RITUAL BAKAR TONGKANG

Penuh Pesan Sejarah, Ritual dan Pariwisata
Minggu, 26 Juni 2005
Bakar Tongkang Bagansiapi-api


ACARA Bakar Tongkang di Bagansiapi-api yang berlangsung Kamis 23 Juni
2005 lalu, penuh dengan pesan sejarah masa lalu tentang kedatangan
etnis Tionghoa ke Indonesia, khususnya ke Bagansiapi-api, Riau.
Sejarah memang tidak bisa dibuat-buat, sejarah adalah fakta yang tak
terbantahkan.

Begitu pula tentang sejarah marga Ang dari etnis Tionghoa yang
menginjakkan kakinya pertama kali di tanah Bagan tahun 1826 masehi,
kala itu Bagan masih ditumbuhi rimba dan hutan yang lebat. Saat itu
tak ada penghuni manusia di muara Sungai Rokan itu.

Dengan menggunakan tiga tongkang, atau kapal layar terbuat dari kayu,
marga Ang yang terdiri dari 18 orang—satu diantaranya perempuan,
berlayar ke Bagan tahun 1826 masehi. Mereka ini sebelumnya adalah
penduduk asli RRC yang migran ke Desa Songkla Thailand tahun 1825
masehi. Ketika pecah kerusuhan di Desa Songkla Thailand antara warga
Desa Songkla dengan etnis Tionghoa ini tahun 1825 masehi, etnis
Tionghoa menyelamatkan diri pindah ke Bagan dengan tiga tongkang kayu
mengarungi lautan. Di tengah perjalanan di laut, dua tongkang
tenggelam, dan satu tongkang selamat berlabuh di Bagan. Sebelum tiba
di Bagan mereka berlabuh terlebih dahulu di Kerajaan Kubu. Namun
karena merasa kurang aman, akhirnya etnis Tionghoa ini pindah ke
daratan Bagan.

Satu tongkang yang selamat, menurut kisahnya disebabkan karena
terdapat patung Dewa Tai Sun di haluan tongkangnya, yaitu satu-
satunya dewa tak punya rumah, yang hidupnya hanya menggembara.
Sedangkan dewa Ki Ong Ya diletakkan di rumah kapal (magun). Karena
ada kedua dewa ini di dalam tongkang, maka selamatlah mereka menempuh
perjalanan yang penuh tantangan itu.

Sejarah ini dikisahkan budayawan Riau dari Bagansiapi-api yang juga
anggota LAM Rohil H Sudarno Mahyuddin dan tokoh masyarakat Tionghoa
Bagan Halim Wijaya kepada pers beberapa hari lalu di Bagansiapi-api.
Hal ini juga disampaikan Ketua Panitia Sembahyang Bakar Tongkang
Bagansiapi-api Kasim Liong, didampingi Sekretaris Umum Unang
Cemerlang, dan Ketua Panitia Lapangan Ahe Jonatan kepada Riau Pos.

Selanjutnya, di daratan Bagan saat mereka menginjakkan kakinya
sekitar tahun 1826 masehi, ada tiga kerajaan Riau yang telah berdiri
lebih dahulu yaitu Kerajaan Kubu, Kerajaan Tanah Putih, dan Kerajaan
Batu Hampar. Kendati demikian etnis Tionghoa ini lebih nyaman menetap
di Bagan, di muara Sungai Rokan sekarang di pinggir pelabuhan. Di
sini mereka membangun pemukiman tradisional, termasuk membangun Bang
Liau (gudang penampungan ikan). Disini juga dibuat pelataran untuk
menjemur ikan asin.

Selain itu mereka juga membuat dok kapal kayu, yaitu tempat pembuatan
kapal yang digunakan untuk menangkap ikan. Kapal kayu terbuat dari
jenis kayu leban. Selanjutnya agak ke daratan Bagan etnis Tionghoa
ini membangun klenteng Ing Hok Kiong.

Populasi etnis Tionghoa di kawasan ini terus bertambah dari tahun ke
tahun. Sekitar tahun 1926 masehi mereka secara terstruktur mulai
mengadakan peringatan tentang sejarah kedatangan mereka ke tanah
Bagan, yaitu dengan menggelar sembahyang bakar tongkang di klenteng
Ing Hok Kiong.

