|
 |
|
“Asyik
sekhalei memang hidup di Jakarta ini,” kalimat yang tidak
berani saya katakan kepada sekitar 60 WNI yang berdatangan
kemarin dengan tujuan mendengar dongengan Bang Jeha tentang
mengapa ia sampai pindah ke Kanada. Di samping mensyer apa-apa
yang oke di Kanada, saya tentu mengetengahkan hal-hal tidak
bagus seperti iklim yang ganas dimana telanjang ke luar
rumah, mati kedinginan lah kita. Tiadanya dukungan keluarga
dan prens sebanyak seperti di Indonesia sangat menyedihkan,
dan, terutama, susahnya mencari pekerjaan di negeri itu.
Keasyikan tersebut kualami di pagi hari ini, ketika saya
berenang bolak-balik di Casablanca Sport Club di Kelapa
Gading. Isteriku pun bukan main hepinya, pindah dari kolam
renang Tirtamas yang airnya serba butek seperti air sabun.
Maklum karcis masuk Rp 9000 mana bisa dibandingkan dengan
harga voucher sekitar Rp 80 ribu per orang. Duit kenal barang
kata anak Betawi. Dengan biaya sedemikian, selain kita bisa
berenang tanpa pake tubrukan saking sepinya kolam renang
tersebut (hampir setiap saya berenang di Tirtamas, saya
tubrukan) juga tersedia ruang fitness dengan cem-macem peralatan.
Masih ada lagi bowling tenis badminton deeste. Hari ini
saya cuma fitness 15 menit-an dan renang 30 menit, sudah
cukup untuk perkenalan. Esok bila ada sparring, kami ingin
bermain badminton.
Hari
ini, 10 Januari 2006 alias hari raya Idhul Adha, lebaran
aji kata anak Betawi, suatu kekecualian. Tidak ada lagi
motor, angkot yang di lampu merah nyerobot wae. Jalanan
bukan main sepinya ketika saya ke warung bakmi di jam 7
pagi tadi. Sayangnya, konstruksi jalanan disini terasa begonya
untuk bisa kita lalui dengan kecepatan 80 km/jam. Melaju
dengan 70 km-an azha, mobil sudah seperti jet-coaster, enjot-enjotan
sebab jalanan serba keriting. Namun, mengemudikan mobil
di jalanan yang sepi memang suatu kenyamanan. Kemacetan
lalulintas adalah derita manusia yang seharusnya bisa dihindari.
Sudah lama saya tidak ke Manila dan Bangkok. Dahulu kedua
kota itu macetnya mengalahkan Jakarta tetapi kedengarannya
sekarang sudah oke. Adanya busway yang cuma mengambil satu
jalur yang tadinya dipakai beramai-ramai, sampai kuda makan
kue talam lagi tidak akan membuat lalulintas menjadi tidak
macet. Selain jalanan dipersempit menjadi satu dua jalur
sisa, jumlah mobil tetap saja akan melaju meningkat sebab
tidak ‘convenient’ untuk orang memakai kendaraan umum.
Antara lain, lagi-lagi, keamanannya. Meskipun kita bawa
dua henpon dua dompet untuk yang satunya dikasih tukang
todong, tetap saja peristiwa seperti itu akan membawa trauma
atau amit-amit dah pernah Anda alami. Setiap lewat pintu
kereta api Senen, pengalaman ditodong dan kehilangan arlojiku
selalu melintas lagi, kaga pernah bisa disetip seumur hidup
meski sang penodong yang bengis sudah kumaafkan lantaran
ia lebih membutuhkan jam tanganku :-). Anda setengah percaya
setengah tidak percaya akan dongengan saya? Ga pa pa.
Anda percaya bahwa kunjungan SBY ke tempat lokasi bencana
banjir longsor di Jatim sudah membawa banyak manfaat? Barangkali
begitu. Tetapi kemarin Akang Djuni, pren saya di Internet
yang aktif membantu korban longsor di Jatim melaporkan berita
dari lapangan sbb (berita yang tidak dimuat di Kompas).
Saya copy-paste azha.
Dampak Kedatangan dan Kepergian SBY “en the genk” Sehari
sebelum kedatangan SBY ke Jember, informasi telah bocor
dan bikin pembicaraan masyarakat ramai. Pada saat SBY berkunjung
ke lokasi bencana, semua akses jalan ditutup total. Suplai
konsumsi dan bantuan untuk pengungsi tidak boleh naik. Tim
SAR tidak boleh naik. Wartawan tidak boleh naik.
Pokoknya semua orang yang bermobil dengan tujuan daerah
bencana (Desa Kemiri) dilarang keras naik oleh polisi. Kalau
tetap nekad bisa kena tendang Pak Pol. :-) SBY memang bak
“tukang sulap”, banyak hal yang tidak ada tiba-tiba saja
menjadi ada. Bahkan bak mandi yg kotor, tiba-tiba menjadi
bersih licin, “kinclong-kinclong” kata orang Jawa. Tiba-tiba
ada jembatan dari besi permanen, yang sebelumnya adalah
jembatan darurat dari bambu a la kadarnya. Setelah SBY “en
the genk” pergi dari lokasi bencana, apakah kerja penanggulangan
bencana dapat menjadi lebih baik? Eh, ternyata malah lebih
buruk dari itu. Kalau sebelumnya pengamanan yang super duper
ketat, maka sekarang super duper longgar. Akibatnya adalah
berbondong-bondong “wisatawan bencana” memenuhi pos pengungsian
(Desa Kemiri). Bahkan terjadi kemacetan yang cukup panjang
karena sangking banyaknya “wisatawan bencana” bermobil yang
ingin naik ke atas. ...
