KEHIDUPAN
SELAMA di TIONGKOK
( bagian duabelas - Sehari-hari di Perkam-
pungan Kami )
Oleh: Sobron Aidit
Dengan
sepenuh pengertian dan memahami,pabila teman-teman Tiongkok
agak
kewalahan juga me-
nugurusi kami. Banyak di antara teman-teman kami yang kehendak
-
adat-istiadatnya - kebiasaannya tidak sama satu sama lain.
Banyak
suku-bangsa antara kami - ada puluhan suku-bangsa - termasuk
ada yang dari
Irian-Barat - Papua. Sebenarnya antara kami dengan teman-teman
Tiongkok yang
mengurusi kami - terdapat saling belajar - saling memahami.
Bahwa antara
masing-masing kita selalu ada kekurangan. Misalnya saja
- Lao Chang kepala
dapur - chefkok kami - terbiasa masak kentang - masakan
apa saja yang ada
kentangnya selalu tak pernah kentangnya itu dikupas. Masih
berkulit ketika
kita makan. Dan kami tentu saja tak mau memakannya. Mereka
heran - kenapa?
Ada apa yang bersalahan? Setelah teman-teman kami menjelaskan,
bahwa kami
tidak pernah makan masakan kentang yang masih utuh berkulit.
Kami makan
masakan kentang apa saja selalu kulitnya dikupas dulu. Sejak
itu pihak dapur
selalu menghidangkan masakan kentang dikupas dulu kulitnya.
Dan pihak dapur
sangat gembira - sebab masakannya dimakan dan ada yang habis
= piring kosong
di bawa ke dapur. Mereka lalu bertambah mengenal tabiat
dan kebiasaan kami.
Tetapi
sebaliknya - dari pihak kami - teman-teman kami, ada juga
yang cukup
sulit mengurusnya. Begitu banyak meja - harus dibagi dan
dipilah-pilah,
dikumpulkan. Meja mana yang teman-teman tidak makan babi
- meja mana yang
teman-teman tidak makan yang asin-asin - bergaram tinggi
- meja mana yang
teman-teman tidak makan ikan - tidak makan sea-food lainnya
seperti kerang -
kepiting - udang. Meja mana yang teman-teman tidak makan
gula - yang
manis-manis. Dan ternyata mengurus orang - mengurus pikiran
orang -
kebiasaan orang - jauh lebih sulit dari mengurus tanah -
pupuk dan jalur
serta lajur dan siram-menyiram tanaman dan sayuran! Coba,
katanya tidak
makan babi. Tetapi bila ada masakan kaki-babi - lalu minta
kaki-babi -
padahal tercatat tidak makan babi! Nah, bukankah kaki babi
adalah bagian
tubuh babi yang paling kotor! Paling banyak bersentuhan
dengan kotoran
segala tahi-menahi dan najis. Tetapi karena pihak dapur
kami terkenal dengan
masakan kaki babinya - dan enak - dan menggiurkan - lalu
teman-teman yang
tercatat tidak makan babi tadi - begitu ada masakan kaki
babi - lahap dan
rakusnya sama saja dengan teman-teman yang biasa makan babi!
Ada
teman-teman tercatat tidak makan yang asin-asin yang bergaram
tinggi -
duduk di meja yang sama-sama dietnya. Tetapi begitu ada
hidangan telur-asin
atau balado-ikan-asin - lalu minta masakan yang sama dengan
teman-teman
tidak berdiet garam. Ini bagaimana teman-teman Tiongkok
tidak garuk-garuk
kepala yang tak gatal! Ada yang berdiet gula - rasa manis
- tetapi kalau ada
kue yang tampaknya enak dan menggiurkan liur - lalu minta
bagian! Ada yang
lebih agak aneh juga. Ada teman-teman yang tak mau makan
ayam! Ini sangat
jarang terjadi - sebab ayam adalah yang paling netral dari
seluruh masakan
perdagingan. Tetapi teman ini tak mau makan ayam - dan ini
harus ada
penggantinya - daging lain. Kami banyak juga yang heran
- sebab pabila tak
banyak orang tahu - dan agak tersembunyi - misalnya makan
di kamarnya - ada
teman yang membawakan daging ayam - tokh dilahap habisjuga!
