| WHO
Izinkan Tamiflu Made in Indonesia
Kemas Irawan Nurrachman - detikcom
Jakarta - Indonesia dipastikan tidak akan mengimpor Tamiflu
lagi dalam bulan-bulan ke depan. Badan Kesehatan Dunia (WHO)
sudah mengizinkan produksi Tamiflu made in Indonesia.
Dengan izin tersebut diharapkan Indonesia
bisa menyuplai sendiri kebutuhannya terhadap obat yang saat
ini dianggap paling ampuh mengatasi penyakit flu burung.
"Saya akan memberikan keterangan resmi
tentang keputusan bahwa RI boleh memproduksi Tamiflu untuk
memenuhi kebutuhan pemerintah dalam menghadapi pandemi flu
burung," kata Menkes Siti Fadilah Supari saat jumpa
pers di Gedung Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan,
Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, Sabtu (26/11/2005).
Tamiflu buatan Indonesia ini rencananya akan
dibuat oleh dua BUMN farmasi, yakni Kimia Farma dan Indofarma.
Untuk memenuhi kebutuhan stok Tamiflu minimal 22 juta tablet
yang berasal dari 10 persen jumlah penduduk, kedua BUMN
ini memerlukan waktu antara 3-5 bulan.
"Pembuatan Tamiflu ini hanya untuk kebutuhan
pemerintah dan tidak untuk diperjualbelikan," kata
Menkes yang didampingi Dirjen Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan Depkes I Nyoman Kandun dan pejabat
WHO, Steve B Jorge.
Nantinya, untuk tahap pertama, penyebaran
tablet Tamiflu buatan dalam negeri akan dilakukan di tiga
wilayah, yakni Jawa Barat, DKI dan Banten. Karena warga
di tiga wilayah inilah yang paling banyak terserang gejala
flu burung.
Kebutuhan Tamiflu di dalam negeri, imbuh Menkes,
sangat tinggi. Saat ini jumlah Tamiflu yang tersedia hanya
800 ribu tablet. Jumlah tersebut dianggap masih kurang.
Mengenai biaya yang dibutuhkan untuk memproduksi
Tamiflu, Menkes mengatakan, masih dalam perhitungan karena
pemerintah masih melihat row material (bahan baku)-nya.
Saat ini bahan baku pembuatan Tamiflu berasal dari tumbuhan
yang hidup di Tiongkok dan Korea.
Menkes juga belum bisa memastikan asal dananya,
apakah dari APBN atau donatur. "Tapi ada kemungkinan
dari dua-duanya," kata dia.
(umi)
|