Sebuah harapan

Oleh : Hilda Sabri Sulistyo
Pepatah Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula agaknya tepat untuk menggambarkan kondisi yang dialami oleh ratusan pedagang kecil di pantai Kuta maupun usaha kecil menengah (UKM) di pantai Jimbaran Bali pascaledakan bom awal Oktober lalu.
Di saat mereka tengah menyesuaikan diri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang harganya melambung akibat kenaikan bahan bakar minyak (BBM), pada saat bersamaan tragedi Bali kembali terulang membuat luka yang dalam pada masyarakat Bali dan menyeret mereka ke suatu ketidakpastian untuk mengais rejeki.
"Memang tidak ada eksodus, tetapi tetap saja pantai jadi agak sepi berarti pengunjung berkurang," kata Tina tukang pijat yang beroperasi di pantai Kuta tepat di depan Hard Rock Hotel.
Sepintas aktivitas wisman di pantai itu yang terkenal untuk tempat berselancar angin (surfing) dan menikmati Sun Set itu nampak ramai, namun bagi para penjual jasa dan pedagang kecil di lingkungan itu, hasil pendapatan per hari mereka mulai berkurang.
Tina, janda dua anak yang ditinggal wafat suaminya sejak 15 tahun lalu mengaku penghasilannya mulai berkurang dari Rp50.000 per hari menjadi Rp20.000 per hari. Soalnya selain jumlah tamu yang berkurang, dia juga harus bersaing dengan sekitar 30 pemijat yang mencari nafkah di lokasi antara Hard Rock Hotel hingga restoran cepat saji Mc Donnald di kawasan itu.
Dari batas area itu hingga ke pantai Legian yang berjarak sekitar 200 meter ada sekitar 40 pemijat lagi yang mengais rezeki dari menawarkan jasa pijat itu pada turis dengan tarif Rp 30.000 per jam. "Sekarang kalau ada tamu malah dikerjakan oleh dua pemijat karena bagi-bagi rezeki sama teman," kata Tina polos.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Ketut Yamin, penjual pernak-pernik asesoris khas Bali. Turis memang masih banyak yang datang tapi lebih suka menikmati alam dan tidak berbelanja akibatnya dia menurunkan harga dagangan kalung, gelang dan asesoris lainnya untuk menarik pembeli. Kalau sebelum ledakan bom terulang dia bisa dapat Rp 50.000 per hari kini tinggal Rp20.000 per hari.
Penjual jasa lainnya, Herman, pemuda asal Jatim yang menawarkan sewa papan selancar mengatakan sampai tiga hari pasca ledakan awal Oktober lalu dia tidak mendapat tamu, tapi setelah itu tiap hari masih ada wisman yang menyewa papannya yang terdiri dari lima long boat dan enam body boat. " Masih ada satu-dua penyewa per hari, umumnya wisman dari Australia dan Jepang tetap datang yang dikenakan tariff sewa antara Rp100.000-Rp200.000 per jam. Kalau wisatawan lokal karena sedang puasa sepi, tarif untuk mereka juga beda cukup Rp60.000 dan ramai datang di akhir pekan dan tunggu libur Lebaran nanti," ujarnya.
Untuk menjual jasa sewa papan ini, Herman harus bersaing dengan 50 usaha yang sama sepanjang pantai itu dan sudah nongkrong di pantai dari pagi sebelum jam 7:00 hingga matahari tenggelam. Profesi yang sudah dilakoninya tiga tahun ini diyakininya masih bisa memberikan prospek usaha yang cerah karena tragedi Bali kedua ini memang tidak menimbulkan eksodus. Malah, kata Herman, wisman yang ditanya soal ledakan itu acuh saja.
Wayan Sumerta dan Nyoman Darwija, satgas pantai Kuta mengatakan perbedaan yang mencolok dari dua kejadian yang melukai rakyat Bali itu adalah tidak ada eksodus besar-besaran dari Wisman. Sejumlah wisman yang mengobrol dengan mereka selagi melakukan pengamanan dengan berkeliling pantai juga menjumpai sikap yang sama. Tak ingin aksi terorisme itu mengganggu liburan mereka yang sudah dirancang lama.
