|
 |
|
Kesederhanaan Lee
Dilaporkan oleh: Jeffrie Geovanie
KETIKA
berkunjung ke Bali minggu lalu, saya mendapatkan cerita
dari seorang teman yang baru saja datang dari Singapura.
Kawan itu kebetulan duduk di kelas bisnis, persis di tempat
duduk barisan pertama.
Ia sudah memesan tempat duduk itu sebelum keberangkatan.
Dalam percakapan dengan penumpang disebelahnya, dia surprise.
Ternyata penumpang itu adalah salah satu menteri dalam Kabinet
Lee Hsien Loong, Perdana Menteri Singapura yang juga ikut
rombongan. Mereka akan menghadiri pertemuan dengan Presiden
RI Susilo Bambang Yudhoyono, sekaligus meninjau korban bom
Bali.
Uniknya, PM Lee tidak naik pesawat khusus, melainkan pesawat
reguler komersial. PM Lee berangkat ke Bali bersama 6 orang
lainnya yang terdiri dari empat menteri, istrinya dan satu
pengawal pribadi. PM Lee juga tidak menggeser tempat duduk
teman saya, sekalipun ia mampu melakukannya.
Bukan hanya itu, untuk sekelas PM Singapura yang termasuk
negara kaya di dunia, apalah artinya kalau hanya membeli
sebuah pesawat khusus yang digunakan oleh seorang PM. Tetapi
Lee tidak melakukannya. Ia malah berbaur dengan penumpang
umum.
Cerita berbeda tentu berasal dari pesawat-pesawat komersial
dalam negeri. Pada hari kedatangan Presiden Yudhoyono ke
Bali, sejumlah jadwal penerbangan ditunda. Bahkan, pesawat
yang sudah mendekati Bandara
Internasional Ngurah Rai juga harus berputar-putar.
Pengamanan pascabom Bali memang superketat, sehingga bisa
dimengerti. Namun, bukan kali ini saja jadwal kedatangan
rombongan presiden atau wakil presiden atau bahkan menteri
dan anggota DPR yang mengganggu jadwal perjalanan masyarakat
umum.
Sejumlah kolega dekat saya menceritakan kisah-kisah seperti
ini. Ada anggota DPR yang dengan enaknya tertawa-tawa, karena
mampu menahan jadwal keberangkatan sebuah pesawat untuk
menunggunya yang terkena macet di jalanan.
Indonesia memang lebih dikenal sebagai
negara pejabat, ketimbang negara pengurus. Kata government-pun
diterjemahkan menjadi pemerintah. Padahal, sudah sejak lama
Muhammad Hatta menginginkan kata pemerintah itu diganti
dengan pengurus. Tetapi memang, sampai sekarang sulit untuk
mengubah kebiasaan lama dan sebutan usang.
Bagaimana bisa kita mengubah bangsa dan negara ini, sementara
untuk mengubah sebutan pemerintah menjadi pengurus saja
kita tidak bersedia? Istilah kerennya, public servants atau
pelayan publik.
Prof Deliar Noer juga sudah seringkali menulis tentang Daulat
Tuanku, bukan Daulat Rakyat, yang berlaku di republik yang
didirikan oleh para cendekiawan dan intelektual sipil ini.
Padahal, dengan berbagai sebutan itu, justru berakibat negatif
kepada perilaku para elite. Ketika satu masalah buruk terjadi,
kita menyaksikan para elite sering menampakkan wajah sedihnya.
Namun, satu hari setelah peristiwa itu, keadaan menjadi
normal kembali ketika agenda lain menyusul dan berganti.
Wajah elite sangat mudah berubah, tergantung keadaan.
Kata anekdot, Indonesia sebetulnya tidak pernah memiliki
seorang presiden, sejak Soekarno sampai Yudhoyono. Lalu
siapa mereka? Raja.
Akar-akar kekuasaan di Indonesia memang berasal dari berbagai
bentuk kerajaan besar dan kecil. Ditambah dengan kolonialisme
bangsa-bangsa Barat yang memiliki motif ekonomi, jadilah
sumber kekuasaan itu sebagai
gabungan antara kepentingan ekonomi dengan kepentingan mempertahankan
struktur feodal lama. Bahkan setelah 60 tahun merdeka pun
sisa-sisa dari kolonialisme dan feodalisme itu tidak juga
tumbang. Para penguasa sama mudahnya memberhentikan sebuah
kapal laut yang hendak berlayar di masa lalu dengan kapal
terbang yang hendak mengudara hari ini. Andai ada yang punya
kuasa menghentikan proses perputaran waktu, mungkin para
penguasa itu juga akan melakukannya.
