|
 |
|
Soekarno File dan Bangsa yang Cerdas
Oleh : Dimyati Hartono
Kamis,
17 November 2005, seorang cendekiawan Belanda, Antonie CA
Dake, menyampaikan uraian tentang isi bukunya Soekarno File,
yang menyimpulkan Bung Karno adalah master mind peristiwa
G30S/PKI. Memang tepat pesan dari Bapak Pendiri Bangsa sebagaimana
tertuang dalam UUD 1945, bahwa salah satu tujuan membentuk
negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Membaca tulisan
itupun kita harus cerdas. Menurut pengakuannya, pengumpulan
data untuk penulisan buku dimulai 1988, ampir seperempat
abad setelah peristiwa G30S/PKI. Yang jadi objek tulisannya
adalah Sukarno, yang oleh seluruh bangsa Indonesia sangat
dihormati dan diakui sebagai Bapak Bangsa.
Kebesaran Bung Karno yang tecermin pada kebesaran gagasan
dan pengaruh serta wibawanya membuat orang --di Indonesia
maupun di luar Indonesia-- dapat memberikan penilaian yang
berubah-ubah dari waktu ke waktu. Ini adalah kenyataan.
Jadi, jangan heran bila tulisan Antonie CA Dake ini pun
sebuah pandangan yang situasional dan subjektif.
Karena bukan hasil penelitian objektif, kita tidak usah
risaukan. Tulisan tersebut tidak bisa dijadikan acuan sejarah,
tetapi dapat dipakai sebagai koleksi bacaan dan dibaca ''sinambi
kalaning nganggur (sambil tiduran waktu senggang).''
Einstein yang dikagumi dunia pernah berkata: ''Inspiration
is much more important than knowledge''. Inspirasi jauh
lebih penting daripada pengetahuan. Tulisan Antonie CA Dake
adalah knowledge, bukan inspiration. Tetapi yang diberikan
Bung Karno kepada bangsa Indonesia adalah inspirasi yang
mampu menggerakkan semangat seluruh rakyat mengusir penjajah.
Akurasi data
Nilai sebuah tulisan bukan karena tebalnya buku atau banyaknya
halaman. Bukan juga karena ditulis dalam bahasa asing oleh
orang asing. Tapi berdasarkan akurasi data yang dipakai
sebagai dasar analisis dalam membuat kesimpulan. Dalam konteks
inilah saatnya kita melaksanakan amanat UUD 1945 untuk menjadi
bangsa yang cerdas.
Antonie CA Dake mengakui sumbernya antara lain dari wawancara
orang-orang Indonesia sejak 1988, yang tentu tidak bisa
begitu saja diklasifikasikan sebagai data valid. Dengan
demikian, akurasinya kurang bisa dipertanggungjawabkan.
Hal ini diperkuat oleh jawaban dia ketika ditanya soal keterlibatan
CIA, Kolonel Latief, dan mantan presiden Suharto. Jawabannya
kontroversial dan tidak menjawab dengan fakta, tetapi berupa
kesimpulan pribadi yang dia buat.
Apa yang ia lakukan ibarat membuat sebuah jepretan lensa
sepotong kehidupan Bung Karno yang lepas dari konteks seluruh
kehidupan Bung Karno sebagai pejuang besar yang telah mampu
memobilisasi kekuatan rakyat dalam mengusir penjajahan Belanda;
mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan
bangsa dan negara Indonesia dalam wadah NKRI; menemukan
dasar negara Pancasila; dan membawa cakrawala kehidupan
baru bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat,
lepas dari belenggu penjajahan Belanda. Bahkan pengaruhnya
meluas sampai ke bangsa-bangsa Asia dan Afrika.
Fakta pembanding
Dengan tidak mengurangi hormat kepada Antonie CA Dake sebagai
intelektual Belanda, saya ingin menyumbangkan bahan pembanding
sebuah fakta sejarah yang kami alami sendiri pada 1964 di
Irian Barat (sekarang Papua). Ketika itu, kami bertugas
sebagai kepala Kejaksaan Negeri Sukarnopura (sekarang Jayapura)
membongkar gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Ada seberkas dokumen yang dikirim orang-orang Belanda tertentu
di Belanda ditujukan kepada tokoh utama pendukung OPM di
Irian Barat. Setelah dokumen rahasia itu kami buka, ternyata
berisi struktur organisasi dan nama-nama pimpinan OPM di
beberapa kota di Irian Barat, serta rencana kerjanya. Dari
dokumen tersebut, ternyata tokoh pendukung utama gerakan
tersebut di Irian Barat adalah seorang pimpinan agama tertentu
yang berkebangsaan Belanda bernama Van den Broek dengan
nama samaran Unacre.
