadi warga suatu kelab eksklusif model Casablance Club berarti bacaan yang
disuguhkan di lobby-nya juga serba wah. Satu majalah Indonesia berbahasa
Inggris bernama Indonesia Tattler, belum pernah kubaca. Sambil menunggu
isteriku selesai dandan :-), saya bolak-balik sang majalah dan ketemu satu
artikel yang belum lama ini direferensikan beberapa prenku. Yakni teman
kami bernama RJP, bos DHL di Indo, yang sekarang hobi ngumpulin keris. Oom R
yang pernah sekumpeni denganku, yang kebetulan mewawancara hamba pada saat
ngelamar nyangkul, diinterpiu ceritanya di majalah itu. Weladalah jumlah
kerisnya, lebih dari 1000 biji dimana setiap keris tentunya bernilai historis
bin antik. Konon ia adalah kolektor keris nomor satu di dunia ini. Yah
beginilah nasib kite-kite ya prens, udah senang kalau ada teman yang masuk
majalah :-), padahal mah kalau ketemu belum tentu ia masih kenal dengan kita.
Seperti kemarin di perumpian para prenku, Mbak W yang sekarang sudah jadi
ibu menteri, sehurufpun ia tidak balas SMS beta padahal katanya ia mau datang.
Dalih mereka yang mengenal ibu paduka, "Jangan diharep Jus, beliau sekarang
sibuk sekali" dan saya tentunya cuma bisa manggut pertanda mencoba mengerti.
Engga pa pa deh engga jadi bos kolektor keris maupun ibu menteri ye, yang
penting kita bebas kemana-mana, kaga ada yang ngawal dan ngintil :-).

Gaun pesta di Kanada, maupun Amrik tentunya, tidaklah murah. Untungnya kami
jarang diundang ke pesta pernikahan misalnya, dimana tetamu diharapkan
memakai gaun yang semenggah, istilah Betawi untuk sopan dan pantas. Angka
3 digit di dalam dollar sudah perlu disiapkan bila Anda kasir rutang dan
isterimu sudah tidak punya baju lagi padahal gantungan baju di kloset kamarmu
masih penuh dengan baju perempuan :-). Itulah sebabnya ketika bojoku ke toko
FO bernama Epilogue di Kelapa Gading dan bertemu gaun pesta Rp 150 ribu,
hampir saja semuanya mau ia beli, kalau tidak saya pilihkan yang mana yang
pantas untuknya :-). Kalau saja ia tidak diberitahukan oleh "Bu Lurah"
Lidya yang hapal setiap toko-toko di daerah Kelapa Gading, tidak bakalan ia
bisa bertemu dengan toko FO itu yang letaknya di ujung dunia KG. Ya, bila
Anda tidak tahu atau kenal suatu daerah, cobalah 'networking' dengan mereka
yang dari orok udah di kampung situ. Ayah saya di Betawi dulu anak Kwitang
sehingga punya banyak sedulur yang antaranya 'jagoan' Senen. Pakai tanda
kutip sebab maksudnya, kalau Anda kecopetan di Senen, Anda tinggal minta
tolong dia dan ia akan tanya dimana persisnya di jam berapa (copet juga
punya jadwalan rek :-)) ente dicopet. Kalau dikau engga sial-sial banget,
benda duniawimu akan kembali, yang paling penting tentu surat-suratnya, di
jaman sekarang mungkin foto WIL-mu, ihik ihik :-). (WIL: wanita idaman lain)