Ada kesan wisman sudah kebal dengan bom, yang penting mereka waspada dan tetap menikmati keindahan pulau Dewata. Sementara bulan puasa, ujarnya, wisatawan nusantara memang kunjungannya jauh berkurang dan akan kembali meningkat pada libur Lebaran. Namun demikian, kata kedua satgas ini, bagaimana upaya-upaya pemerintah untuk tetap mengalirkan kunjungan wisman karena perekonomian rakyat Bali sangat bergantung (80%) pada kegiatan pariwisata.
Satgas pantai Kuta, kata Sumerta, jumlahnya mencapai 33 orang dan tiap hari mereka mengamankan pantai dengan tiga kali pergantian masing-masing bekerja selama 12 jam dan tiap group terdiri dari 8 orang untuk mengawasi pantai sepanjang 4 km di bawah pengawasan desa Adat Kuta. Tiap Senin, satgas mengumpulkan pedagang asongan untuk pertemuan mingguan dan memberikan penyuluhan. Sepanjang Kuta-Legian diperkirakan jumlah pedagang kecil yang berjualan di sekitar pantai mencapai 1000 orang.
Saat kejadian ketika bunyi ledakan di Jimbaran yang terdengar hingga ke pantai Kuta, Wayan Sumerta, langsung menebak pasti ledakan bom lagi karena kalau kompor Elpiji tak akan sebesar itu. Wayan yang rumahnya dekat ground Zero bom Bali I langsung lemas, istrinya juga trauma terbayang langsung bagaimana sulitnya mereka menjalani hidup ketika Bali ditinggalkan wisatawan. Kondisi hidup prihatin itu dijalani hingga dua tahun dan baru awal 2005 ini pariwisata Bali kembali marak.
Sementara Darwija yang tengah berkumpul untuk mempersiapkan persembahyangan di pura sekitar 30 meter dari Raja's Caf? titik sasaran bom langsung melihat ke tempat kejadian. Bapak satu anak ini mengaku sempat pesimistis tapi melihat sikap wisman yang justru ingin memerangi terorisme dia kini menjadi optimistis menyongsong hari-hari depannya.
Masih di lingkungan Kuta, Nyoman Phill, penyedia jasa sewa mobil kijang juga mengatakan kunjungan tamu mulai berkurang." Tamu saya sudah dua yang membatalkan kedatangan dari Jepang dan Amerika Serikat, " ujarnya..Selama ini, kata Wayan, dia melayani wisatawan jenis Free Individual Traveller (FIT) yang merancang sendiri perjalanan mereka ke Bali tanpa tergantung pada paket-paket wisata dari travel biro. Order sewa, ujar Wayan, bisa karena chating di internet atau melalui teman-temannya saja.
Awal tahun 2005 ini boleh di bilang mobil Kijang Crystalnya tak pernah disimpan di garasi seperti yang terjadi pasca ledakan tiga tahun lalu 12 Oktober 2002. Selalu saja. Ada tamu terutama dari Jepang yang diantarnya ke berbagai tempat-tempat wisata di Pulau Dewata itu. Dia berharap usai hari Raya Kuningan 15 Oktober dan upacara penyucian lokasi kejadian, aktivitas akan normal lagi.
Harapan para pedagang kecil dan penjaja jasa lainnya di Kuta agaknya tidak berlebihan karena Nancy, 63 dan Rod Carr, pasangan senior dari Hawaii yang dijumpai di mall mengatakan mereka tetap mencintai Bali meski pulau dewata ini sudah menjadi sasaran teroris. "Kebetulan waktu kejadian bom Bali 2002 kami juga berada di sini dan ketika kembali membawa dua orang cucu, kejadiannya malah terulang lagi," kata Nancy.
Kapokkah dia berkunjung ke Bali ? "Tentu saja tidak, saya akan Bantu menceritakan pada relasi dan keluarga kami meski ada ledakan bukan berarti semua Bali tak aman.Kami menikmati hari-hari kami di Candi Dasa dan kawasan Bali lainnya," kata Nancy., ibu tiga anak yang memiliki enam cucu ini saat asyik membeli pakaian di Matahari.