Setelah selesai pembuatan berita acara, secara pribadi saya
tanya mengapa sebagai rohaniwan yang berkedudukan mulia
masih mau terlibat dalam soal politik. Jawabannya tidak
lagi religius, tapi secara lugas dia menyatakan bahwa: sebagai
seorang Belanda dia tidak rela menyerahkan Irian Barat (dulu
Nederlands Nieuw Guinea) kepada Indonesia. Sebuah fakta
sejarah yang merupakan pelajaran berharga bagi bangsa yang
cerdas. Saya tidak mengatakan tulisan Antonie CA Dake mempunyai
tujuan politis tertentu, menilik isi dan waktu penyampaiannya
kepada masyarakat Indonesia. Tentu juga bukan maksud kami
mengaitkan dengan penyelenggara dan tokoh-tokoh yang sengaja
diundang hadir saat peluncuran buku terjemahan itu. Juga
tidak ada kaitannya dengan hebatnya pemberitaan media massa
kita.
Bapak Bangsa
Pelajaran baik yang dapat dipetik bila berwisata ke Amerika
Serikat adalah mengunjungi Arlington, yaitu makam para mantan
presiden AS. Yang sangat mengesankan, pada tiap-tiap patung
mantan presiden tersebut tidak tertulis satu patah katapun
yang menjelek-jelekkan. Kita mendengar berita tentang berbagai
affair yang pernah dilakukan para mantan presiden itu semasa
hidupnya. Tapi apa yang tertera pada patung para presiden
itu adalah ucapan terima kasih rakyat AS kepada para pemimpinnya.
Kepada George Washington, misalnya, rakyat AS menyatakan
terima kasih. Karena dialah maka AS menjadi negara merdeka.
Sedangkan pada patung Abraham Lincoln tertulis rasa terima
kasih rakyat AS, karena dialah rakyat AS dibuka mata hatinya
bahwa antara yang hitam dan putih itu sederajat.
Saya sempat termenung. Mungkinkah ini rahasia kebesaran
dan kedigdayaan bangsa dan negara AS: menghargai, menghormati
dan berterima kasih kepada para pemimpin pedahulunya beserta
jasa-jasanya yang telah disumbangkan kepada negara. Sebuah
bahan pembanding dan pelajaran sejarah dari negara lain
yang patut ditiru. Lalu, bagaimana dengan kita?
Masih harus teruskah kita terjerembab pada kontroversi penilaian
terhadap jasa-jasa para pendahulu kita? Masihkah kita membuka
peluang negara kita menjadi ajang pertarungan pemikiran,
paham, dan pengaruh luar yang simpang siur dan mengancam
integrasi nasional kita? Masih haruskah kita terus menerus
terbius oleh slogan-slogan mengenai hak asasi manusia, demokratisasi,
rule of law, transparansi, pasar bebas, dan lain-lain jargon
neo-liberalisme dan neo-kapitalisme dalam rangka globalisasi,
tanpa menggunakan akal yang sehat dan pemikiran yang objektif?
Sebagai bangsa yang cerdas menghadapi gelombang pengaruh
globalisasi, tentu kita tidak seharusnya mengabaikan dasar,
sendi, dan pola pemikiran bangsa sendiri yang bersumber
dari falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesa sendiri
yaitu Pancasila dan UUD 1945. Dalam era globalisasi yang
ditandai dengan masyarakat yang tanpa batas (borderless
society), tidak satu bangsa pun di dunia ini yang rela mengorbankan
kepentingan nasionalnya, bahkan sebaliknya tetap membela
dan melindunginya. Marilah kita sadari bahwa bangsa Indonesia
adalah bangsa yang besar, nomor empat terbesar. Wilayahnya
tidak lebih kecil dari AS, membentang dari London sampai
Ankara di Eropa. Dianugerahi kekayaan alam melimpah di darat,
di laut dan di udara.
Salah satu negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki
posisi geografis sangat strategis dalam percaturan politik,
ekonomi, dan keamanan dunia --khususnya Asia dan Pasifik.
Inilah kepentingan-kepentingan nasional kita yang harus
kita pertahankan, bela, dan lindungi. Tidak untuk kepentingan
bangsa lain, tetapi untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia
yang berbhineka dan tetap tunggal ika.
Sudah menjadi kenyataan sejarah, bahkan telah menjadi tekad
dan keputusan seluruh bangsa Indonesia bahwa Sukarno telah
ditetapkan sebagai bapak bangsa. Dalam konteks ini, marilah
kita perkaya knowledge atau pengetahuan kita dari manapun
datangnya, tetapi seluruh knowledge yang kita peroleh dimanfaatkan
untuk mewujudkan inspirasi yang telah diletakkan dasarnya
oleh Bung Karno sebagai bapak bangsa Indonesia guna menjaga
keutuhan NKRI. Di dalam tiap-tiap negara besar pasti ada
orang besar. Orang besar adalah orang yang besar wawasan
gagasan dan pemikirannya.
(Penulis adalah Guru Besar Tetap Universitas Diponegoro
dan Pasca-Sarjana Universitas Indonesia/ronline/IM)
|