ETNIS TIONGHOA DAN HARI KEMERDEKAAN
oleh : Benny G.Setiono


Tanggal 17 Agustus ini kita akan memperingati 60 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Tahun ini kita memperingati hari kemerdekaan dalam situasi yang sangat memprihatinkan. Dalam beberapa hari yad harga minyak mentah di pasaran internasional diperkirakan akan mencapai 70 US dollar per barrel dan ini berarti lebih dari 110 triliun rupiah harus disediakan pemerintah untuk subsidi BBM. Suatu jumlah yang luar biasa besarnya, yang akan menghabisi lebih dari sepertiga APBN kita. Untuk dapat mempertahankan roda pemerintahannya, pemerintah SBY-JK tidak ada pilihan lain,mau-tidak mau, suka tidak suka harus mengurangi subsidi dengan cara menaikkan harga BBM. Sudah tentu keputusan yang tidak populer ini akan menimbulkan gejolak yang luar biasa di tengah-tengah masyarakat yang sedang menghadapi berbagai kesulitan hidup. Pemerintah harus segera mensosialisasikan rencana kenaikan harga BBM ke tengah masyarakat dengan penjelasan dan alasan yang dapat diterima rakyat, sambil memberi contoh dalam melakukan gerakan penghematan dan efisiensi di segala bidang serta tidak mengendurkan usaha pemberantasan KKN.

Namun di samping hal-hal yang memprihatinkan tersebut, ada beberapa hal yang cukup menggembirakan, yaitu ditanda tanganinya MOU perdamaian antara pemerintah RI dan GAM. Mudah-mudahan semuanya dapat berjalan dengan lancar dan Aceh tetap berada dalam haribaan negara kita. Mudah-mudahan kedua belah pihak, baik GAM maupun pemerintah RI akan saling menghormati dan mematuhi isi perjanjian tersebut sehingga rakyat Aceh dapat dengan tenang menjalani hidupnya dan membangun kembali negerinya yang telah porak poranda akibat konflik berkepanjangan dan bencana gempa/ tsunami.

Di samping itu pada 15 Agustus ini, bersamaan dengan ditanda tanganinya MOU antara pemerintah RI dengan GAM, kita juga memperingati 55 tahun dimulainya hubungan diplomatik RI- RRT. Tanggal 15 Agustus 1950, bertempat di Istana Merdeka, Duta Besar RRT yang pertama untuk Indonesia, Wang Ren-shu menyampaikan surat kepercayaannya kepada Presiden Sukarno, maka dimulailah era persahabatan kedua negara yang dalam perjalanannya ternyata beberapa kali mengalami pasang surut. Namun akhir-akhir ini hubungan persahabatan kedua negara semakin bertambah erat. Ini terbukti dengan suksesnya hasil kunjungan persahabatan Presiden SBY ke RRT beberapa waktu yang lalu, dengan di tanda tanganinya tiga MOU mengenai investasi RRT di Indonesia yakni di bidang energi, tambang batu bara dan transportasi yang nilainya milyaran US dollar.

Untuk mengatasi segala kesulitan yang sedang dihadapi negara kita, seluruh bangsa Indonesia tidak peduli asal-usul rasnya, etnisnya,agamanya, keyakinannya, ideologinya, partainya maupun kedudukan sosialnya seyogyanya harus bersatu padu menggulung lengan baju berusaha dan bekerja keras agar krisis ini segera berakhir.



Peranan etnis Tionghoa dalam mengisi kemerdekaan.

Etnis Tionghoa sebagai bagian integral bangsa Indonesia harus selalu berperan aktif, turut mengambil bagian bersama komponen bangsa lainnya mengatasi setiap kesulitan yang dihadapi bangsa kita.Para pemimpin Tionghoa di masa lalu turut aktif berjuang untuk mendirikan Republik Indonesia.

Kata Cina menjadi Tionghoa
Pada masa kebangkitan nasional, harian Sin Po adalah surat kabar pertama yang menjadi pelopor penggunaan kata Indonesia menggantikan Nederlandsch-Indie,Hindia Nederlandsch atau Hindia Belanda dan menghapuskan penggunaan kata “inlander” yang dirasakan sebagai penghinaan oleh rakyat Indonesia dari semua penerbitannya. Langkah ini kemudian diikuti oleh harian lainnya. Kemudian untuk membalas “budi” semua penerbitan pers Indonesia sepakat untuk mengganti kata “Cina” dengan kata “Tionghoa”. Demikian juga para pemimpin pergerakan dan perjuangan seperti Ir.Sukarno, Drs.Moh.Hatta, Soetan Sjahrir, Dr.Tjipto Mangoenkoesoemo dan lainnya dalam percakapan sehari-hari dan dalam tulisannya mengganti kata Cina dengan kata Tionghoa. Harian Sin Po adalah harian yang juga untuk pertama kalinya memuat teks lagu Indonesia Raya yang kelak menjadi lagi kebangsaan RI.

