Sekretaris F-PDIP: Ini di luar perikemanusiaan
Gereja Ditutup, Ibadah di Jalanan Diusir Paksa


Warga Kristen di Jatimulya, Bekasi Timur terpaksa harus menggelar ibadah Minggu di jalan akibat gerejanya ditutup, dan dilarang memakai rumah tempat ibadah. Namun kebaktian ini kembali mendapat halangan, karena ada kelompok radikal yang ikutan menggelar sembahyang di jalanan tersebut, Minggu (16/10). Mereka pun mengusir jemaat yang beribadah secara paksa.

Tak ingin mencari masalah, umat Kristen Jatimulya ini mencari jalan lain yang kosong untuk beribadah meski sedikit was-was. Kekhawatiran itu pun menjadi kenyataan. Kesal ka-rena merasa terkecoh, kelom-pok pengganggu tadi naik pi-tam dan menyerang jemaat yang sedang bersiap beriba-dah. Sambil berteriak mereka menyuruh jemaat untuk bubar.

Tak puas dengan aksi terse-but, beberapa oknum bahkan mendorong Pdt Anna, yang ju-ga Ketua Sinode Gekingo hing-ga terjerembab di selokan. He-rannya, polisi yang dipanggil un-tuk melakukan perlindungan, hanya bisa menonton saja atas penganiayaan pendeta perem-puan tersebut.

Yang mengharukan, jemaat te-tap tegar melanjutkan kebaktian di jalanan sebelum akhirnya pu-lang. Minggu malam, sejumlah pengacara Kristen berkumpul dengan para pimpinan gereja setempat untuk memutuskan respon apa yang akan diambil. Jika mereka terus kebaktian Minggu nanti, maka akan ada bahaya yang lebih besar.

Sekretaris Fraksi PDIP Jako-bus Mayong Padang kepada ko-ran ini via ponsel kemarin (17/10) mengungkapkan, peristiwa tersebut semakin menambah luka yang mendalam bagi umat Kristen di Jatimulya dan umat Kristen di seluruh Indonesia.

¡