Bila Anda senasib dengan saya

Bila Anda senasib dengan saya, hijrah dari negeri rupiah ke dollar, pastilah di hari minggu bulan pertama kehidupan kita di tanah air kedua kita, ketika gawean masih kita cari-cari, kita terus ngitung seberapa mahalnya benda yang kita beli. Sebab angka yang tertera di tiap barang akan kita kalikan dengan Rp 8500 di Kanada, Rp 10 ribu bila di Amrik. Percayalah bahwa suatu ketika di dalam hidupmu, kan terjadi ‘habis gelap terbitlah terang’. Artinya, kesedihan yang pernah kau alami akan berganti dengan kegumbirahan semata ketika dikau sudah bergaji dollar dan pulkam. Pagi-pagi beli bubur abang yang lewat di depan rumah, cuma Rp 2000 alias 20 sen. Berenang, karcis masuknya cuma Rp 9000, sekitar sedollar. Habis itu makan bakmi, cuma (lagi- lagi) sedollar dua dollaran. Bagaimana dikau kaga akan hepi :-).
Itulah yang namanya ‘buying power’ dimana kita tahu karena daya beli rakyat Indo tidak sekuat Amrik Utara, akibatnya barang dengan merek yang sama yah lebih murah disini. Misal, raket badminton Yonex, 200 $ di Kanada, disini waktu kubeli di Sogo (toko mahal rek) hanya Rp 600 ribu di kelas yang sama, tak sampai setengahnya. Ongkos bikin crown gigi, sekitar 800 $ kata drg Anto di Mississauga, Rp 1.5 jeti di drg Cathrien dari Kayu Putih. Kemarin kubeli ‘daypack’ merek Northface di toko Adventure di Rawamangun, cuma Rp 85 ribu.
Nungging di perapatan jalan juga kaga bakalan ada ‘daypack’ bermerek seharga sepuluh dollar di seluruh Canada dan USA :-). Pokoknya hepi banget dah berbelanja di Indo dan memang sih kita perlu modalin ongkos tiketnya, kecuali ente disayang banget ama mertuamu di Indo.
Logo ‘200 tahun Gereja Katolik di Jakarta’ di buletin paroki St. Bonaventura untuk Misa hari Minggu kemarin dulu menerpa mataku. Kuambil buletin itu dan kubaca isinya. Ada doa syukur hampir setengah halaman bagi peristiwa tersebut.
Bagus doanya tetapi tidak semenarik intensi umat atau permintaan doa di dalamnya. Satu yang paling menarik saya sebagai seorang imigran adalah: mendoakan kedua anak agar menurut pada orang tua. Asumsi anak tersebut bukan ada di Amerika Serikat atau di Kanada sebab susah banget untuk mendoakan agar anak nurut, kualaminya sendiri sampai hari ini, padahal kusudah berdoa selama 25 tahun lebih, duh :-(. Saya menjadi teringat akan rencana pertemuanku dengan, konon, 60 keluarga Indo yang berminat pindah wae cabut ke Kanada sebab harga bensin kaga mau diturunin oleh SBY. Kalau jumlah itu benar, memang suatu rekor sebab sejak saya sering pulkam, tak pernah sebanyak itu orang yang berminat untuk mengikuti jejakku, cari susah pindah ke luar batang dengan risiko anak jadi kaga nurut lagi. :-) Semoga tidak ada pertanyaan yang susah- susah yang diajukan mereka dan kalaupun ada, untunglah saya akan didampingi Witono yang bukan saja sudah pindah ke Kanada, juga menclok dari Vancouver, salah satu kota terindah di dunia, ke Toronto dengan kehidupan serba sulit.
Kalaupun ada pertanyaan yang susah dan tidak dapat kami jawab, barangkali mereka bisa ku-refer ke pokrol bambu yang cuma meminta ongkos 5000 US $, yang buat sementara anak Indo, kwaci jumlah segitu mah :-).
Abracadabra School, Vanessa School, cem-macem skul di kota Betawi ini menjamur dimana dari namanya Anda bisa menduga bahwa itu adalah sekolah berbahasa Inggris untuk anak Indonesiyah. Rupanya bilingualism adalah oke bukan hanya di Kanada saja prens sadayana, tetapi di tanah air kita bersama.