Sisa
laporan dari lapangan Akang Djuni kusetip saja dan Anda
sudah mendapat sedikit kesan kebegoan yang terjadi akibat
datangnya SBY kan. Itulah sesuatu yang khas di negeri antah
berantah ini, kunjungan pejabat sering semakin menyengsarakan
rakyat dan membuat kendala karena masih feodalnya sistim
nilai yang dianut oleh para punggawa kerajaan, eh pemerintah
Republik Indo.
Mong-ngomong, apakah Anda di dunia ini memiliki cellphone,
HP istilahnya di Indo, singkatan dari hand-phone atau ponsel,
singkatan telepon seluler?
Kalau tidak, maka ente ketinggalan banget di dalam dunia
tekno dibandingkan dengan saudara-saudari sebangsa sebahasa
setanah-airmu. Sebab bukan saja tukang ojek sekarang punya
HP, juga para pembokat, istilah terkini untuk pembantu rumah
tangga, pada punya ponsel. Pembantu kami kulihat sesekali
SMS-an ke dulurnya di Tanah Jawi sono. Sangat oke, suatu
‘win-win solution’ bagi majikan yang tidak takut, ngeri
rekening teleponnya jadi berjuta rupiah dipakai ngobrol.
Bagi si pembokat suatu ‘convenience’ disamping PD tinggi
dan bisa tetap menjaga martabat serta harga dirinya. Kalau
saat ini dilakukan survey lagi bangsa mana yang paling tinggi
pemakaian pulsa SMS-an mereka, kuyakin Indo sudah akan mengalahkan
Filipin hanya mungkin tidak akan berjauhan dari RRT karena
disana hape juga sudah menjamur. Demikian pula merek hape
yang murmer yang dipakai para pembokat dan kang ojek, adalah
buatan cungkuo, mana kebeli mereka merek yang dipelesetkan
jadi ‘NOngol Ketat Indah Asli’ :-).
Pariwisata Bali Sekarat!, begitu bunyi judul salah satu
artikel Kompas hari ini. Isi tulisan selanjutnya mengetengahkan
kesekaratan dunia pariwisata, dan dengan demikian perekonomian
Pulau Dewata karena dampak bom Jimbaran di 1 Oktober lalu.
Kutak heran. Ketika saya kesana di Januari 2004, mereka
baru mulai ‘recover’ dari bom Kuta 12 Oktober 2002 alias
diperlukan waktu selama itu. Lombok masih empas-empis di
saat itu, hunian hotelnya hanya berkisar di 50%-an. Bali
saat ini hanya 30% hunian hotelnya. Bila Anda mengerti mengenai
industri perhotelan, tingkat 30% tersebut kasihan banget
dah lu. Dengan ‘occupancy rate’ sekian, hotel mana saja
mengalami kerugian dengan ancaman bangkrut :-(. Satu maskapai
penerbangan Air Paradise yang menjual jasa khusus ke/dari
Bali, sudah almarhum dan semoga arwahnya ada di kahyangan.
Kalau Anda hanya membaca koran atau dongenganku ini, Anda
tidak dapat meresapi kesengsaraan rakyat di Bali (dan di
Lombok) yang menjadi terpuruk di dalam segala hal sebab
sumber penghidupan mereka, pariwisata, menjadi hancur oleh
karena sekelompok orgil yang melakukan aksi terorisme, sekaligus
sudah membuat citra agama Islam tercoreng di mancanegara
karena mereka mengibarkan panji-panji Islam mereka. Bila
Anda pergi sendiri kesana, barulah sedikit banyak Anda dapat
menyelami kedukaan warga Bali yang menjadi mangsa lantaran
pulau mereka disenangi oleh wisatawan asing, khususnya buleks.
Salah satu yang tragis lainnya, ke devisa negara dari sektor
pariwisata yang sekitar 5,1 milyar dollar AS, Bali menyumbangkan
sekitar 2,5 milyar atau setengahnya, en toh dana pariwisata
RI cuma 6 juta dollar AS doang :-(. Padahal Malaysia yang
kaga punya apa-apa, mendanakan 50 juta dollar untuk industri
pariwisatanya. Saya jadi teringat kunjunganku ke RRT April
tahun lalu bersama ICAA Los Angeles. Seluruh negara sungsang-sumbel
mensukseskan pariwisata mereka, termasuk adanya diskon luar
biasa bagi biaya penerbangan maupun hotel, asal para turis
bisa berbelanja di toko-toko pemerintah Cungkuo. Ooops,
sudah jam 8 pagi alias saya perlu ke Casablanca Club, badmintonan
fitness berenang dan dari situ syoping ke Factory Outlet
di sebarang Makro Kelapa Gading.
Sampai kisah selanjutnya, lam lekom bai bai. Jusni Hilwan,
Toronto, Canada ;
|