|
 |
|
Kerukunan
Arab-Tionghoa di Kampung Pekojan - Jakarta
Oleh: Iwan Santosa
Bila ingin menyaksikan komunitas Tionghoa yang bersopan-santun
gaya Islam, datanglah ke Kampung Pekojan di sisi kawasan
Glodok, Jakarta Barat. Masyarakat Tionghoa asli kampung
Pekojan memiliki tradisi bersalaman ala Muslim sebagai dampak
budaya yang dibawa warga Arab dan India selama berabad-abad.
Siang itu di warung mi ayam milik Ah Lim di sebelah Masjid
Annawier Pekojan, orang-orang yang datang Tionghoa, Arab
atau Melayu silih berganti dan selalu memberi salam sebelum
duduk. Ah Sen dan beberapa orang Tionghoa yang datang belakangan,
selalu berjabatan kemudian menyentuhkan ujung jemari ke
dada mereka seperti layaknya seorang Muslim.
Cuma di kampung sini bisa ketemu orang Tionghoa yang meski
bukan Muslim, tetapi selalu bersalaman setiap kali bertemu.
Semua rukun disini sejak zaman dulu. Kalau melihat di sekitar
sini ada rumah Tionghoa dengan pagar tinggi dan tertutup
rapat pasti bukan Tionghoa Pekojan. Kalau Tionghoa asli
sini sudah biasa, susah senang bersama-sama. Saya waktu
kecil biasa tidur di rumah Ah Lim dan kami main bola sama-sama,
kata Faisal Al Amrie warga asli Pekojan keturunan ke-19
Arab Hadramaut (Yaman Selatan).
Dia pun mengaku mengenal percakapan sederhana dalam bahasa
Arab Suwayau-suwayau katanya sambil tertawa yang artinya,
sedikit-sedikit paham berbahasa Arab. Sebaliknya, Faisal
juga mengaku sedikit mengerti Mandarin untuk percakapan
sederhana. Sehari-hari pun mereka terbiasa menggunakan kata
ana (untuk menyebut dirinya) atau ente (untuk lawan bicaranya).
Demikian pula pada saat Lebaran, Faisal menjelaskan, para
tetangga Tionghoa biasa bersilaturahmi ke rumahnya. Sedangkan
waktu Sinjia (Tahun Baru Tionghoa dalam dialek Hokkian Red),
Faisal menyampaikan Kiong Hie (Gong Xi) sebagai ucapan selamat
kepada teman-teman Tionghoa.
Masyarakat Kampung Pekojan tidak tahu apa itu pluralisme
atau radikalisme. Yang jelas selama ini tidak pernah ada
keributan atau berprasangka di antara mereka sebagai sesama
manusia biasa ciptaan Sang Khalik. Di tengah perkampungan
dan bangunan tua yang tercatat berasal dari abad ke-17 masih
tertinggal tradisi saling menghargai yang tak lenyap di
telan zaman.
Tradisi lain yang terpelihara baik adalah soal perkawinan
dan kematian. Faisal mengatakan, kalau ada warga yang meninggal,
semua berkumpul. Yang bertakziah tidak pandang bulu. Arab,
Tionghoa, Melayu semua kumpul, kata Faisal.
Hukumnya wajib untuk membantu tetangga yang kesusahan di
Kampung Pekojan. Lebih unik lagi, kalau urusan perkawinan,
semua saling urun modal perkawinan. Faisal menjelaskan,
kalau ada calon mempelai pria yang kesulitan uang untuk
modal perkawinan, biasanya yang bersangkutan akan bercerita
kepada sahabatnya entah sesama Arab atau Tionghoa. Selanjutnya,
kawan tersebut bertindak sebagai perantara dan mengutarakan
kesulitan si calon mempelai seraya mengumpulkan dana dari
kawan-kawannya yang lain.
Dari aksi solidaritas tersebut sesama warga Pekojan mengupayakan
bagaimanapun caranya si calon mempelai pria harus bisa punya
modal yang dibutuhkan untuk menikah, kata Faisal.
Berbagi hidup juga dilakukan di saat musim kemarau. Biasanya
jika warga kesulitan air, mereka mengambil air di Musola
Azzawiyah, Pekojan. Arab, Tionghoa, Muslim ataupun bukan
Muslim antre mengambil air di tempat itu.
Petang pun beranjak malam. Suara azan terdengar dan warga
Arab Pekojan pun menunaikan ibadah Shalat Magrib. Kesibukan
suasana perdagangan di Pekojan pun terhenti dan hari esok
akan kembali menjalin keakraban penghuninya. Kampung Pekojan
bukan hanya situs dan komunitas peninggalan sejarah. Pesan
kerukunan di tengah kepastian merupakan hal nyata bagi komunitas
Kampung Pekojan.
(kcm/IM)
|