|
Brimob Amuk Kantor Komnas HAM
Rektor Uncen Minta Perlindungan
Keamanan
JAKARTA - Komnas HAM terus memantau perkembangan
situasi di Abepura, Papua, pasca tewasnya empat aparat keamanan
saat terjadi demonstrasi di depan Kampus Universitas Cenderawasih
(Uncen) pada Kamis lalu. Meski belum menyimpulkan adanya
dugaan pelanggaran HAM, Komnas HAM menyesalkan sikap sebagian
aparat yang tidak bisa mengendalikan diri.
Menurut dia, pihaknya tetap mendukung agar
pelaku penganiayaan yang menewaskan tiga anggota polisi
dan seorang anggota TNI-AU diproses secara hukum. Namun,
aparat harus tetap mengikuti prosedur hukum dalam menangani
kasus tersebut.
Dia mencontohkan, tiga warga sipil yang tertembak
polisi dan beberapa wartawan yang menjadi korban penganiayaan
anggota Brimob merupakan bukti bahwa aparat di lapangan
masih belum bisa mengendalikan diri.
Kantor perwakilan Komnas HAM di Papua, jelas
Zoemrotin, juga tidak luput dari sasaran aparat yang men-sweeping.
Sejumlah dokumen hasil pantauan perwakilan Komnas HAM diobrak-abrik.
Kamera, tape recorder, serta peralatan lain dihancurkan
aparat yang ditengarai ingin membalas dendam itu.
Dia berharap sikap aparat keamanan tidak menyulut
terjadinya aksi pelanggaran HAM. "Seharusnya, itu tidak
terjadi. Jangan sampai ada kesan balas dendam sehingga membuat
situasi makin runyam," ingatnya.
Kini, dia mengaku sedang mendata mahasiswanya
yang diduga terlibat aksi unjuk rasa dan berbuntut rusuh
tersebut. Jika ada mahasiswa yang terbukti terlibat aksi
kekerasan itu, Kambuaya berjanji menindak tegas. Minimal,
dia akan menskorsing mahasiswa tersebut dan menyerahkannya
kepada petugas untuk diproses sesuai aturan.
Soal adanya massa yang mencari perlindungan
ke lokasi kampus Uncen Abepura, Kambuaya mengatakan, "Itu
inisiatif mereka sendiri berlindung ke dalam kampus Uncen.
Tapi, bukan berarti mereka adalah mahasiswa Uncen. Sebab,
bisa saja mereka itu warga masyarakat dan mahasiswa dari
perguruan tinggi lain yang kebetulan berlarian ke arah kampus".
Salah Komando
Selain menangkap pelaku bentrokan di depan
kampus Universitas Cendrawasih (Uncen), Abepura, Papua,
tim Mabes Polri mengivestigasi penyebab peristiwa yang menewaskan
tiga polisi dan seorang anggota TNI-AU itu. Sangat mungkin
bentrokan antara pendemo dan aparat keamanan tersebut terjadi
karena salah komando.
"Seharusnya komandan di lapangan bisa
menilai situasi saat itu. Anggotanya yang berjumlah 100-an
dengan tameng dan pentungan tentu tidak bisa masuk menghadapi
massa berjumlah 1.000-an begitu," ujar polisi yang
enggan disebut namanya itu.
Menurut dia, Marko Brimob sebagai pembina
fungsi juga akan menginvestigasi peristiwa tragis tersebut.
Salah seorang yang bakal menjadi sasaran investigasi adalah
mantan Kasat Brimobda Papua Kombespol Tatang Hermawan. Tatang
sendiri dicopot dari jabatannya sehari setelah terjadi bentrokan.
Dia digantikan Kombespol O.C. Kaligis (mantan Kasat Brimobda
Papua).
"Senin nanti pimpinan Polri mengagendakan
untuk bertemu dengan sejumlah pimpinan media massa nasional.
Kami juga akan mengganti biaya kamera dan biaya pengobatan
mereka," tambah jenderal bintang satu itu. (sup/naz/ito/jpnn/IM)
|