Kawin
Campur
"Mat,
gimana umumnya pandangan orang Indonesia mengenai kawin
campur ?" tanya Paco, co-driver Mat Kelor yang asal
Mexico, ketika mereka sedang menikmati santap malam di sebuah
Chinese Buffet Restaurant di Albuquerque, New Mexico.
"Tergantung kasusnya dong, " jawab
Mat Kelor singkat, sambil asyik menikmati kerang hijau kegemarannya.
Di sini bisa makan sepuasnya, lagipula nggak usah takut
keracunan mercury.
"Nggak usah dilihat kasus per kasus,
pertanyaan gue tadi kan umumnya, " desak Paco lagi.
"Maksud gue campur ama apaan. Kalau sama
hewan atau dedemit ya haram hukumnya, " jawab Mat Kelor
sekenanya, karena pikirannya masih terpusat di kerang hijau.
"Sia'ul lu, maksud gue ya orang sama
orang, " jawab Paco setengah dongkol.
"Kalau campur laki sama perempuan malah
dianjurkan. Yang nggak lazim dan belum ada aturannya; perkawinan
sesama jenis, " kata Mat Kelor dengan santai sambil
senyum-senyum.
"Itu sih gue udah tahu. Sama dengan di
negara gue. Maksudnya kawin campur itu lain bangsa, "
kata Paco yang kali ini langsung tepat ke sasaran.
"Bilang kek dari tadi. Makanya kalo ngomong
yang jelas, " kata Mat Kelor mulai serius. "Perkawinan
itu kan antara 2 pribadi yang berbeda. Nah dengan yang sekampung,
seagama, adat istiadat sama aja nggak gampang ngejalaninnya.
Apalagi sama yang beda bangsa. Umumnya pikiran orang tua
sih gitu kalau anaknya mau kawin dengan bangsa lain. Tapi
banyak juga yang sudah moderat, asal sama-sama cinta dan
mau saling pengertian, toh yang ngejalanin nanti bukan orang
tuanya. "
"Nah, itu yang gue mau tahu. Tapi apa
ada perbedaan perkawinan dengan bangsa apa ? Misalnya sesama
orang Asia, bule, Latino, black dll ?" tanya Paco lagi.
"Oh jelas, orang Indonesia itu ngerasa
paling superior diantara bangsa Asia lainnya. Jadi kalau
mau dapat mantu orang Asia lainnya, kayaknya orang tuanya
merasa turun derajat dikit, " kata Mat Kelor sok tahu.
"Kalau sama bule gimana ?"
"Paling nggak kan ada kemungkinan jadi
citizen, " kata Mat Kelor sambil terkekeh-kekeh. "Lagian
bisa memperbaiki keturunan, dalam hal warna kulit dan tinggi
badan. Kulit anaknya bisa agak terangan dan mengurangi kemungkinan
dapat keturunan yang kontet-kontet. "
"Tapi yang paling bagus itu kalo dapat
jodoh asal Timur Tengah, " tambah Mat Kelor lagi.
"Lho, kenapa ?" tanya Paco kebingungan.
"Kan masih keturunan nabi, " jawab
Mat Kelor sambil tergelak. "Asal jangan salah pilih,
dapetnya teroris !"
"Kalau gitu kelihatannya orang Indonesia
itu cukup terbuka pemikirannya. Boleh juga dong, gue dikenalin
sama cewek Indonesia, " sahut Paco sambil cengar-cengir.
"Sia'ul nih anak," kata Mat Kelor
dalam hati. "Dari tadi ngomong ngalor-ngidul, rupanya
cuma pengen dicariin jodoh. Biarin gue bales sekarang."
"Kayaknya berat buat elu, Paco !"
kata Mat Kelor sambil menahan tawa. "Kayaknya orang
Indonesia masih mendingan dapetin bangsa Asia lain seperti
yang tadi gue ceritain, dibanding elu. "
"Lho emangnya gue kenapa ?" tanya
si Paco lagi sambil sepintas ngelirik kaca dinding.
"Turun derajat dong. Kita-kita kan masuk
sini masih lewat airport. Kalo lu kan modal loncat pagar
doang, " kata Mat Kelor sambil terbahak-bahak sampai
terbatuk-batuk.
(Bang Madi/ IM)
|