|
 |
|
Katedral
Makassar Bukti Toleransi Beragama di Kerajaan Gowa
GEREJA
Katedral berdiri megah di Jalan Kajoalaliddo, Makassar,
Provinsi Sulawesi Selatan. Bangunan itu tercatat sebagai
salah satu cagar budaya, saksi sejarah masa lampau yang
membuktikan toleransi hidup beragama di lingkungan Kerajaan
Gowa tumbuh sejak lama.
Kerajaan Gowa dan rakyatnya memeluk agama Islam pada 1603,
pada saat Raja Gowa XIV, I Mangngarangi Daeng Mangrabbia
Karaeng Lakiung Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna bertakhta
1593-1693.
Ketika Sultan Hasanuddin, cucu Sultan Alauddin menjadi Raja
Gowa XVI berkuasa tahun 1653-1669, Gowa berada pada puncak
kejayaannya. Pada saat itu juga terjadi gelombang migrasi
warga asing, bersamaan runtuhnya benteng Portugis di Malaka.
Orang-orang Portugis mengungsi ke Makassar. Mereka disambut
baik. Pastor-pastornya diberi keleluasaan menjalankan tugasnya
di Makassar, wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa.
Restu
Mgr N Schneiders CICM dalam catatan yang dibuatnya 15 Februari
1961 tentang gereja Katolik di Sulawesi Selatan dan Tenggara,
menyebutkan, Fernendez Navarette adalah pastor pertama yang
masuk ke Makassar, pada 1658. Fernandez diperlakukan dengan
baik oleh pejabat kerajaan.
Fernandez justru kemudian mengalami kesulitan saat Kompeni
Belanda yang dikenal dengan sebutan VOC (Verenigde Oostindische
Compagnie) menduduki pulau-pulau di Indonesia.
Dan pada 19 Agustus 1660, Gowa juga terpaksa meletakkan
senjata dan menandatangani persetujuan di Batavia.
Selama pemerintahan Belanda, kebebasan beragama bagi Gereja
Katolik di Indonesia barulah dapat dirasakan pada 1806,
ketika Napoleon mengangkat saudaranya, Louis, menjadi raja
Negeri Belanda, sebab keduanya beragama Katolik. Pada 10
April 1808, dua pastor tiba di Batavia dan menjadi imam
Katolik pertama yang diizinkan masuk Indonesia.
Pada 1852, seorang pastor ditugaskan ke Makassar, tetapi
pada 1892 barulah Pastor A Asselbergs SJ menetap di sana,
dan menyewa salah satu rumah di Jalan Hasanuddin untuk digunakan
sebagai tempat kebaktian. Enam tahun kemudian, didirikanlah
gereja di Jalan Kajoalaliddo dan mendapat restu dari Raja
Gowa XXXII, Sultan Qadir Aididdin. Bangunan itu menjadi
Gereja Katedral Uskup Agung Makassar.
Dari katedral tersebut, Pastor Kapell melakukan konsentrasi
perjalanan keliling ke pedalaman sampai ke Raha, Kabupaten
Muna, Sulawesi Tenggara, dan Kabupaten Banggai, Sulawesi
Tengah. Karena wilayah kerja pastor sangat luas, pada 1925
didatangkan lagi pastor, Pater C de Bruijn bersama Pastor
Hendriks ke Makassar untuk membantunya.
Pada 1929 ditetapkan seorang pastor untuk bertugas di Raha.
Rumah sakit didirikan pada 1931, dengan mendatangkan suster
dari Makassar. Sekolah-sekolah didirikan hingga ke pedalaman
Raha, Kabupaten Muna. Agama Katolik pun berkembang di Tana
Toraja, dan di sana dibangun gereja pada 1935.
Katedral
Gereja Katedral adalah bangunan yang condong berarsitektur
Eropa, karya seorang seorang perwira zeni, Swartbol. Dia
peletak dasar gaya bangunan tersebut, meskipun ketika bangunan
belum rampung Swartbol berangkat ke Eropa dan digantikan
S Fischer, seorang ahli pengairan.
Beberapa kali gereja itu dirombak karena Fischer tidak menguasai
arsitektur Gotik, sebagaimana digambarkan Swartbol. Seorang
Tionghoa bernama Thio A Tek kemudian menjadi pemborong dan
pelaksana pekerjaan pembangunan. Bangunan itu sempat tersendat
lama karena menunggu rangka jendela besi dari Belanda.
Pada 1923, Mr Scharpf menghadiahkan tiga buah lonceng, yang
dipasang di menara besi besar di sebelah selatan gereja.
Menara itu akhirnya dibongkar karena tidak estetis. Pada
1939, pastor bekerja sama dengan CMS (Celebes Missie Steunfonds)
mendirikan menara baru dan dirampungkan dalam setahun.
Pada 1943 Makassar dibom tentara Sekutu, mengakibatkan beberapa
bagian gereja rusak. Para dermawan mengucurkan bantuan untuk
memperbaiki, dengan mengirimkan kaca jendela glasir berwarna
yang memberikan nuansa khas katedral.
Meskipun bangunan tersebut sudah beberapa kali direnovasi
dan berubah, terutama penambahan bangunan di samping gereja
untuk ruang pastoral dan kantor, namun gaya khas peninggalan
arsitek Swartbol masih tampak jelas. Gereja itu sangat terawat
dan bersih. Pemerintah menetapkan sebagai salah satu situs
cagar budaya dan sering dikunjungi wisatawan asing.
(Pembaruan/M Kiblat Said/IM)
|