|
 |
|
Pertemuan NU-Etnis Tionghoa
Negara Damai, Baru Makmur
SEMARANG-
Negara RRT bisa membangun negerinya semaju sekarang, resepnya
hanya satu, yakni jangan gontok-gontokan. Kemudian ada pepatah
Tionghoa yang berbunyi, ''keluarga itu harus damai, baru
keluarga itu bisa makmur''.
''Dalam konteks membangun Negara Indonesia seharusnya juga
demikian. Kita harus bersatu membangun negara tercinta ini.
Coba kalau bercerai berai, rugi kita,'' kata Sindu Dharmali,
Ketua Paguyuban Warga Tionghoa Jawa Tengah, dalam pertemuan
dengan PW Nahdlatul Ulama di Rumah Dinas Wakil Gubernur
Ali Mufiz, Jl Rinjani No 1, semalam.
Pertemuan yang difasilitasi Wagub itu untuk menyikapi munculnya
teror melalui short message service (SMS) yang diterima
oleh sejumlah warga etnis Tionghoa di Semarang, akhir-akhir
ini. Pertemuan yang dikemas dalam makan malam bersama tersebut,
dihadiri sejumlah tokoh Tionghoa Jateng dan pengurus inti
PW NU Jateng.
Karena itu begitu ada SMS yang bernada teror kepada Tionghoa,
Sindu yang semalam menjadi juru bicara etnis Tionghoa hanya
tersenyum. Pihaknya beranggapan tak usah menanggapi secara
serius.
Dari unsur etnis Tionghoa, selain Sindu Dharmali hadir pula
Hoo Liong Tiauw, sesepuh masyarakat Tionghoa Jateng, Budi
Purnomo (Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia/PSMTI
Jateng), Hendro Rudiarto (Sekretaris PSMTI), Johan Firmansyah
Budi Nugroho, Nelwan, Gunawan, Hendra Sugiyarto, Haryanto
Halim dan sejumlah tokoh lainnya. Sedangkan dari PW NU Jateng
hadir Rois Syuriah PW NU KH Masruri Mughni, Ketua Tanfidz
PW NU Muhammad Adnan, dan para pengurus lainnya. Rektor
IAIN Walisongo Prof Dr Abdul Djamil yang juga Penasihat
PITI Jateng.
Adapun Wagub Ali Mufiz mengungkapkan, masyarakat Jateng
ibarat tubuh manusia. Kalau salah satu bagiannya sakit karena
dicubit orang, maka yang lain merasa sakit pula. Karena
tidak ingin bagian dari masyarakat mendapatkan kesulitan
dan kesusahan, perlu dilakukan upaya pencegahan secara dini.
(G17-29/IM)
|