Cuma kalau dahulu kita punya angka untuk bahasa daerah di rapor SD, Betawi dan Bahasa Indonesia, sekarang sejak badutan batita balita, anak-anak tetanggamu sudah dibiasakan cas-cis-cus dalam bahasa nekolim :-), pinjem istilah Bung Karno. Ibu bapak yang semart mengendus bahwa kemampuan berbahasa Inggris sudahlah kudu untuk anak-anak mereka. Ada benarnya seperti kita alami dalam era globalisasi ini. Imigran ke Kanada yang masih medhok Inggrisnya, kita amati sering berkendala di dalam mencari pekerjaan. Apalagi yang sedang ‘in’ selain sekolah berbahasa Inggris untuk anak-anak? Gonta-ganti nomor hape :-). Satu warga Toronto menitipkan duit segepokan buat ortunya hingga kuSMSin terus si babe sejak kutiba. Barulah hari ini saya bisa berkomunikasi dengan beliauw. Nomor henponnya sudah diganti. Ia berusaha untuk menelepon rumah enyakku dan setiap kali ia telepon, saya sedang di luar rumah mulu, maklum banyak tugasku di kota ini :-). Sebetulnya masuk di akal untuk gonta-ganti nomor hape, maupun email ID. Sekarang kalau saya men-download email, 2/3-nya berisi junk mail dari Kanada. Duh :-(.
Sebenarnya saya agak enggan untuk syering hal sbb tetapi saya kuciwa berats ataupun sebetulnya sudah harus maklum, mental PNS Melayu masih sama-sama azha.
Kemarin pagi saya ke kantor pos pusat di Lapangan Banteng sebab mau mengirim paket ke seorang sahabat saya di India. Isinya cuma indomie goreng tok alias tidak seberapa. Saya digocek ke loket sana-sini dan di loket pemeriksaan bea cukai, dimintain duit. :-( Masih belum apa-apa, di loket pembayaran saya bayar ongkosnya Rp 165 ribu dengan lembaran lima puluhan 4 biji. “Pak, engga ada kembaliannya nih, uang pas aja.” Saat itu sudah jam 10 pagi dan banyak yang antri untuk mengirim pospaket ke luar negeri. Mustahil si PNS tidak mempunyai kembalian Rp 35 ribu. Anda dan saya yang sudah puluhan tahun hidup di Indo tentu tahu apa yang diharapkan doi. “Engga ada uang kecil Pak, udah ambil deh.” Tetapi mana kurela melakukan hal demikian meskipun kemungkinan si PNS gajinya tidak memadai dan tetap saja berperilaku korup di era preziden SBY ini. Itulah satu episode yang tidak menggumbirakan hati yang kualami kemarin.
Masih ingat kemacetan lalulintas di 31 Desember yang mengakibatkan abangnya Cecile bermalam tahun baru sampai pagi di jalan raya? Ternyata, dari sumber yang bisa dipercaya hal itu terjadi karena warga suatu kampung di Cipayung sengaja nge-block jalanan untuk mereka berpesta-ria. Tidak ada satupun kendaraan yang mereka perbolehkan lewat, lagipula ya engga bisa lewat. Pengemudi motor yang berusaha untuk menembus blokade mereka, konon digebukin.
Itulah lagi contoh kesemrawutan warga negeri ini, bukan saja tiada respek kepada hukum yang berlaku, tak takut kepada aparat (yang juga pada kaga nongol), tetapi tidak mempedulikan penderitaan sesama bangsanya. :-(
Sekalian lagi dongengin eror di tanah air kita bersama, satu lagi sumber keblo’onan direkayasa alias sekitar mata uang pecahan yang baru. Kita di Amrik dan di Kanada juga sedang mengalami beredarnya dua macam pecahan, ‘bank note’ yang baru. Namun, selain design-nya sama gambarnya, warnanya serupa.
Misal di lembaran 100 $ US, gambar Ben Franklin tetep wae si doi di pecahan 100 $ US yang baru, cuma kepalanya gedean dikit. Ga pa pa Ben Franklin gede kepala sebab emang doi anak jenius :-). Demikian pula di semua pecahan mata uang Kanada yang baru dikeluarkan, warnanya tetap coklat (100 $), merah (50 $) dan seterusnya serta jagoannya juga sama, misal si John A. MacDonald terus bercokol. :-) Alamak banget di Indo saat ini, saya sudah beberapa kali mesti melototin mata, terutama kalau mau kasih tip di malam hari. Mata uang Rp 20 ribu yang baru, hijau kebiru-biruan, mirip dengan Rp 1000. Kan malu-maluin bangsa Kanada banget kalau kite kasi tip cuma ceceng :-).
Seratus-ribuan yang baru, gambar Bung Karno dan Bung Hatta berwarna merah, mirip dengan lembaran 10 ribuan baru maupun cepek-an lama, sama-sama merahnya.
Kaga tau kenapa jadi pada eror begini design mata uang RI sekarang, mungkin lantaran Oom Undyantara yang dahulu bekerja di Perum Peruri sudah pensiun di Toronto :-). Sekian dulu, sampai berjumpa di edisi berikutnya, lam lekom. (IM)"

     

 


FastCounter by bCentral