George W. Bush Dikecam Gara-gara Skandal Spionase
Koresponden Reinout van Wagtendonk, New York, 25 Juli 2005

Sejumlah mantan agen dinas intelijen Amerika Serikat, CIA mengecam keras Presiden George W. Bush. Sewaktu dengar pendapat di hadapan Kongres, dalam wawancara radio dan televisi, para mantan agen mengkritik tindakan yang diambil Bush dalam skandal mengenai pembocoran identitas seorang agen CIA. Penasihat utama George Bush, Karl Rove dihubungkan dengan skandal pembocoran tersebut. Seorang jaksa penuntut khusus ditugaskan Kongres untuk menyelidki, apakah ada pejabat Gedung Putih yang bertindak melanggar hukum.

Rove bocorkan identitas
Dalam acara radio mingguannya Presiden Amerika Serikat George W. Bush secara panjang lebar membicarakan John Roberts, yang diusulkan menjadi hakim mahkamah agung Amerika. Tetapi dalam acara diskusi mingguannya pihak Partai Demokrat lebih suka membicarakan skandal pembocoran identitas seorang agen perempuan CIA, dua tahun lalu. Pihak Demokrat bahkan memberikan waktu siaran kepada seseorang yang tidak pernah mendukung partai tersebut.

"Selamat pagi. Saya Larry Johnson. Seorang warga Amerika, anggota Partai Republik, mantan pejabat dinas intelijen CIA dan teman Valerie Plame".

Karl Re: sengaja bocorkan identitas Plame

Larry Johnson adalah salah satu saksi yang memberikan keterangan sewaktu sidang dengar pendapat di depan para senator dan anggota dewan perwakilan Amerika, yang membicarakan kasus pembocoran identitats Valerie Plame, seorang agen CIA. Plame menikah dengan mantan duta besar Amerika Joseph Wilson. Menjelang dimulainya perang Irak, Wilson sempat membuat marah Gedung Putih. Dalam artikelnya yang dipublikasikan media Amerika, Wilson mempertanyakan alasan Presiden George W. Bush, bahwa Irak harus dihancurkan karena punya senjata pemusnah massa . Sampai sekarang Wilson masih yakin bahwa penasihat keamanan Presiden Bush, Karl Rove, sengaja membocorkan identitas istrinya ke media dengan tujuan menghukum sang mantan duta besar.

Pencalonan John Roberts menjadi hakim mahkamah agung minggu lalu dan pertarungan politik mengenai pencalonan tersebut menyebabkan skandal Plame-Wilson dilupakan sejenak. Tetapi sementara waktu media cukup mengumpulkan bahan bukti, sehingga skandal itu dapat kembali diangkat dengan cepat. Jaksa penuntut khusus Patrick Fitzgerald, sudah dua tahun lamanya menyelidiki apakah ada pejabat Gedung Putih yang melanggar hukum dengan membocorkan identitas Valerie. Selain Karl Rove ada sejumlah pejabat Gedung Putih lainnya yang diminta kesaksian mereka di bawah sumpah.

Gedung Putih tetap diam
Presiden Bush juga menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan oleh Fitzgerald, tetapi tidak di bawah sumpah. Kenyataan bahwa sekarang ada sejumlah pejabat CIA yang secara terbuka menuduh Bush membahayakan keamanan nasional dengan membiarkan salah seorang agen intelnya dikhianati pejabat Gedung Putih, dapat dipergunakan dengan baik pihak oposisi di Washington. Karena itu Partai Demokrat menyerahkan corong radio kepada Larry Johnson.

"Presiden yang pertama-tama bertugas menjaga keselamatan warga Amerika dan agen-agen intel yang melakukan tugas mereka, malah membiarkan saja bagaimana dua warga Amerika yang jujur, Valerie dan Wilson, dirusak namanya lewat permainan politik kotor".

Sampai sekarang Gedung Putih menolak memberikan komentar. Presiden Bush menyatakan terlalu dini untuk mengambil kesimpulan sebelum penyelidikan yang dilakukan Fitzgerald selesai. Sementara ini Presiden Bush berjanji akan memecat pegawai Gedung Putih yang terlibat dalam skandal pembocoran identitas Valerie Plame. Tetapi sebelum itu ia masih menunggu bukti-bukti menguatkan, bahwa orang tersebut memang benar-benar melakukan hal ini dengan niat buruk. Sikap Gedung Putih yang defensif semakin memperkuat dugaan yang berkembang di publik Amerika .(Ranesi)

© Radio Nederland Wereldomroep, all rights reserved  

 

     

 


FastCounter by bCentral