Lalu ada apa?
Apa pasal tak mau makan ayam? Ternyata selidik punya selidik
- teman itu
pernah mengucapkan sumpah - tak mau makan ayam sebelum sampai
di tanahair!
Ini sumpah banyak digelari teman-teman sebagai mulut-lancip!
Ini
bertentangan dengan sumpah Gajah Mada yang tak mau makan
buah palapa! Dan
ucapan sumpah begitu hanyalah rasa kekiri-kirian dan kekanakkanakan
saja!
Dan rasa kekikiri-kirian -kekanakkanakan begini - tak hanya
satu dua orang
saja. Oleh banyak teman yang biasa-biasa saja - ucapan begitu
adalah
ucapan-lancip! Tajam tak menentu yang malah sering patah
brantakan!
Dalam
kehidupan yang serba ramai begini - biasanya akan ada bukti
bersebalikan - akan ada ekornya yang sebenarnya - kulit
dan bulu serta isi
yang aslinya. Kehidupan yang begini - pada akhirnya akan
transparan. Rupanya
= seseorang yang terlalu "kiri" biasanya akan
ke kanan - dan yang terlalu
"kanan"
sering-sering terjerumus ke jurang kiri - kekiri-kirian.
Dan hidup yang
begini - yang samasekali tidak normal seperti kami ini -
akan selalu bertemu
dengan ucapan yang juga tidak normal - ucapan tuduhan -
tudingan dan main
cap! Sudah tentu kehidupan orang yang bujangan dengan kehidupan
yang punya
keluarga - anak-anak - akan lain satu sama lain. Lain kebutuhannya.
Banyak
di antara teman-teman yang berkeluarga - punya anak-anak
yang sedang
kuat-kuatnya dan banyak-banyaknya makan, akan selalu membawa
makanan ke
rumahnya- lalu di rumahnya nanti akan dimasak lagi dengan
olahan yang sesuai
selera mereka. Sedangkan yang diambil serta yang dibawa
ke rumah mereka itu
- adalah memang jatah mereka - dan bukan hak-milik orang
lain. Di rumah
nantiakan direvisi lagi agar sesuai dengan selera mereka
dan anak-anak
mereka. Tetapi bagi teman-teman yang "berselera kekiri-kirian
ini", mereka
yang mau merivisi makanan dari kantin itu, mereka namakan
"kaum
revisionis",- Sebab mereka berpendapat - makanlah apa
yang disediakan di
kantin saja, jangan banyak macam-macam - enak-enak saja,
"ingat teman-teman
di tanahair - di pembuangan Pulau Buru , betapa sengsaranya",-
begitulah
penafsiran mereka buat memberikan gelar "kaum revisionis"
itu. Pada zaman
itu gelaran kaum revisionis,sangat buruk dan busuk. Sebutan
yang sangat
menyakitkan.
Sebenarnya
teman-teman yang berpendapat begitu - termasuk "kaum
bermulut
lancip" juga. Rasanya tuduh menuduh dan saling tuding
begini - mungkin sama
saja antara kami - tidak bisa disebut mana yang "dosa
dan kekeliruannya"
lebih besar dan lebih menonjol. Jadi dan ternyata apa yang
sedang kami
pelajari dan gumuli ini - belum sepenuhnya mencapai hasil
yang benar-benar
diharapkan.
Ada di antara kami berpendapat - bekerja yang seperti kita
lakukan ini -
barangkali pabila di tengah-tengah masyarakat kita sendiri
di tanahair -
barulah akan mendapatkan hasil yang lebih baik dari sekarang
yang kita
lakukan ini. Tetapi entahlah - itu baru satu kemungkinan,-
|