|
 |
|
Gus
Dur, Bapak Pluralisme Jakarta
(Bali Post),
Kaum minoritas Rabu (24/8) kemarin mendatangi mantan Presiden
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di kantornya, di Gedung PBNU
Jalan Kramat, Jakarta. Kaum minoritas dari umat kristiani
dan kaum Tionghoa (Konghucu) memberikan penghargaan sebagai
Bapak Pluralisme kepada Gus Dur.
''Selama 40 tahun, Gus Dur telah konsisten memperjuangkan
HAM dan pluralisme di Indonesia,'' tegas pimpinan rombongan
kaum minoritas Ruyandi Hutasoit.
Ruyandi yang juga Ketua Umum Partai Damai Sejahtera itu juga
mengutip pernyataan keprihatinan Gus Dur atas aksi penutupan
sejumlah gereja di Bandung, Jawa Barat beberapa waktu lalu.
''Kami mendapatkan dukungan dari Gus Dur untuk menjalankan
ibadah sesuai kepercayaan yang kami yakini,'' tambah Pendeta
Conrat Supit.
Gus Dur dianggap selalu membela kaum minoritas di Indonesia
dari sikap-sikap anarkisme yang dilakukan kelompok masyarakat.
Pembelaan Gus Dur sangat penting artinya bagi kelompok ini.
Sebab, Gus Dur merupakan tokoh warga nahdliyin -- kini jumlahnya
sekitar 40 juta orang di Indonesia. Gus Dur juga tokoh berpengaruh
di PBNU, organisasi Islam terbesar di dunia.
Mantan Presiden RI itu tidak hanya konsisten memperjuangkan
kaum minoritas agar bisa menjalankan agamanya sesuai keyakinannya,
juga mampu membawa perubahan besar bagi kaum minoritas.
Ketika ditanya tanggapannya mengenai penghargaan ini, Gus
Dur mengaku biasa saja. Sudah menjadi kewajibannya untuk membela
kaum minoritas. Sebab, negara Indonesia bukanlah negara agama,
tetapi negara berdasarkan Pancasila. Asas ini menghargai perbedaan
dan pluralisme.
Menurut Gus Dur, aksi-aksi kekerasan terhadap kaum minoritas
sifatnya temporer. Aksi itu berkaitan erat dengan kekuasaan.
Gus Dur mencontohkan TNI yang juga dipakai sebagai alat kekuasaan
di era Soeharto. ''Dulu Soeharto juga membentuk ICMI (Ikatan
Cendekiawan Muslim Indonesia) untuk alat kekuasaan,'' katanya.
(kmb7) |