Kemarin hari Senin, busway koridor II dan III sudah mulai beroperasi di
Betawi ini. Untuk Anda yang di luar batang, itu adalah rute bis bego (sebab
ngambil jalanan untuk lalulintas secara eksklusif) yang beroperasi di 'feeder
route', contohnya dari Thamrin ke Senen ke Pulo Mas ke Pulo Gadung. Akibatnya
jalanan busway itu yang tadinya masih dipakai oleh lalin umum, sudah tidak
bisa lagi, d.p.l. tambah macetlah jalan-jalan dimana sang bis bego beroperasi.
Bayangkan, dari perempatan Kayu Putih-KG Boulevard ke Bypass atau perempatan
Coca-cola, dibutuhkan sekitar setengah jam lebih karena macetnya, padahal
bila tiada 'traffic', cukup ditempuh dalam semenit kalau saya yang nyetir :-).
Akibatnya lagi, karena dari pagi sudah fitness di threadmill, badminton dan
berenang, ketika sampai di rumah mertoku di Mangga Besar, lantaran mobilnya
tidak otomatis persnelingnya, kakiku serasa bayem :-). Karena tiada gunanya
nyalahin Sutiyoso pak gub DKI maupun semua begundal, eh bawahannya, maka
tudingan kutujukan kepada ente-ente hai ibu bapak yang anak-anaknya ke
sekolah naik mobil. Kenapa, whyyyy? Kalau saya berenang ke Tirtamas di pagi
hari (Casablanca Club siangan sebab pagi-pagi para bos juragan di Betawi
rajin fitness), mayoritas mobil di jalanan adalah supir plus anak sekolah.
Mengapa anak-anak sekolah sekarang dimanjakan sedemikian, membuat macet dan
polusi sehingga kota kelahiranku ini menjadi yang terburuk sedunia, cuma
kalah dari Mexico City dan Bangkok? Mengapa Bang Jeha dan prennya bisa pergi
ke sekolah, bermain, belajar bersama teman, semuanya dilakukan bersepeda?
Salah satu jawabnya tak lain: gengsi dong mek!

Itu juga jawabnya kalau kita menjumpai barang jualan, dari makanan, roti
terutama yang sebetulnya kaga enak, sampai ke apartemen, dijual secara
'overpriced' atau dengan harga keterlaluan. Jawabnya adalah karena dengan
mahalnya sang harga, meskipun untuk kita yang tinggal di luar batang adalah
sesuatu budaya yang eror, anak-anak Melayu mendapatkan PD yang tinggi.
Self-esteem mereka menjadi naik, apalagi di antara ibu-ibu arisan, bapak-bapak
di lapangan golf, bila mereka bisa "mengeluh" baru saja membeli apartemen
yang kaga ada apa-apanya seharga 5 milyard rupiah, atau membeli Mercy S350
build-up yang cuma semilyaran karena 'second hand' bekas isteri kedua pak
menteri :-). Itulah norma hidup yang yah, normal untuk para OKB, orang kaya
baru di negeri ini. Bila Anda sesekali menjumpai orang yang pelit seperti
saya, kemungkinan ia memang pensiunan dengan gaji pas-pas-an, atau hartanya
sudah dari sononya. Orang yang kaya beneran, hidupnya hemat, itu sebabnya
ia menjadi kaya. Bill Gates azha dulu pelit, eh hemat, cuma sekarang karena
ia mulai memasuki "magrib", istilah prenku si Agam, ia menjadi generous luar
biasa, antara lain jadi donatir bagi dana kesehatan di mancanegara.

Esok, dengan doa restu Anda semua, adalah hari bahagia untukku dan Cecilia.
Bukan saja kami akan bebas dari kota dengan polusi dan kemacetan luar biasa
seperti di Jakarta karena kami akan ke Bukittinggi, tetapi terutama karena
kami akan ngerumpi lagi selama 4 hari-an. Kami adalah mantan pegawai IBM
Indo yang dulu ngerumpinya di 'lunch room' tingkat VI BDN Thamrin. Segala
macam stressors jualan kompi kaga laku-laku saking mahalnya dan engga boleh
nyogok :-), bikin program di mesin 8 Kilobyte 'main memory' sehingga segala
akal bulus tapi sah mesti dikeluarkan, kami netralisirkan di ruang makan tsb.
Itulah sebabnya perumpian sebagian dari kami di resto Sagala Aya di hari
Minggu kemarin, meriahnya luar biasa. Si Joni yang anaknya (Icha) lebih beken
darinya, sampai minta obat karena rahangnya mulai sakit ketawa terus menerus.
Semoga ia ingat untuk datang ke airport esok hari, bukan minggu depan sebab
ia sudah mulai linglung karena ya udah jadi propesor dimana-mana :-). Lam
lekom bai bai, sampai berjumpa dengan kisah dari Koto Gadang.

Jusni Hilwan
Email ID: hilwan@rogers.com. Homepage: http://ca.geocities.com/hilwan
Toronto, Canada


     

 


FastCounter by bCentral