DPR Desak Pergantian Panglima TNI

Panglima TNI Jendral Endriartono Soetarto
Ryamizard Ryacudu

JAKARTA - Regenerasi di tubuh Tentara Nasional Indonesia saat ini terhambat dan tidak berjalan semestinya. Hal itu terkait dengan diperpanjangnya masa tugas Panglima TNI Jenderal Endriartono Soetarto. Endriartono sendiri sudah diperpanjang masa pensiunnya sebanyak tiga kali.
Sebelumnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beralasan, penggantian Panglima TNI baru akan dilakukan setelah masalah penyerahan senjata Gerakan Aceh Merdeka (GAM) berakhir. Dengan demikian, saat ini SBY tidak punya alasan lagi melakukan penundaan pengajuan calon.
Demikian dikatakan oleh anggota Komisi I DPR (bidang pertahanan) Yuddy Chrisnandi, di gedung DPR/MPR Senayan Jakarta, Rabu (14/12). Menurutnya, sikap Presiden yang mengulur-ulur waktu dan tidak segera melakukan penggantian Panglima TNI, bisa menghambat regenerasi TNI.
"SBY harus segera mengajukan calon ke DPR. Hal ini agar pada masa persidangan mendatang, DPR sudah bisa melakukan pembahasan. Apalagi, saat ini proses penyerahan senjata GAM sudah hampir tuntas. Sebuah institusi akan sehat kalau proses regenerasi berjalan dengan baik," katanya.
Dijelaskan, aspirasi untuk segera dilakukannya penggantian Panglima TNI juga terjadi di intern TNI. Dia juga melihat adanya kesan SBY menolak mantan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Ryamizard Ryacudu untuk menggantikan Endriartono.
"Isyarat penolakan itu bisa dilihat dari tidak diterimanya Ryamizard sewaktu diusulkan Megawati menjadi Panglima TNI. Yang kedua adalah perpanjangan sampai tiga kali atas Endriartono," paparnya.
Secara terpisah, anggota Komisi I DPR Deddy Djamaluddin Malik mengungkapkan, ada baiknya Endriartono mengajukan usul pengunduran diri. Menurutnya, jika Endriartono mengundurkan diri akan mempermudah SBY dalam mengambil keputusan.
"Penggantian Panglima TNI merupakan hak presiden. Tapi akan lebih baik kalau SBY segera membuat kepastian. Jangan terus membuat alasan-alasan menunda pergantian," tandasnya.
Lebih lanjut dia mengemukakan, perlu ada komunikasi politik yang lebih baik. Jangan sampai kemudian muncul kesan SBY memang seorang peragu dalam mengambil keputusan.
Yuddy Chrisnandi mengutarakan, Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla tidak memiliki kepentingan apa pun dan menyerahkan persoalan penggantian tersebut kepada Komisi I untuk membahasnya.
(sas-60v/IM)



     

 


FastCounter by bCentral