Pada September 1932, di Surabaya Liem Koen Hian mendeklarasikan berdirinya Partij Tionghwa Indonesia (PTI).Tujuan PTI adalah membantu rakyat Indonesia untuk membangun ekonomi, sosial dan politik menuju Indonesia yang berdaulat penuh dan rakyatnya mempunyai kewajiban dan hak yang sama.Dalam Anggaran Dasarnya PTI dengan tegas menyatakan ikut aktif memperjuangkan tercapainya Indonesia Merdeka.

Dalam menyongsong kemerdekaan, pada 29 April 1945 diumumkan pembentukan Dokuritu Zunbi Tyoosa Kai atau Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang anggotanya antara lain Liem Koen Hian, Oei Tjong Hauw,Oei Tiang Tjoei dan Tan Eng Hoa. BPUPKI inilah yang merancang konsep UUD 1945. Di muka sidang BPUPKI inilah pada tanggal 1 Juni 1945 Bung Karno untuk pertama kalinya menyampaikan gagasannya tentang Panca Sila. Kemudian pada 7 Agustus 1945 di Jakarta diumumkan terbentuknya Dokuritu Zunbi Inkai atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menggantikan BPUPKI, yang anggotanya terdiri dari wakil-wakil dari Jawa maupun daerah-daerah luar Jawa dan dipimpin oleh Ir. Sukarno sebagai ketua dan Drs.Moh.Hatta sebagai wakil ketua.Drs.Yap Tjwan Bing terpilih menjadi anggota PPKI mewakili etnis Tionghoa.

Demikianlah dalam perjalanan Republik ini, baik RIS maupun NKRI sampai dengan pemerintahan SBY-JK, beberapa tokoh Tionghoa ada yang terpilih menjadi menteri antara lain : Siauw Giok Tjhan, Drs.Ong Eng Die, Lie Kiat Teng, Oei Tjoe Tat SH., David G.Cheng, Moh.”Bob” Hasan,Drs,Kwik Kian Gie dan Drs. Marie Pangestu. Ada juga yang berhasil menjadi anggota DPR/Konstituante/MPR antara lain : Siauw Giok Tjhan,Yap Tjwan Bing,Tan Po Goan,Tjoeng Tin Jan, Thio Kang Soen,Tan Tjin Leng,Tan Boen Aan,Tjoa Sie Hwie,Tjoeng Lin Sen, Tony Wen, Tjoo Tik Djoen,Oei Hay Djoen, Tan Ling Djie, DR.Go Gien Tjwan, Liem Koen Seng SH., Oei Poo Djiang,Yap Thiam Hien SH., Liem Bian Koen, Enggartiasto Lukita, Dra.Siti Hartarti Murdaya, Alvin Lie, Tjiandra Wijaya Wong, Daniel Budi Setiawan, Drs.L.T.Susanto,Murdaya Poo, Albert Yaputra dllnya.

Malahan dalam Pilkada yang baru saja berlangsung, Ir.Basuki Tjahaja Purnama (A Hok) dan H.Saptono Mustaqim dari PIB berhasil terpilih menjadi Bupati Belitung Timur,Provinsi Bangka Bilitung dan Wakil Bupati Kepulauan Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, mengalahkan calon-calon dari PBB dan Golkar.Mereka adalah orang Tionghoa pertama yang berhasil terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati selama Republik ini berdiri. Mudah-mudahan keduanya berhasil menjalankan tugasnya dengan baik dan berhasil mensejahterakan rakyat di kedua kabupaten tersebut. Mudah-mudahan keduanya berhasil membangun citra yang positif di mata rakyat dan dapat menjauhkan diri dari godaan KKN. Dibutuhkan lebih banyak “Basuki dan Saptono” lainnya dari kalangan Tionghoa untuk memberikan darma baktinya bagi kepentingan dan kesejahteraan rakyat Indonesia, di manapun mereka berada. Semoga ! (Penulis adalah seorang pengamat sosial dan politik)


     

 


FastCounter by bCentral