|
 |
|
Penolak RUU-APP Karnaval di Bundaran
HI
Penolak
RUU-APP terus beraksi. Di Manado, sejumlah wanita malam
terang-terangan menari erotis. Di Surabaya, aktifis perempuan
memasang iklan satu halaman penuh
Hidayatullah.com--Kalangan penentang Rancangan Undang-Undang
Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) kembali beaksi.
Sabtu (22/4) siang ini, sekitar seribu penolak RUU-APP mengadakan
pawai budaya. Mereka mengadakan pawai Budaya Bhineka Tunggal
Ika.
Pawai budaya Bhineka Tunggal Ika itu digelar
sebagai bentuk penolakan atas rencana pengesahan Rancangan
Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU-APP). Acara
ini ditempatkan Bundaran Hotel Indonesia Jakarta.
Pawai ini dihadiri oleh budayawan, seniman,
tetapi waria, tukang jamu. Hadir diantaranya penyanyi erotis,
Inul Dara Tista, Ratna Sarumpaet, Ratu Hemas juga istri
mantan Presiden Abdurrahman Wahid dan ekonom Faisal Basri.
Sebelumnya, para penolak RUU APP di Manado mengadakan aksi
dengan bergoyang erotis di depan gedung DPRD setempat.
Di Surabaya, Jum'at, (21/4) kemarin, penolak RUU APP yang
mentasnamakan Aliansi Mawar Putih iklan satu halaman penuh
di harian Jawa Pos bertuliskan, "KAMI MENOLAK RUU APP."
Selain mengecam RUU itu, disebutkan pula 3000 nama-nama
orang yang ikut mendukung aksi. Diantara mereka yang ikut
mendukung ada nama Goenawan Muhammad, Leila Chudhori, Jajang
C Noer dan Sandy Harun.
Kebanyakan diantara mereka adalah aktifis perempuan. Misalnya;
Debra Yatim, Baby Jim Aditya, juga Maria Gunawan, Rieke
Dyah Pitaloka, Tini Hadad, Julia Suryakusuma, Gadis Arivia
dan Ayu Utami, novelis yang sering menulis masalah seks
dan senggama.
Juga kalangan media wanita dan LSM perempuan. Diantaranya
Femina Group, Mitra Perempuan, Rumpun PRT, Perkumpulan Rumpun,
LKTS Indonesia Boyolali dan SPEKHAM.
Juga
nama aktivis PDIP, Irma Hutabarat, monolog Butet Kertarajasa,
Ciptaning, dan Kartono Muhammad.
Menurut pihak Jawa Pos, iklan penolakan RUU APP di media
itu termasuk tak murah. "Biaya iklan satu halam penuh
seperti itu ya sekitar 178 juta rupiah, discount 30%",
ujar Hari, salah seorang staf bagian periklanan kepada hidayatullah.com
saat ditanya biaya sekali pasang iklan. [cha]
Juga para penggagas aktifis Islam Liberal. Diantaranya;
Lies Marcoes dan Siti Musda Mul
RUU APP memang menimbulkan perbedaan pendapat yang tajam.
Lain dengan Aliansi Bhinneka Tunggal Ika, ribuan orang dari
Aliansi Umat Islam Malang, Jawa Timur, berunjuk rasa mendukung
pengesahan RUU Antipornografi dan Pornoaksi. Di bawah guyuran
hujan lebat, massa berjalan kaki dari Stadion Kanjuruan-Kepanjen
menuju Gedung DPRD Kabupaten Malang, Jumat (21/4).
Mereka
bergantian berorasi memberi dukungan moral untuk perjuangan
pengesahan RUU APP. Sejumlah perwakilan Aliansi Umat Islam
Malang sempat berdialog dengan anggota DPRD Kabupaten Malang.
Para anggota Dewan berjanji akan meneruskan aspirasi massa
ke Jakarta.
Pada hari yang sama, ratusan mahasiswa berdemonstrasi
di depan Istana Presiden, Jakarta Pusat. Mereka menuntut
pemerintah dan DPR segera mengundangkan RUU APP. Mahasiwa
juga melakukan happening art yang menandakan kegamangan
pemerintah menyikapi RUU APP. Pemerintah digambarkan masih
belum tegas dan setengah hati menolak pornografi dan pornoaksi.
Padahal, banyak media porno yang beredar luas di masyarakat.
Hingga kini, RUU APP masih dalam pembahasan
di DPR. Pembahasan RUU ini diperkirakan memakan waktu panjang
karena harus menampung aspirasi beragam baik dari pihak
yang pro maupun kontra.(TNA/Fajar Ilham dan Agus Ginanjar)
Mereka menggelar panggung 6x3 meter untuk
menggelar tarian dan musik. Panggung kecil bertulisan "Tolak
RUU Pornografi".(IM)
|