Bangsa ini tentu tidak seberuntung Singapura yang memiliki
Lee. Kesederhanaannya mengagumkan. Kesederhanaan itu juga
kita temukan di banyak negara lain, terutama di negara-negara
Eropa. Kantor-kantor kementerian di sana tidak lebih besar
dari sebuah rumah toko di kawasan Kelapa Gading.
Lihatlah Indonesia, kantor-kantor kementerian sampai kantor-kantor
BUMN dan perbankan luar biasa tinggi, megah dan besarnya.
Dengan kemasan yang seperti itu, benarkah memang ada pekerjaan
raksasa yang diurus? Sampai kini, kita memang sudah melihat
hasilnya, yakni lebih banyak memunculkan situasi tidak produktif.
Dengan kesibukan yang kita lihat selama seminggu ini ketika
bom meledak di Bali, seolah-olah dunia kita sudah betul-betul
dikepung oleh kengerian. Padahal, di tengah situasi seperti
ini, media dan masyarakat idealnya tidak memberikan apresiasi
begitu besar kepada teroris.
Bahkan, media dan masyarakat selayaknya menganggap sepi
kaum teroris. Tentunya hal ini diimbangi dengan kewaspadaan
penuh alat-alat pertahanan dan keamanan untuk menghalangi
atau malah menangkap mereka. Teroris biasanya mencari simpati
lewat gebyarnya pemberitaan. Pada saat kita berharap elemen-elemen
di pemerintahan bekerja, justru mereka malah banyak bicara.
Kesemrawutan informasi menggelisahkan kita semua. Kegagahan
dan kepongahan justru datang setelah bencana.
Dari uraian pembuka artikel ini, mestinya kesederhanaan
Lee juga layak jadi tauladan. Bukan zamannya lagi memamerkan
kesombongan di tengah kemiskinan, penyakit dan bencana.
Kedatangan Wakil Presiden Jusuf Kalla ke Afrika Selatan
dalam rombongan besar selayaknya tidak diulangi lagi, dengan
alasan apapun. Kaum muda Indonesia jangan sampai terus berkerumun
di sekitar penguasa. Korupsi, kolusi dan nepotisme yang
menjadi salah satu simbol perjuangan kaum muda selayaknya
terus mendapatkan perhatian. Walaupun bukan menggunakan
anggaran negara, katakanlah anggaran pribadi masing-masing,
sulit kita menemukan adanya kebutuhan yang betul-betul luar
biasa untuk mendatangi negara orang lain dengan rombongan
besar.
Bukan hanya hal itu akan merepotkan kedutaan besar kita,
melainkan juga pemerintah negara yang kita kunjungi.
Begitu juga kelompok kelas menengah yang mestinya kian independen
dari pemerintah. Bukti-bukti sudah tertebar nyata, betapa
kedekatan dengan penguasa yang tidak disertai kritisisme
justru berakibat buruk. Kelas menengah bentukan penguasa
akan tumbang dengan sendirinya.
Benalu-benalu politik, ekonomi dan hukum pada gilirannya
akan mendapatkan hukuman setimpal. Para pesohor di masa
lalu, justru kita lihat mulai menjadi pesakitan, satu demi
satu, di masa kini.
Memang, bukan hal yang mudah untuk membalikkan situasi keterpurukan
bangsa ini. Tetapi, juga bukan suatu hal yang mustahil bahwa
kita bisa bangkit menjadi negara yang betul-betul mampu
melindungi kepentingan bangsa dan negara. Pelajaran yang
kita dapatkan dari PM Lee adalah kesederhanaan.
Sementara dari kalangan turis asing yang meneruskan masa
liburannya di Bali adalah optimisme, ditambah dengan kalkulasi
rasional. Kita sebetulnya sudah banyak mempunyai tokoh nasional
yang bisa dijadikan sebagai cermin hidup. Tetapi, dalam
saat-saat yang kalut seperti sekarang, apa salahnya kita
mencoba menengok sosok yang mulai kita dekati, yakni tokoh-tokoh
di negara tetangga kita sendiri, beserta masyarakatnya.
|