|
 |
|
Mengenal
Budaya Lampung
Oleh: Nurul Utami
Penduduk
Lampung terdiri dari hampir semua suku yang ada di Indonesia.
Gambaran ini ditunjukkan oleh semboyan yang tertera pada
lambang daerah yaitu “Sang Bumi Ruwai Jurai”,
dan Propinsi Lampung sendiri dijuluki Propinsi “Sang
Bumi Ruwai Jurai”. “Sang Bumi” berarti
rumah tangga agung yang luas serta berbilik-bilik, sedangkan
"Ruwa Jurai” berarti dua golongan masyarakat
yang berdiam di wilayah Propinsi Lampung, yaitu golongan
keturunan Lampung asli dan golongan keturunan pendatang.
Penduduk Lampung asli terdiri dari masyarakat
Lampung beradat Pepadun dan masyarakat Lampung beradat Saibatin
(Peminggir) . Sedangkan pendatang adalah mereka yang umumnya
berasal dari Jawa dan Bali yang bertransmigrasi sejak jaman
Belanda. Namun kini pendatang itu tidak hanya dari Jawa
dan Bali saja, tetapi hampir segala suku yang ada di Indonesia
ada di propinsi ini .
Arsitektur tradisional Lampung
umumnya terdiri dari bangunan tempat tinggal disebut Lamban,
Lambahana atau Nuwou, bangunan ibadah yang disebut Mesjid,
Mesigit, Surau, Rang Ngaji, atau Pok Ngajei, bangunan musyawarah
yang disebut sesat atau bantaian, dan bangunan penyimpanan
bahan makanan dan benda pusaka yang disebut Lamban Pamanohan
Rumah
orang Lampung biasanya didirikan dekat sungai dan berjajar
sepanjang jalan utama yang membelah kampung, yang disebut
tiyuh. Setiap tiyuh terbagi lagi ke dalam beberapa bagian
yang disebut bilik, yaitu tempat berdiam buway . Bangunan
beberapa buway membentuk kesatuan teritorial-genealogis
yang disebut marga. Dalam setiap bilik terdapat sebuah rumah
klen yang besar disebut nuwou menyanak. Rumah ini selalu
dihuni oleh kerabat tertua yang mewarisi kekuasaan memimpin
keluarga.
Arsitektur lainnya adalah “lamban
pesagi” yang merupakan rumah tradisional berbentuk
panggung yang sebagian besar terdiri dari bahan kayu dan
atap ijuk. Rumah ini berasal dari desa Kenali Kecamatan
Belalau, Kabupaten Lampung Barat.. Ada dua jenis rumah adat
Nuwou Balak aslinya merupakan rumah tinggal bagi para Kepala
Adat (penyimbang adat), yang dalam bahasa Lampung juga disebut
Balai Keratun. Bangunan ini terdiri dari beberapa ruangan,
yaitu Lawang Kuri (gapura), Pusiban (tempat tamu melapor)
dan Ijan Geladak (tangga "naik" ke rumah); Anjung-anjung
(serambi depan tempat menerima tamu), Serambi Tengah (tempat
duduk anggota kerabat pria), Lapang Agung (tempat kerabat
wanita berkumpul), Kebik Temen atau kebik kerumpu (kamar
tidur bagi anak penyimbang bumi atau anak tertua), kebik
rangek (kamar tidur bagi anak penyimbang ratu atau anak
kedua), kebik tengah (yaitu kamar tidur untuk anak penyimbang
batin atau anak ketiga).
Bangunan
lain adalah Nuwou Sesat. Bangunan ini aslinya adalah balai
pertemuan adat tempat para purwatin (penyimbang) pada saat
mengadakan pepung adat (musyawarah). Karena itu balai ini
juga disebut Sesat Balai Agung. Bagian bagian dari bangunan
ini adalah ijan geladak (tangga masuk yang dilengkapi dengan
atap). Atap itu disebut Rurung Agung. Kemudian anjungan
(serambi yang digunakan untuk pertemuan kecil, pusiban (ruang
dalam tempat musyawarah resmi), ruang tetabuhan (tempat
menyimpan alat musik tradisional), dan ruang Gajah Merem
( tempat istirahat bagi para penyimbang) . Hal lain yang
khas di rumah sesat ini adalah hiasan payung-payung besar
di atapnya (rurung agung), yang berwarna putih, kuning,
dan merah, yang melambangkan tingkat kepenyimbangan bagi
masyarakat tradisional Lampung Pepadun.
Arsitek
tradisinoal Lampung lainnya dapat ditemukan di daerah Negeri
Olokgading, Teluk Betung Barat, Bandar Lampung. Negeri Olokgading
ini termasuk Lampung Pesisir Saibatin .Begitu memasuki Olokgading
kita akan menjumpai jajaran rumah panggung khas Lampung
Pesisir, dan di sanalah kita akan melihat Lamban Dalom Kebandaran
Marga Olokgading, yang menjadi pusat adat istiadat Marga
Balak Olokgading. Bangunan ini berbahan kayu dan di depan
rumah berdiri plang nama bertuliskan “Lamban Dalom
Kebandaran Marga Balak Lampung Pesisir”. Bentuknya
sangat unik dan khas dengan siger besar berdiri megah di
atas bangunan bagian muka .
Sampai sekarang lamban dalom ini ditempati kepala adat Marga
Balak secara turun temurun.
Meskipun berada di perkotaan, fungsi rumah
panggung tidak begitu saja hilang. Lamban Dalom Kebandaran
Marga Balak berfungsi sebagai tempat rapat, musyawarah,
begawi, dan acara-acara adat lain. Di Lamban Dalom ini ada
siger yang berusia ratusan tahun, konon sudah ada sebelum
Gunung Krakatau meletus. Siger yang terbuat dari bahan perak
ini adalah milik kepala adat dan diwariskan secara turun
temurun.Siger ini hanyalah salah satu artefak atau peninggalan
budaya yang sudah ratusan tahun usianya disimpan oleh Marga
Balak. Selain siger ada juga keris, pedang, tombak samurai,
kain sarat( kain khas Lampung Pesisir seperti tapis), terbangan(
alat musik pukul seperti rebana), dan tala(sejenis alat
musik khas Lampung sejenis kulintang) dan salah satunya
dinamakan Talo Balak.
(Dosen, Universitas Lampung/Mesium Lampung/IM)
|