Pengamat

Di sore hari yang masih terasa terik menyengat, Qodir sedang asyik membolak-balik majalah berbahasa Indonesia sementara Mat Kelor asyik pula membaca berita-berita dari internet. "Wah sekarang banyak orang yang menamakan dan mengangkat dirinya sendiri sebagai pengamat. Pengamat olah raga, sosial, seni, budaya, politik, militer, hukum, ekonomi, HAM dan macem-macem lainnya, " gumam Qodir.

"Dari dulu juga kerjaan sebagai pengamat udah ada, Dir. Tuh si Pepen dulu di kampung, senangnya mengamat-amati gadis tetangga sebelah. Sialnya setiap kali si Pepen mengamati, si gadis mendem aje di dalam rumah, sementara neneknya yang mondar-mandir, " celetuk Mat Kelor sambil ngakak.

"Kalau Mat Kelor senangnya mengamati kandang ayam tetangga. Kalau yang punya meleng, hilang dah satu. Malemnya Mat kelor makan nasi pake ayam goreng, bukan cuma tempe goreng seperti biasanye, " kata Pepen nggak mau kalah.

"Gue akuin pengamatan lu emang tajem, Pen. Buktinye lu lebih tahu kapan pohon mangga tetangga kita, buahnye pade mengkel dibanding yang punya pohon. Dia nyolek aje belum sempet, tahu-tahu tinggal gagangnye. Buahnye udah lu buat ngerujak duluan, " bales Mat Kelor sambil tertawa-tawa.

"Lu berdua ngak laen daripade ledek-ledekkan. Buntut-buntutnye 'ntar bacok-bacokan, " sela Jumadi menengahi.

"Mendingan becanda daripada pusing mikirin kapan kita diangkat anak sama uncle Sam, " jawab Pepen sambil menghibur diri.

"Nah ini ada lagi yang aneh-aneh, pengamat intelijen, telematika, IT, zionisme, teknologi televisi, " gumam Qodir lagi sambil geleng-geleng kepala.

"Maklumin aje, jaman sekarang kan susah cari kerjaan, susah dapet duit. Kenapa nggak berimprovisasi sendiri cari lapangan kerjaan. Salah satunya ya kayak gitu lah, jadi pengamat, " kata Jumadi yang memang pengikut sejati ajaran aji mumpung.

"Masalahnya nggak semua pengamat itu pengamatannya tajam, banyak juga yang omongannya nggak akurat, " kata Pepen mulai serius.

"Kalau tajam 'ntar kebeler lagi, " samber Mat Kelor yang masih senang meledek. Lalu lanjutnya mulai serius juga, "Ada pengamat yang memang pakar di bidangnya, tapi kan ada juga yang cuma asal rajin baca dan pinter ngomong. "

"Ini ada satu lagi, pengamat kemiskinan, " kembali Qodir bergumam sambil membaca-baca majalah.

"Kemiskinan sih nggak perlu diamat-amati, juga udah jelas kelihatan asal mata kita melek !" seru Jumadi dengan sewot. " Datang aje ke kampung-kampung, orang miskin nggak ketulungan banyaknya !"

"Tapi kan menurut survey, angka penduduk di negeri kita yang hidup di bawah garis kemiskinan sudah berkurang, " bantah Pepen.

"Mungkin bener, Pen. Masalahnya yang berada di garis kemiskinan makin ngejublak, " bantah Jumadi.

"Sebenarnya yang kita perlukan itu bukan pengamat kemiskinan tetapi justru pemecah masalah kemiskinan, " kata Mat Kelor menengahi perbantahan kedua temannya. "Tetapi biasanya mereka yang punya potensi sebagai pengambil keputusan itu lebih sibuk memecahkan urusan kantong nasinya sendiri daripada memecahkan masalah kemiskinan rakyat. "

"Apalagi kalau bini si pejabat terus-terusan nyubitin punggungnye minta diajakin shopping ke luar negeri, " kata Jumadi sambil senyum-senyum ngebayangin bininye kalau lagi minta dibeliin giwang. "Manaaa tahaaann !"

(Bang Madi/ IM)


     

 


FastCounter by bCentral