KONGRES AS JANJI BANTU TINGKATKAN KEMAMPUAN PARLEMEN RI


Jakarta (ANTARA News) - Ketua Kongres Arizona Amerika Serikat (AS) Jim Kolbe
mengatakan akan membantu kemampuan parlemen Indonesia dalam berbagai hal
sehingga bisa meningkatkan proses demokratisasi di Indonesia.

"Kami akan membantu untuk meningkatkan keahlian, independensi dan masalah
anggaran yang dibutuhkan sebuah lembaga legislatif dalam membangun
demokrasi," kata Kolbe usai bersama tiga anggota kongres lainnya menemui
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Presiden Jakarta, Selasa.

Menurut ia, komisi yang dipimpinnya memang bertugas untuk melakukan
kerjasama dengan parlemen negara-negara lain di seluruh dunia untuk
meningkatkan kapasitas demokratisasi di seluruh dunia.

Selanjutnya, pihak kongres Arizona juga mengundang 10 anggota parlemen
Indonesia untuk melakukan kunjungan balasan ke AS untuk meninjau sistem
demokrasi yang dijalankan di lokal distrik California dan Washington.

Sementara itu, Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal mengatakan dalam
pertemuan tersebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar hubungan
kerjasama antara parlemen AS dan Indonesia ditingkatkan, karena keduanya
merupakan negara demokrasi terbesar di dunia.

Presiden juga menjelaskan mengenai tantangan yang sedang dihadapi Indonesia
seperti proses rekonstruksi ekonomi, proses perdamaian di Nanggro Aceh
Darussalam, penyelesaian masalah Papua, good corporate governance,
pelaksanaan anti korupsi, demokratisasi, pemberantasan terorisme dan
penanganan flu burung.

Sementara itu Menhan Widodo AS yang ikut dalam pertemuan tersebut mengatakan
dalam pertemuan itu tidak dibahas masalah yang menyinggung kasus Papua.

"Intinya mereka ingin memberi apresiasi tentang yang sudah dilakukan oleh
pemerintah Indonesia. Hal itu menjadi bahan pertimbangan bagi pemulihan
hubungan kedua negara. Ini menjadi sangat penting untuk meningkatkan kerja
sama militer yang selama ini terganjal oleh beberapa persepsi," katanya.

Sedangkan Panglima TNI Djoko Suyanto menambahkan bahwa dalam pertemuan itu
juga disinggung dalam mengenai rekonstruksi program International Military
Education Training (IMET) yang disepakati untuk ditingkatkan lagi.

"Pak presiden tadi juga menekankan posisi kita bahwa program itu bukan untuk
mendikte posisi TNI, tetapi untuk keterbukaan demokratisasi dan pengetahuan
tentang HAM. Dan itu sudah berjalan selama ini. Tidak berhenti sama sekali
program itu, tapi memang ada penurunan pada akhir 1990an," katanya.

Ditambahkannya, para anggota kongres itu berkomitmen untuk lebih
memperjuangkan peningkatan hubungan pendidikan itu, dengan menambah jumlah
peserta pendidikan dengan memfokuskan pendidikan ke arah manajeman
profesionalitas.

Menurut Panglima, anggota kongres itu juga menilai arah reformasi TNI sudah
berjalan di arah yang benar meski belum sepenuhnya selesai.(IM)

 


     

 


FastCounter by bCentral