Untuk usaha restoran yang masuk kategori Usaha Kecil Menengah (UKM), kekhawatiran kehilangan tamu juga sempat menghinggapi perasaan Sudi, waiter di Warung Made, Seminyak. Soalnya sebelum tragedi Bali terulang lagi, restoran tempatnya bekerja sedang melewati masa-masa tingkat kunjungan tamu yang tinggi bahkan tamu harus antri karena tidak mendapat tempat duduk. Dia bercerita saat tamu ramai, waiterpun sulit berjalan untuk mengantar hidangan.
Dari outlet Warung Made di Seminyak saja, per hari kunjungan tamu bisa mencapai 1000 orang karena restoran buka dari pagi hingga tengah malam dan tak pernah sepi dari pengunjung. Meski tidak tahu pasti jumlah penurunan tamu yang berkunjung ke restoran, namun Sudi menilai tidak separah peristiwa tiga tahun lalu.
Tiga hari paska ledakan kunjungan tamu turun sekitar 40% tapi setelah itu mulai naik lagi dari 200 kapasitas tempat duduk yang ada. Di Warung Made di Seminyak yang sudah berdiri selama 9 tahun menampung 50 karyawan, sementara di Warung Made di Kuta yang sudah berusia 38 tahun ada sekitar 25 karyawan yang bekerja. Kejadian awal Oktober lalu sempat membuatnya trauma dengan bunyi ledakan tapi kini sudah mulai pulih kembali..
Di Warung yang dikunjungi wisatawan berbagai bangsa ini, mereka menyukai pula masakan tradisional seperti nasi goreng khas Warung Made, gado-gado dan lainnya berupa menu Eropa. Usai makan, turis biasanya asyik mengobrol sambil mencicipi teh, kopi dan kue-kue..
Di kawasan pantai Jimbaran, untuk sementara waktu 19 caf? yang berjejer di pantai masih tutup sejak peristiwa ledakan di Caf? Nyoman dan Caf? Menega yang menelan korban 23 orang tewas dan 102 lainnya luka-luka. I Ketut Suda Arsa, pemilik Teba Cafe, yang bersebelahan dengan Caf? Menega tampak duduk di bawah pohon bersama beberapa karyawannya.
Meski caf? di pantai Jimbaran ini ramai di kunjungi oleh wisatawan pada malam hari, namun siang hari umumnya tetap buka terutama melayani tamu-tamu yang dibawa travel biro. Namun pasca ledakan Ketut yang memiliki 60 orang karyawan terpaksa menutup dulu usahanya karena masih berkabung dan menunggu upacara adapt untuk pembersihan lokasi. Dia tampak pasrah saja menghadapi kenyataan pahit ini.
"Mau bilang apa lagi, kalau restoran kami buka tiap hari minimal uang yang masuk minimal Rp20 juta, sejak aksi peledakan hingga hari ke enam saya sudah rugi Rp150 juta, "ujar Ketut. Dia belum tahu kapan caf? akan buka karena menunggu perayaan Hari raya Kuningan Sabtu 15 Oktober 2005 dan upacara penyucian lokasi.
Mulai awal 2004 pascaledakan pertama, pariwisata Bali sebenarnya sudah mulai pulih dan tamu-tamunya 50% wisman dan 50% wisnus terutama akhir pekan. Karena itu dia berani memperpanjang sewa lahan tempat usaha selama lima tahun yang mencapai Rp 1,2 milyar. Apalagi menu seafood apa saja yang disajikan pasti laku karena persaingan restoran terutama dalam hal rasa dan pelayanan.
Meski cafenya belum dapat dibuka, sementara gaji karyawannya minimal Rp 800.000 per orang, Ketut tidak berputus asa. "Anak saya juga butuh susu, kita tunggu saja usai upacara adat, saya yakin solidaritas yang kuat akan membawa wisatawan kembali ke Bali. Kita harus bangkit," paparnya sambil berpesan agar para pelanggannya dari Jakarta tetap berlibur ke Bali karena kalau turis lokal berani datang, otomatis wisatawan mancanegara juga tidak ragu datang.
(Penulis adalah pemerhati pariwisata/bisnis Indonesia/18-10-05/IM)



     

 


FastCounter by bCentral