Suatu Hari di Daerah Kepala Naga
Oleh: Edna C Pattisina

Kalau rasa jenuh dan lelah datang, pulanglah ke kampung halaman. Tempat di mana kita bisa tertawa bebas, mencicipi makanan kenangan, dan terutama kembali ke tempat di mana kepercayaan itu masih ada.

Dan inilah kawasan Kota, sebuah kampung halaman bagi sekelompok orang. Pemandangan yang tidak asing di sela-sela gang di kawasan Pancoran: sekelompok pria dengan kaus oblong putih, celana pendek, dan selop asyik bercakap-cakap sambil sesekali menyeruput kopi atau teh dari warung Tek Kie. Yam Cha, alias minum teh-begitu nama tradisi yang terus berlangsung di komunitas etnis Tionghoa ini.

"Saya seperti pulang ke kampung halaman. Setiap kali saya merasa jenuh, saya akan kembali ke sana," kata Osbert Lyman, pengusaha kayu dan hotel yang kalau datang untuk kongko-kongko selalu mengganti celananya dengan celana pendek. Dari hotel bintang lima miliknya, ia pergi sendiri dengan mengemudikan Kijang.

Bagi pria yang lahir dan besar di Pasar Ikan ini, "pulang ke asal" penting untuk menumbuhkan kembali semangat hidup. "Orang yang tidak punya kampung halaman, hidupnya keras dan kosong. Saya rasa, salah satu penyebab orang menjadi kejam dengan sesama, karena dia tidak punya kampung halaman," ujar Osbert.

Sebegitu cintanya Osbert pada kampung halamannya sehingga menekankan, tidak ada tempat lain-mungkin di dunia ini, maksudnya-yang memiliki kue bulan terenak kecuali di Kota. Begitu juga Stefanus Kurniadi, teman minum teh Osbert yang selama 40 tahun setia pada sop pi-oh (bulus) di sebuah restoran. "Banyak restoran yang menyediakan pi-oh, tapi buat saya, yang ada kenangannya hanya di restoran itu, ya saya ke restoran itu," katanya.

Anyan, warga Pancoran, bercerita kalau tradisi Yam Cha yang berasal dari suku Khong Hu dari Guangdong, Tiongkok, ini masih terus dilakukan secara rutin, terutama pada akhir pekan. "Biar berjam-jam cuma minum segelas teh, yang punya restoran enggak boleh marah karena memang sudah begini tradisinya," kata Anyan.

Berjam-jam bisa dihabiskan untuk obrolan ngalor-ngidul mulai dari obat mujarab untuk penyakit ini dan itu hingga lelucon yang dipungut dari sana-sini. Tidak jarang, juga terjadi celetukan-celetukan tentang bisnis. Kata-kata "lu bawa apa" bisa berujung pada transaksi bernilai miliaran rupiah. Misalnya, beberapa waktu lalu seorang pria datang dari RRT dengan niat mencari batu bara. Sambil Yam Cha, niatnya ini terdengar oleh salah seorang lain yang kebetulan memiliki tambang batu bara. "Tadi baru berangkat ke Kalimantan untuk melihat-lihat tambang batu bara, kalau nanti sore dia jadi balik, besok ya Yam Cha lagi," kata Anyan.

Bagi dunia bisnis modern yang segalanya dilegal-formalkan tapi masih sering kecolongan juga, transaksi bisnis "kaus oblong" ini terasa janggal. Namun, satu kata bisa menjelaskan segalanya: kepercayaan. Francis Fukuyama boleh lihat sendiri. Di sini, di sebuah gang kecil di Pancoran, Kota, kepercayaan alias trust-akar universal yang membuat roda bisnis bisa berputar mulus-masih ada. "Tidak ada resmi-resmian, semua berdasarkan kepercayaan saja," katanya.

Interaksi personal

WD Sukisman, seorang sinolog, mengatakan, dalam Yam Cha terjadi interaksi personal antarwarga. Mereka bebas membicarakan apa saja, termasuk urusan bisnis dalam suasana santai, akrab, tidak formal dan tegang, serta menyenangkan. Dalam suasana seperti inilah bisnis berjalan lancar. "Ada saling percaya dan tolong menolong, kalau ada kawan yang perlu modal, mereka bisa urunan untuk memberi modal," katanya.

Budi Lim, seorang arsitek yang lahir dan besar di kawasan Kota, mengatakan, konsep bantu-membantu memang sudah menjadi tradisi. Perkampungan masyarakat Tionghoa terbangun berdasarkan dari suku mana mereka berasal.

