|
 |
|
Peluang
Imigran sukses ke Amerika Utara
Los
Angeles , February 7, 2006/Indonesia Media
Sehubungan dengan desas desus kematian seorang WNI yang
ditemukan digedung Konsulat RI, New York, telah memicu komentar
dan dugaan yang simpang siur. Hal ini disebabkan oleh pemberitaan
yang berlainan antara satu media masa di AS dan media yang
ada di Indonesia. Terlepas dari bagaimana WNI tersebut tewas,
apakah pembunuhan atau hanya bunuh diri semata, rupanya
ada juga skenario yang merebak di milis yang menyatakan
salah satu dugaannya adalah korban tidak tahan (stress)
terhadap sulitnya hidup di Amerika.
Bagaimana sebenarnya hidup di Amerika Utara?
Dibawah ini kami rangkumkan beberapa komentar dari penulis
kami tentang persiapan, cara perjuangan hidup imigran dan
berapa besar kesempatan kaum imigran untuk sukses dirantau
ini.
Hidup di negara barat seperti USA bisa dikatakan makmur
dan senang jika ada pekerjaan dibalik meja (kantoran). Kalau
bekerja kasaran, sama saja seperti kuli, bahkan bisa jadi
lebih capai dengan sistim kerja mereka yang jor-joran, tidak
bisa ongkang-ongkang seperti orang di kampung halaman yang
kerjanya pelan, santai, jalan pelan, tinggal rokok, dll.
Karena itu sebelum ke USA persiapkan diri
agar bisa mempunyai
kemampuan untuk bekerja dibalik meja. Bila sudah terlanjur
berada
disini dan bekerja kasaran harus mempunyai energi ekstra
dan kemauan
ekstra mengisi waktu luang/istirahat dengan menempuh pendidikan
baik
itu formal diperguruan tinggi (yang banyak disediakan financial
aid
dari pemerintah untuk mereka yang mempunyai kemauan meraih
pendidikan
tinggi) ataupun non formal di adult school, ROP, community
education
di community college, dll sehingga mampu berpindah strata
menggapai
pekerjaan yang lebih baik.
Bagi yang masih di Indonesia, cobalah mulai dengan minta
visa student
terlebih dahulu, baik itu mengambil undergraduate(S1) ataupun
graduate(S2) dan doctoral(S3). Setelah lulus visa F1 bisa
dirubah
menjadi H1B(visa kerja) untuk kemudian dengan sponsor perusahaan
tempat bekerja change of status menjadi green card. Bagi
mereka yang
mempunyai higher education boleh dibilang 'sky is the limit'
atau
lebih tepatnya 'kesempatan terbuka luas' demikianlah kata
seorang
educational counselor (dan sayapun setuju dengan beliau).
Peluang untuk sukses
Quote dari informasi dari Pemerintah Canada
Chinese better educated than the general population 31%
– nearly one-
third of Chinese, whether foreign-born or Canadian-born,
had a
university education in 2001, almost double the rate of
18% among
the general population. About 16% of prime working age Chinese,
that
is, those aged 25 to 54, worked in natural and applied sciences
occupations in 2001, which was more than twice the share
for the
general population. Source: Canadian Social Trends, Spring
2005, (11-
008-XIE), "Chinese Canadians: Enriching the cultural
mosaic".
Seperti bisa dilihat dari informasi diatas
bahwa Canada adalah
negara yang. mempunyai penduduk paling terpelajar didunia.
Dimana
sekarang kira-kira 25% orang (1 in 4) di Canada adalah lulusan
universitas. Sedangkan kalau tidak ada Chinese imigrant
(majoritas
dari imgrant ke Canada) dan imigrant lain, kira-kira cuma
20% dari
penduduknya (1 in 5) Canada yang. sebagai akademisi. Saya
tidak tahu
perbandingannya di Indonesia?
Amerika sekarang baru agak bersusah hati (concern)
karena sekarang
orang-orang akademisi yang. datang/pindah ke US berkurang
terutama dari
China dan India. Beberapa tahun belakangan ini univertas/institut
dibagian science & technology dari China maju sangat
pesat sehingga
kaum akademisi dari China menjadi berkurang yang. mau ke
US. Kalau
tidak salah Universitas/Institut Teknik di Beijing sudah
termasuk
nomor 13 atau 15 yang. terbaik didunia (sebagai perbandingan,
MIT di
Boston nomor 1 dan nama ITB tidak termasuk/ada didalam list).
Tahun
ini US Congress akan menaikkan jumlah H1B visa untuk. kaum
akademisi
dari 65.000 menjadi 95.000 terutama untuk. menarik kaum
akademisi dari
China dan India (yang. kuat dalam bagian math & science-nya).
Note:
Barangkali IQ dari India juga lebih tinggi dari White seperti
orang
Orientals (Chinese, Korean, Japanese, Vietnamese). Produksi
insinyur
di China sekarang 10 kali lipat lebih banyak dari US.
Bagaimana Indonesia bisa bersaing dengan.
negara-negara lain seperti tersebut diatas
dimana orang-orang pintar di Indonesia sendiri tidak menduduki
posisi yang.
penting karena adanya KKN dan diskriminasi? Sedangkan, misalnya,
Canada dan US justru mencari tambahan orang-orang pintar
dari LN
("foreigners" yang. kuat dibagian math & science)
untuk.
memperkuat "brain power & leadership"-nya
dibagian Science &
technology-nya.
Michael/Dr.BH.Jo/JG/DI/IM
|