|
 |
|
Inflasi
dan Suku Bunga
Oleh: Aviliani
Dosen STIE Nusantara, Jakarta
Prediksi
pemerintah dalam menentukan angka inflasi beberapa kali meleset
- tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Karena itu, prediksi
pemerintah tidak dapat dijadikan patokan pasar. Meski begitu,
pemerintah selalu menyatakan optimis mengenai angka inflasi
ini.
Hasil perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan
bahwa Oktober inflasi mencapai 15,75%. Di sisi lain, pemerintah
yakin bahwa angka inflasi akhir tidak lebih dari 12% - dan
akan menurun menjadi deflasi setelah Lebaran. Pemerintah lebih
banyak memperhitungkan angka inflasi dengan menggunakan angka-angka
makro ekonomi - dan semuanya dianggap tetap (ceteris paribus),
tanpa mempertimbangkan distorsi pasar dan kondisi di lapangan.
Misalnya, ketika pemerintah baru mengumumkan waktu dan jumlah
kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), ternyata di di lapangan
harga sudah lebih dulu melambung. Pedagang beralasan, itu
karena pasokan BBM terbatas dan mengalami kelangkaan. Tapi
setelah harga BBM naik pun, kelangkaan BBM masih saja terus
berlangsung, sehingga harga aneka kebutuhan pokok melonjak.
Ini menjadi pemicu meroketnya inflasi pada Oktober lalu.
Prediksi pemerintah bahwa setelah Lebaran terjadi deflasi
juga meleset - karena sampai akhir November kemarin inflasi
belum juga turun. Bahkan diprediksi, inflasi sampai akhir
tahun ini lebih tinggi lagi: mencapai 17-18 persen.
Tingginya inflasi telah direspons Bank Indonesia (BI) dengan
menaikkan suku bunga sampai dua kali: dari 10% menjadi 11%,
kemudian naik lagi menjadi 12,25%. Kenaikan tersebut direspons
juga oleh perbankan dengan menaikkan suku bunga simpanan maupun
kredit.
Dalam konteks itu, BI tidak menaikkan suku bunga sampai di
atas angka inflasi. BI sangat berhati-hati mengenai kemungkinan
munculnya akibat lain, yaitu memburuknya kinerja bank yang
juga bisa mengganggu pertumbuhan ekonomi nasional. Selain
itu, pengetatan moneter yang dilakukan BI bukan disebabkan
oleh sisi permintaan, melainkan karena kebijakan pemerintah.
Sampai akhir tahun 2005, perbankan nasional memang tidak mengalami
penurunan kinerja secara signifikan. Secara keseluruhan, selama
Januari-Agustus, hampir sebagian besar bank telah mencapai
target usaha. Tetapi tahun depan, sampai semester I, diperkirakan
perbankan nasional mengalami penurunan kinerja karena ekspansi
kredit melorot. Bahkan sangat mungkin mereka kian dibebani
masalah kredit macet hingga di atas 5%. Karena itu, BI perlu
meninjau kembali efektivitas kenaikan suku bunga dalam rangka
merespons inflasi ini. Data statistik BI sendiri menunjukkan,
kenaikan suku bunga ternyata hanya membuat pertumbuhan dana
pihak ketiga di perbankan sebesar 0,7%.(IM)
|
|