"Mereka juga berdagang barang-barang yang sama berdasarkan keahlian suku," kata Budi Lim. Suku Hok Jia, misalnya, berjualan emas dan tekstil; suku Khe menangani barang-barang kelontong, suku Hin Hwa berjualan sepeda dan becak, sementara suku Khong Hu ahli dalam membuat mebel dan berjualan obat.

Mereka memilih tinggal dengan masyarakat yang sesuku karena ada rasa aman dan dekat. Konsep yang mereka jalani adalah konsep berkongsi sehingga tidak terlalu khawatir kalau dagangannya tidak laku karena berjualan barang yang sama dengan tetangga. "Kalau ada yang bangkrut, mereka langsung membantu, dari sinilah lahir arisan hwe yang banyak dilakukan masyarakat Tionghoa sampai sekarang, mereka mengumpulkan uang untuk dipakai modal teman yang membutuhkan," katanya.

Identitas kultural ini hadir dalam berbagai bentuk yang khas. Handi, misalnya, setiap pagi setia membeli koran beraksara Han Zi seperti Harian Indonesia. Ada juga beberapa terbitan lain seperti Indonesia Shang Bao, Universal, dan International Daily. Pagi-pagi, sambil baca koran dan mendengarkan lagu-lagu Mandarin pop dari radio Cakrawala, Handi tidak lepas dari secangkir teh, mulai dari Teh Guanyin, Jasmine Tea yang diproduksi di Taichung City, Taiwan, serta Tiongkok Gift Tea yang wangi. "Soalnya, teh itu bisa ilangin minyak-minyak di tubuh," kata Handi.

Pagi-pagi, masuk ke gang-gang di kawasan Pancoran hamparan sarapan tersedia hingga menjelang siang. Mulai dari cakwe sampai bacang, serta bacang dan sekba, nasi campur juga swikiau ditawar-tawarkan sepanjang gang. Sayup-sayup terdengar suara Teresa Teng dengan hits lagu-lagu cintanya yang diputar di toko-toko yang menjual VCD lagu dan film Mandarin.

Catur gajah

Lepas siang, sebuah kebiasaan lain telah menunggu: catur gajah. Tjia Suki (63) dan puluhan temannya, yang kebanyakan telah pensiun, hampir setiap siang berkumpul di Food Court Glodok Plasa untuk bermain Siang Xi alias catur gajah. Catur ini menggunakan aksara Mandarin untuk menandai bidak-bidaknya. Para peserta "catur siang" ini tidak hanya datang dari sekitar kawasan Kota, namun ada juga yang datang dari Muara Karang atau Daan Mogot. Dengan mimik serius, perhatian mereka tersita ke meja papan catur walau sesekali ekspresi mereka melunak seiring guyonan yang dilempar di antara mereka.

Catur siang tidak hanya dianggap membunuh waktu saat pensiun. Pikir mereka, daripada hanya berdiam diri di rumah dengan pikiran yang melayang-layang entah ke mana atau jalan-jalan di mal yang lama-lama terasa membosankan, main catur gajah rasanya lebih menyenangkan. "Enakan di sini, ketemu teman-teman sambil asah otak biar enggak pikun, siapa tahu bisa dagang sambilan," kata Tjia Suki.

Di sisi lain, berbagai kebiasaan mulai tergerus oleh zaman. Inge Indriani, manajer dari Glodok Plasa, mengatakan, hilangnya identitas masyarakat Tionghoa, misalnya, terlihat dari semakin jarangnya upacara adat pernikahan Tionghoa. Hal serupa dikatakan Lie Thong. Menurutnya, berbagai tradisi sudah sulit dilakukan berhubung semakin berantakannya kawasan Kota. "Jalan yang dulu lebar malah sekarang jadi kecil," katanya.

Handi yang sudah tiga puluh tahun tinggal di Pancoran mengatakan, pembeli enggan datang karena kawasan Kota jadi berantakan dan tidak aman. Sementara Hendrick selaku Ketua Paguyuban Kota Tua mengatakan, pihaknya mengharapkan Kota akan menggeliat di segala bidang, termasuk di dalamnya ekonomi dan kebudayaan. "Ya, semoga bisa ditatalah, supaya kepala naga-nya terbuka lagi," katanya sambil bercanda.

Begitulah kisah sebuah sudut kampung halaman bernama Kota. Sebuah sudut di tengah kota besar yang melelahkan ini, yang masih menyisakan ruang dan waktu untuk kongko-kongko dengan secangkir teh atau kopi bersama kaus oblong dan selop. Sebuah sudut di mana kepercayaan belum diracuni dunia citra yang semu.... (LUSIANA INDRIASARI/M CLARA WRESTI/ FRANS SARTONO)


     

 


FastCounter by bCentral