| Lenong Masih Menarik Warga Pinggiran
Oleh: Elok Dyah Messwati
”Pokoknya Neng tanya tukang ojek, pasti mereka tahu di mana ada lenong,” begitulah jawaban Mpok Nori dari Grup Lenong Betawi Sinar Noray ketika dimintai ancar-ancar tempat mereka berpentas.
Minggu, 3 Juli, lalu Sinar Noray yang dipimpinnya memang mendapat order mengisi acara perkawinan di Desa Paku Jaya, Pondok Kacang. Suatu desa di pinggiran Jakarta , persisnya di belakang kompleks perumahan Bumi Serpong Damai, Tangerang.
Maka setelah menyusur beberapa kilometer jalan sempit di balik tembok perumahan, naik turun jalan berlubang yang becek, melintasi kebun dan persawahan, serta tentu saja bolak- balik bertanya kepada tukang ojek dan penjaga warung, ketemu jugalah Paku Jaya.
Ternyata desa itu tidak jauh dari kompleks Graha Raya Bintaro, dikepung beberapa cluster perumahan. Siapa menduga di lingkungan yang bagus itu ada sebuah desa di mana masyarakatnya keluar masuk melalui pintu butulan persis di belakang pos satpam sebuah cluster.
Gara-gara informasi Desa Paku Jaya masuk Kecamatan Serpong, jadilah perjalanan mencari desa tersebut berawal dari bundaran air mancur BSD dan menempuh jalan yang berliku.
Hari itu tak cuma lenong yang ditanggap si pemilik hajatan, tetapi juga musik dangdut. Jadilah sejak pukul satu siang kelompok Mpok Nori sudah memeriahkan acara.
Informasi bakal ada dangdut dan lenong begitu cepat menyebar ke seantero pinggiran Jakarta . Dalam perjalanan mencari desa tersebut, misalnya, hampir semua orang yang ditanya tahu benar di mana letak keramaian itu berlangsung.
” Kan di undangan yang dikirim ditulis ada pertunjukan lenong. Makanya dari yang nongkrong-nongkrong sampai sopir angkot juga tahu bakal ada lenong di sini,” kata pengojek yang jadi juru parkir dadakan.
Saat anak buahnya berdangdut ria di siang terik itu, Mpok Nori menumpang duduk di rumah salah satu warga. Ia sibuk melayani belasan penggemarnya yang sekadar bersalaman maupun berfoto bersama.
”Jam empat sore kami break. Jam delapan malam mulai lagi bunyi-bunyian gambang keromong dan dangdut. Lenongnya baru main jam 11 malam,” kata Mpok Nori.
Awak panggung Sinar Noray yang pada kesempatan itu total 70 orang sebagian istirahat, tidur-tiduran di lantai teras.
Petang makin ramai
Menjelang petang, keramaian makin terasa. Puluhan penjaja makanan, mulai dari bakso, soto kikil, sate kambing, kacang goreng, hingga tahu/tempe goreng, mengatur diri di belakang panggung dan pinggir lapangan yang dipenuhi ilalang tinggi.
Seperti air, penonton tak henti-hentinya mengalir. Mereka datang berbondong-bondong dari Pondok Jagung, Pondok Aren, Pondok Jengkol, Pondok Kacang, Pondok Serut, Tajur, Kunciran, dan Cipete.
Ada yang berboncengan naik motor, jalan kaki, bahkan menumpang mobil bak terbuka. Kelompok undangan yang berdandan cantik dan necis berbaur dengan mereka yang sekadar ingin menonton lenong.
Di pintu butulan cluster perumahan, sepeda motor terus keluar masuk. Ratusan penonton yang meruah kontras dengan situasi cluster perumahan yang sunyi senyap.
Mereka asal duduk. Asap rokok mengepul di mana-mana. Semua terhanyut menikmati lenong, bahkan juga anak-anak kecil yang duduk di pinggir panggung dan bertahan hingga dini hari.
Banyolan sederhana, gerakan lucu yang diulang-ulang, sudah mengundang gelak tawa. Cerita bukan yang utama di sini. Jangan heran bila judul ”Siluman Babi Ngepet” pun baru diketahui pemain menjelang pentas.
”Jangan sampai judul yang pernah dimainkan di seputar sini diulang lagi,” kata Sumarto, menantu Mpok Nori, yang bertugas menentukan judul.
”Kami selalu siap main cerita apa saja. Sudah biasa kok improvisasi,” kata Mpok Nori menjelaskan.
Sayangnya, pementasan lenong Betawi kini tak sesering dulu. Di tahun 1980-1990-an, sebuah grup lenong bisa pentas delapan kali sebulan. Kini sebulan-dua bulan pun belum tentu ada order.
Maka ikatan keanggotaan menjadi amat cair. Kalau tak ada order, boleh saja para anggota ikut main kelompok lain. Memprihatinkan? Itulah kenyataannya.
Sedikit tentang Topeng Betawi
ami sudah mahfum kalau dari dunia Lenong tidak dapat dikesampingkan bintang lenong “Bokir” yang giginya nyerongos dan logatnya asli Betawi. Ayah Bokir, Dji'un, juga seorang pemain topeng Betawi semasa kolonial. Hampir seluruh hidup Bokir dipersembahkan untuk kesenian topeng dan lenong Betawi. Ia sudah bermain topeng Betawi sejak usia 13 tahun. Pada mulanya ia sebagai pemain kendang sampai rebab. Kemudian ia mendirikan dan memimpin kelompok topeng Betawi Setia Warga sejak tahun 1960-an hingga akhir hayatnya. Pada awal tahun 1970-an Setia Warga sering tampil di TVRI.
Penampilan terakhir Bokir dan kelompoknya, September 2002 lalu, di sebuah hajatan perkawinan di Cilangkap. Mereka memainkan cerita Salah Denger yang-antara lain-didukung Bolot, Malih, dan Bodong. Mandra dan Omas, pemain topeng betawi yang kemudian sebagai pemain sinetron, adalah keponakan Bokir. (IM)
|