AS
JUGA MULAI KHAWATIR FLU BURUNG
Washington
(ANTARA News) - Pemerintah AS, yang sedang sibuk menghadapi
akibat topan Katrina, menggiatkan upaya persiapan menghadapi
kemungkinan wabah flu burung.
Langkah-langkah yang diambil Pemerintah AS
ini menyusul seruan Presiden George W. Bush di depan sidang
Majelis Umum PBB di New York pekan lalu bahwa flu burung
bisa menjadi wabah besar umat manusia yang pertama dalam
abad ke-21.
Presiden Bush menyerukan dunia agar ada mobilisasi
internasional untuk memerangi virus yang berpotensi bisa
menimbulkan kematian 100 juta manusia di seluruh dunia ini.
Para pakar AS memperhitungkan jika itu terjadi, di seluruh
AS bisa 200.000 orang yang meninggal.
"Jika kita punya epidemis dunia dari
virus unggas H5N1 ini, dan wabah ini mengenai AS dan duinia,
karena ini bisa terjadi di mana saja secara serempak, saya
kira kita akan dapat melihat akibatnya yang sungguh-sungguh
sulit dibayangkan," kata Irwin Redlener, dokter di
Pusat Nasional Kesiapan Bencana Universitas Columbia, dalam
wawancara dengan TV ABC, Sabtu.
Pihak berwenang AS bulan ini telah menyatakan
akan memberi tambahan dana 100 juta dolar untuk mengembangkan
sejenis vaksin percobaan untuk memerangi virus H5N1, yang
kategorinya sama dengan flu Spanyol tahun 1918 yang menyebabkan
kematian 40 juta manusia waktu itu.
Washington sejauh ini telah memberi dana bantuan
30,5 juta dolar ke negara-negara Asia Tenggara dalam upaya
mengatasi penyebaran wabah flu burung, menurut pernyataan
Deplu AS.
Virus
H5N1 yang diidentifikasi pertama kali tahun 1997 ini, setelah
merebak di enam negara Asia Tenggara. Sejak akhir 2003,
63 orang telah tewas dari virus ini, dengan tiga lagi terjadi
kematian akibat flu burung di Indonesia.
Tingkat kematian akibat flu burung, menurut
Organisasi Kesehatan se-Dunia, sangat tinggi, yakni 50 persen.
Pada Senin pekan lalu, WHO telah mendesak
negara-negara di dunia agar menumpuk obat-obatan anti-virus
guna menghadapi serangan wabah flu burung. Obata-obatan
tersebut diserukan agar dipersiapkan penumpukannya di wilayah-wilayah
beresiko tinggi.
AS sendiri telah merencanakan penumpukan
20 juta dosis obat anti-flu Tamiflu buatan perusahaan Swiss,
Roche, sebagai tmbahan dari yang tersedia 2,5 juta dosis
sekarang ini, menurut Menteri Kesehatan AS Michael Levitt.(IM)
|