|
 |
|
Hidup
Harmonis di Tengah Keragaman
Pembaruan/Yohanna Ririhena
HARMONIS
- Singapura berupaya keras menjamin keharmonisan dalam hubungan
antarras dan agama di tengah masyarakat yang beragam. Rumah-rumah
ibadah bisa berdiri berdampingan satu sama lain.
Kerusuhan bernuansa rasial pada 21 Juli 1964 telah menorehkan
pengalaman pahit bagi Singapura. Kekerasan selama satu pekan
di bagian timur, khususnya di kawasan Geylang Serai, Kampong
Kembangan, Joo Chiat dan Changi mengakibatkan 23 orang tewas
dan 454 luka-luka.
Setelah kerusuhan, banyak keluarga Melayu yang tadinya hidup
di tengah komunitas non-Melayu bergegas pindah ke wilayah
yang dominan Melayu. Sebaliknya banyak keluarga Tionghoa
angkat kaki beralih ke kawasan yang dominan etnis Tionghoa.
Polarisasi komunitas seperti ini dianggap sangat berbahaya.
Guna mencegah kerusuhan serupa meletup lagi, potensi-potensi
permusuhan harus diminimalisasi bahkan dihilangkan. Untuk
itu pemerintah menyusun kebijakan tentang permukiman. Kedua
masyarakat yang terpolarisasi dibaurkan untuk saling belajar
tentang perbedaan orang lain.
Dibuat peraturan yang menetapkan bahwa permukiman harus
mencerminkan komposisi etnis, ras dan agama. Ketentuan ini
diterapkan guna mencegah terbentuknya kantung- kantung etnis
tertentu saja.
Keselarasan
Tiap
permukiman harus mencerminkan mikrokosmos Singapura. Ada
India, Tionghoa, Melayu dan lain-lain. Ada semacam pembatasan
ras dalam arti positif. Misalnya, di satu permukiman jumlah
warga Tionghoa sudah terlampau banyak maka bila ada penghuni
yang pindah maka tidak diperkenankan warga etnis Tionghoa
yang membelinya tetapi dari ras berbeda. Dengan demikian
keragaman diciptakan dan dijaga.
Hal serupa berlaku di sekolah-sekolah, dan militer. Dalam
wajib militer, harus dijamin bahwa serdadu dalam satu peleton
terdiri atas berbagai ras dan agama. Ketentuan-ketentuan
itu memang terasa keras, tetapi itulah kunci dalam membina
keharmonisan ras dan agama di Singapura yang multietnis.
"Kami harus mencurahkan perhatian untuk masalah keselarasan
hubungan agama dan ras," ujar Menteri Informasi, Komunikasi
dan Seni Dr Lee Boon Yang saat berbincang-bincang dengan
sejumlah wartawan Indonesia pada awal Januari. Karena, menurutnya,
itulah kunci bagi masyarakat Singapura untuk tetap hidup
damai dan tentram di tengah perbedaan.
Hal serupa juga ditandaskan anggota parlemen terkemuka,
Yatiman Yusof. Tidak dibenarkan memanfaatkan agama untuk
kepentingan sendiri. "Kami para wakil rakyat mendatangi
konstituen sehingga bisa melihat sendiri apa yang terjadi
di masyarakat, sembari melayangkan pesan tentang sikap saling
menghargai, toleran satu terhadap yang lain," tambahnya.
Berbagai upaya digencarkan untuk menjaga keharmonisan agama
dan ras.
Dilakukan kegiatan di tingkat akar rumput. Ada lingkaran
antarras yang terdiri atas tokoh agama yang mewakili bermacam
ras.
Pelajaran berharga telah dipetik. Betapa kebencian, kecurigaan
dan ketakutan tak memberi keuntungan bagi masyarakat. Singapura
menyadari perkara kecil bisa meletup kehancuran besar, merusak
kesejah- teraan, perdamaian dan ketenangan.
Sejak Awal
Sebetulnya, sejak awal Singapura sudah terbiasa dengan keragaman.
Kedatangan Sir Stamford Raffles dan pembangunan pos perdagangan
Inggris di sana menjadikan Singapura bak magnet yang menarik
ratusan ribu migran dan saudagar dari kawasan sekitarnya.
Mengalirlah penduduk dari provinsi-provinsi selatan Tiongkok,
Indonesia, India, Pakistan, Ceylon, dan Timur Tengah. Penduduk
asli yang adalah nelayan- nelayan Melayu akhirnya berbaur
dengan pendatang.
Keragaman ini tercermin hingga saat ini. Penduduk Tionghoa
menempati 77 persen, Melayu sebesar 14 persen, India 8 persen
dan Eurasia 1 persen dari empat juta penduduk Singapura.
Komposisi penduduk membawa konsekuensi keragaman bahasa
dan agama. Ada empat bahasa resmi: Melayu, Mandarin, Tamil
dan Inggris. Sebagian besar rakyat Singapura berbicara dua
bahasa.
Bahasa ibu dan bahasa Inggris yang menjadi bahasa pengantar
dalam bisnis dan pemerintahan dan paling luas digunakan.
Berbagai rumah ibadah dari masjid, gereja, kuil Hindhu maupun
klenteng Tionghoa berdiri berdampingan.
Hari Keharmonisan
Kehancuran pada tahun 1960-an itu tak boleh terulang lagi.
Masyarakat memperingatinya sebagai Hari Keharmonisan Rasial
setiap 21 Juli.
Singapura belajar bahwa keharmonisan hubungan antara berbagai
ras dan agama bukan pemberian, melainkan harus diwujudkan
dan dipelihara. Sikap saling percaya, menghargai, toleransi
bukan turun dari langit, tetapi harus di- upayakan.
Kini, 41 tahun setelah kerusuhan, Singapura menikmati pendapatan
yang tinggi, kondisi perumahan yang lebih baik, sistem pendidikan
dan layanan kesehatan yang canggih.
Semua itu dicapai dengan segenap anggota masyarakat belajar
bahwa dibutuhkan sikap toleran, pengertian dan persahabatan
satu dengan yang lain.
|