KEHIDUPAN SELAMA di TIONGKOK
( bagian sebelas - Sehari-hari di perkampungan
kami )
Oleh: Sobron Aidit
Banyak
pekerjaan di kampung kami - tidak ada waktu buat menganggur.
Waktu
terisi penuh. Karena itu kami sangat mengharapkan atau menunggu
kapan hari
Minggu datang. Hanya pada hari Minggu-lah kami bisa istirahat
dan mengadakan
kegiatan buat pribadi-pribadi. Teman yang bertanggungjawab
atas barisannya, akan selalu mempertimbangkan di bagian
mana seseorang akan ditempatkan - buat pekerjaan sehari-hari.
Menurut saya - pekerjaan yang berat dan sangat berat - yalah
mengangkut dan memikul tinja manusia. Dengan dua tong yang
cukup besar kita mendatangi setiap wc, mengautnya dengan
galah yang panjangnya dua tiga meter ke dalam lobang wc,
dan memasukkannya ke dalam dua tong yang harus kita pikul
itu. Dan siap pikul menuju galangan atau jalur tanaman yang
harus disirm dengan tahi manusia itu. Jalannya di seluruh
bagian kampung kami, tidak rata - turun-naik - ada tangga
yang semi darurat - ada bagian di ketinggan - lalu menurun
dan begitu terus. Bagian yang rata lebih sedikit daripada
bagian yang tidak ratanya. Pada bagian
tidak rata dan turun-naik inilah kami para pemikul tinja
ini sering jatuh -
atau terperosok. Dan kalau sudah begitu - dua tong yang
berisi tinja tadi
juga akan tumpah. Dan kalau tumpah - minta ampun - pekerjaan
jadi dobbel -
harus membersihkan - mengautnya lagi.
Pada
pokoknya ketika kami baru mulai belajar bekerja dalam bidang
produksi
pertanian - ada-ada saja di antara kami yang tertimpa "kecelakaan
kecil"
ini. Tetapi pada umumnya teman lain akan segera membantu
dan menolong
seseorang. Sudah tentu karena kami ini orang baru - baru
mulai merasakan
pekerjaan baru yang dulunya tidak pernah - lalu tentu saja
ada perasaan
berbagai macam. Ada perasaan - lihat ini saya bekerja badan
- sedang dalam
kancah pengubahan ideologi burjuis kecil menjadi ideologi
proletar. Hanya
intelektuil yang benar-benar terintegrasi dengan kerja-langsung
produksi
barulah benar-benar seorang intelektuil sejati! Tetapi ada
juga yang
sebenarnya malas-malasan - ogah-ogahan - segan dan tidak
gembira melakukan
kerja-badan itu. Setiap orang akan tercermin bagaimana dia
menghadapi
kerja-badan secara langsung begini. Semua transparan tanpa
terkecuali dan
dengan sendirinya tergambar secara telanjang dalam kepribadian
seseorang.
Memikul
tahi dan menyiramkannya ke tanaman - sayuran - menurut saya
inilah
pekerjaan yang berat. Sebab agak jauh - ada sekira 100 sampai
200 meter
harus jalan naik-turun tak rata sambil memikul dua tong
dan bergoyang-goyang
lagi - karena belum terbiasa. Seorang teman kami yang sangat
mau turut
memikul tahi, padahal sudah banyak dinasehatkan teman-teman
agar memilih
pekerjaan lain - masih tetap nekad mau turut pikul tinja.
Kami rata-rata
tidak tega kalau mbak itu turut mikul - dua tong tinja yang
cukup berat
bahkan berat sekali buat mbak itu. Dan kami tahu dan melihat
sendiri, mbak
itu pabila jalan biasa saja - tidak seimbang jalannya. Nah,
ini sambil
pilkul tahi lagi! Pemikul tahi harus jalan yang ada bagian
di tepi lobang
besar yang penuh kotoran - termasuk aliran tinja. Pabila
dekat situ mbak
kita ini jalannya - lalu oleng seperti perahu kena arus
deras. Semakin oleng
jalannya - dua tong itu akan semakin tidak stabil. Dengan
sangat prihatin -
kami melihat dengan rasa sedih - mbak itu tercebur dan masuk
lobang kotoran
itu. Segera kami berlari menolongnya bangkit dan naik ke
atas. Tentu saja
seluruh badan mbak kami ini - basah kuyup dan penuh kotoran
dan tentu saja
ada tahi-nya. Dan tentu saja bau ke mana-mana.
Tetapi
mbak kita ini bukannya lalu menangis - malah tertawa merasa
lucu.
Kami membawanya ke tempat kamar mandi agar dia mandi dan
ganti pakaian.
Karena mbak kami ini orangnya sabar - suka bergurau - tak
pernah marah, ada
beberapa teman menanyakan - dan ini benar-benar pertanyaan
sangat usil.
"Bagaimana rasanya mbak ketika tadi itu? Ada nggak
terminum air
kolamnya....."
"Ya tentu saja ada, wong namanya kecebur masuk langsung
kok!"
"Lalu apa rasanya dong?"
"Ya ada terasa asin........dan bau........!"
Yang mendengar sulit menahan tertawa dan paling-paling merasa
sangat geli.
Padahal mbak kami ini, biar gitu-gitu juga banyak tahu bahasa
dan sering
diundang badan-badan internasional sampai tingkat PBB, orangnya
hebat di
gelanggang internasional - tapi baru belajar bagaimana bekerja
berproduksi
secara langsung.
Gara-gara
saya bertahan agar tetap mencapai waktunya dalam bekerja
memikul
tahi ini - saya merasa kelelahan. Dan saya sebenarnya punya
penyakit kronis
- darah tinggi. Keesokan malamnya saya merasa sangat sakit
kepala. Dan
dokter dari puskemas kami datang memeriksa. Darah saya 200/120,
dan dokter
Yang langsung memberikan surat-keterangan dokter, bahwa
saya harus istirahat
total selama lima hari. Hari itu saya diinjeksi - dan dokter
sehari dua kali
melihat saya dan mengukur tekanan darah saya. Seminggu sesudah
itu oleh
puskemas saya dianjurkan buat beristirahat ke sanatorium
Lu-Shan, suatu
tempat yang sangat bagus dan sejuk serta indah pemandangannya.
Saya merasa beruntung- sudah
merasakan kerja berproduksi secara langsung dan
memikul tahi - yang pekerjaan itu bagi saya cukup berat.
Sejak kejadian itulah - teman-teman menolak pabila saya
mau turut mikul tinja buat pekerjaan menyiram tanaman dan
sayuran perladangan kami. Lalu saya dipindahkan ke bagaian
cabut-rumput. Tetapi bagian ini lain lagi
kesukarannya. Karena perut saya ini tidak kecil dan saya
punya perawakan
gendut - lalu pabila cabut rumput - akan sangat sulit bangkit
- mata berkunang-kunang pabila bangkit dari duduk atau nongkrong
sambil cabut-rumput. Bagi saya pekerjaan cabut-rumput jauh
lebih banyak kesulitannya daripada mencangkul. Dan pada
akhirnya saya memiluh pekerjaan mencangkul - mengolah tanah
- membuat galangan - membuat jalur dan lajur. Jadi sebenarnya
bagi saya - pekerjaan yang berat itu adalah memikul tahi
yang dua tong dan harus turun-naik tangga di perkampungan
kami dan mencabut rumput. Banyak sekali jenis pekerjaan
lain yang dapat kita pilih dan disesuaikan dengan kemampuan
fisik kita.
|