|
Indonesian's Ghosts Are Crazy
Mat
Kelor baru saja aplusan nyetir di antara kota Phoenix dan
Flagstaff, Arizona dalam perjalanan menuju New Hampshire.
Berhubung belum mengantuk, Mat Kelor memutuskan untuk menemani
co-drivernya; si Paco, orang Mexico. Jalanan menanjak terus
sehingga truk yang dikendarai tidak bisa melaju dalam kecepatan
tinggi. Saat itu menjelang tengah malam di awal musim dingin,
hanya sesekali mereka bertemu dengan kendaraan lain.
"Hey Paco, gimana kalau di tengah malam
yang sepi begini ada cewek cantik yang nyetopin truk kita
?" tanya Mat Kelor setengah bercanda.
"Gile lu Mat, gue nggak mau ambil resiko.
Gue sih nggak takut, kalau cuma ditodong doang, " jawab
Paco dengan suara sedikit bergetar.
"Lha kalau benar ditodong, kita bisa
apa ?" tanya Mat Kelor lagi mau ngetes keberanian temannya.
"Paling nggak kita kan berdua. Lu kan
orang Asia, sedikit banyak pasti bisa silat, " jawab
Paco lagi, karena keseringan nonton film Hongkong.
"Ah, itu sih jaman dulu. Orang Asia jaman
sekarang jarang yang pinter silat. Paling-paling silat lidah
doang, " kata Mat Kelor sambil terkekeh-kekeh.
"Kalau di Mexico, kerja begini, pasti
gue bawa beceng, " kata Paco. (beceng=pistol). "Di
sini sih ngak bisa, kan dilarang sama perusahaan dan juga
melanggar federal law buat sopir truk. "
"Emangnya banyak rampok atawa lu punya
banyak musuh ?" tanya Mat Kelor kepingin tahu, maklum
ia belum pernah nyebrang ke Mexico. Mungkin ke sononya sih
gampang, tapi baliknya lagi ke Amerika yang nggak janji
deh.
"Dua-duanya, " jawab Paco singkat.
"Kalau di negara gue, musuh sih nggak
usah dihadepin sendiri. Tangan kita biar tetap bersih dong,
" kata Mat Kelor.
"Ah itu sih biasa, di Mexico juga. Bayar
aja cecunguk buat ngeberesin, " balas Paco meremehkan
pernyataan Mat Kelor.
"Pake tukang pukul tetap ada resikonya
kalau ketangkep. Orang di sono pada ke dukun teluh. Nggak
ada bekasnya, musuh pada mati sendiri, " cerita Mat
Kelor lagi.
"Ah itu sih biasa, di Mexico juga. Syaratnya
musti punya barang orang yang dituju. Misalnya potongan
kuku, rambut, baju atau sisir, " kata Paco menceritakan
mengenai dunia perdukunan di sana.
"Ah di sono sih nggak perlu gitu-gituan,
" kata Mat Kelor lagi nggak mau kalah, " Dedemit
suruhan dukun Indonesia bisa cari data sendiri, asal dikasih
tahu nama dan ciri-ciri aja udah cukup. "
"Biasanya korbannya jatuh sakit. Gejala
penyakitnya sih umum, kayak penyakit biasa, misalnya muntah-muntah.
Tapi kalo dicek ke dokter, hasilnya normal-normal aja. Makin
lama makin parah terus mati sendiri, " tambah Paco.
"Di sono hampir sama sih. Bedanya soal
muntah. Bukan muntah biasa, tapi keluar paku dan jarum !"
kata Mat Kelor.
"Kalo gitu ilmu dukun di sono lebih tinggi
ya ? " seru Paco sambil geleng-geleng kepala, setengah
nggak ngerti. Gimana bisa, makan tempe keluar paku dan jarum
?
"Ngomong-ngomong, tadi lu bilang nggak
takut dirampok, kalo ada cewek cantik yang nyetopin kita
? Jadi lantas kenapa ?" tanya Mat kelor mengingatkan
pembicaraan semula.
"Kalo ternyata cewek yang kita angkut bukan orang,
gimana ?" jawab Paco sambil bergidik.
"Ha..ha..ha.., rupanya orang Mexico percaya
takhyul juga, " kata Mat Kelor sambil tertawa.
"Sering juga kejadian gitu. Nanti tiba-tiba
si cewek hilang dan tinggal bawa kembang, " kata Paco
lagi tambah bergidik ketakutan.
"Ah itu sih biasa. Di sono sih ceweknya
nggak hilang. Jadi sempet diantar ke rumahnya, terus si
cowok diajak nginap. Eh pagi-paginya waktu bangun tidur,
si cowok bukan ada di kamar cewek, tapi ternyata tidur tanpa
busana di atas kuburan sambil melukin nisan !" kata
Mat Kelor sambil ngarang cerita yang lebih seram dari cerita
si Mexico.
"Ya ampun, ternyata hantu Indonesia
lebih gila daripada hantu Mexico, " kata Paco spontan
disambut gelak tawa Mat Kelor yang segera bergegas ke sleeping
berth untuk istirahat.
(Bang Madi/ IM)
|