Darah Adikku Tertumpah untuk Perdamaian Poso

Ditinggalkan oleh orang yang kita kasihi, terlebih jika orang itu punya hubungan darah dengan kita, tentu akan meninggalkan kesedihan mendalam bagi kita. Orang yang meninggal dengan tenang saja sudah membuat kita berdukacita, apalagi kalau kepergiannya mengenaskan. Itulah yang dialami oleh salah seorang anggota Majelis Pekerja Lengkap (MPL) PGI, Pdt. Anna B. Nenoharan M.Th yang juga menjabat sebagai Ketua Pelaksana Harian Sinode GEKINDO (Gereja Keesaan Injili Indonesia), Jakarta. Di mana pendeta ini kehilangan adiknya yang tercinta, karena terbunuh dalam kasus Poso. Dalam kesaksian pendeta ini, kita menemukan arti kasih yang sejati seperti yang dikehendaki Allah.
Dalam kematian adik saya, di mana darahnya tertumpah, saya serukan agar hal itu menjadi darah perdamaian untuk Tanah Poso. kata Anna dengan mata yang berkaca-kaca pada NARWASTU Pembaruan, belum lama ini di kediamannya, di kawasan Bekasi, Jawa Barat. Sang adik, (almarhum) Drs. Towelemba Wilelipu merupakan bungsu dari delapan bersaudara. Semasa hidupnya Towelemba dikenal tokoh masyarakat dan Kepala Desa Peleru, Poso.
Towelemba yang dikenal sosok yang baik hati, suka menolong dan sederhana, menjadi korban pembunuhan secara sadis oleh kelompok Muslim radikal ketika konflik memanas di Poso.Sebenarnya adik saya adalah mediator antara
kelompok Islam, Kristen dan pemerintah, ketika kerusuhan di Poso berlangsung, tuturnya tanpa bisa menahan tetesan air matanya. Istri tercinta Pdt. Dr. Benny Nenoharan, dan ibu dari Emmanuela S.Th, Elia SE, Elizabeth dan Ester ini, mengisahkan, pada saat itu ada satu kampung yang dikepung oleh sebuah kelompok Muslim radikal. Kelompok radikal itulah yang membuat situasi makin kacau di daerah setempat. Lantaran suka menolong sesamanya, sang adik pergi membawa bantuan sembako ke kampung itu dengan kawalan dua anggota TNI.
Ia berangkat dari Poso jam enam sore. Dan, setengah jam kemudian mereka melewati daerah basis¡