Tanggal 12 Maret 1946 pecah Peristiwa Bagan I, yaitu pengibaran
Bendera Kuo Mintang (Bintang 12) bertepatan dengan pecahnya revolusi
besar di tanah Tiongkok saat itu. Kelompok ini adalah penenteng komunis
Tiongkok.

Kemudian 18 September 1946 pecah pula Peristiwa Bagan II, yaitu
kedatangan gerombolan Tentara Jambang dengan kapal besar di pelabuhan
Bagan lama sekarang menyerang etnis Tionghoa Bagan. Pertempuranpun
berlangsung seru, hingga menewaskan banyak prajurit Tentara Jambang
termasuk komandan besarnya.

Dari peringatan acara Bakar Tongkang tahun 2005 ini sebenarnya ada
sesuatu yang tergandung di dalamnya, yaitu ingin melaksanakan
sembahyang untuk mendapatkan berkat, keberuntungan, kemudahan rezeki,
sekaligus menyampaikan pesan sejarah. Tapi juga terdapat potensi
pariwisata. Ada sekitar 15.000 wisatawan nusantara dan mancanegara
berkunjung ke Bagan saat itu. Mereka selain melaksanakan ritual
sembahyang, bakar hio, bakar kim, juga ikut dalam iring-iringan
tongkang ke lokasi pembakarannya di Jalan Perniagaan ujung Bagansiapi-
api.

Malam harinya 22 Juni 2005 juga dilaksanakan hiburan di pentas depan
klenteng Ing Hok Kiong. Kemudian disusul dengan pesta kembang api
yang sangat meriah malam hari itu.

Laut Sebagai Pencarian
Tahun 2005 ini, etnis Tionghoa Bagansiapi-api yang percaya dengan
Dewa Tai Sun dan Dewa Ki Ong Ya, menjadikan laut sebagai tempat
pencarian. Petunjuk ini tentunya diketahui dari peristiwa Bakar
Tongkang 2005 itu. Saat Tongkang dibakar, tiang kapal yang dibakar,
tumbangnya ke arah laut. Itu pertanda bahwa tahun 2005 ini, etnis
Tionghoa akan banyak mencari nafkah di laut.

Kendala
Saat ini ada kendala bagi penduduk Bagansiapi-api umumnya. Di satu
sisi tahun 2005 ini penduduk Bagan yang umumnya etnis Tionghoa
menjadikan laut sebagai tempat mata pencariannya. Namun di sisi lain
Pemerintah telah melarang dan menutup aktivitas pembuatan kapal di
pelabuhan Bagan. Puluhan dok kapal yang dulunya beroperasi dengan
menyerap ratusan tenaga kerja, tapi kini telah stop operasi.

Dalam pemantauan Riau Pos di pelabuhan Bagan lama, sejumlah kapal tak
banyak melaut lagi untuk mencari ikan, karena keterbatasan peralatan.
Sementara gudang ikan yang masih bertahan ada sekitar dua, itupun
milik toke besar Bagansiapi-api bernama Hasan dan Tongkang. Sedangkan
gudang-gudang ikan (Bang Liau) yang kecil banyak yang sudah ditutup
pemiliknya. Kini kawasan pelabuhan lama ini terkesan mati. Yang
tampak berkembang pesat justeru pusat kota Bagan yang tumbuh dengan
ratusan ruko bertingkat sekaligus memelihara sarang walet. Suara
ribut kaset walet memekakkan gendang telinga di tengah kota Bagan
ini. Sedangkan pelabuhan lama Bagan hanya dijadikan lokasi pelabuhan
penumpang yang akan berangkat ke Panipahan dan Pulau Halang.
Panipahan dan Halang kini juga disebut-sebut cukup berkembang karena
banyak potensi alamnya yang bisa digarap seperti ikan dan kayu.

Sementara kegiatan penyeludupan tetap ada di Bagan. Terutama sembako
impor dari Selangor Malaysia seperti gula pasir CRS—gula tebu
bertapis. Menurut pedagang, gula pasir impor ini cukup bermutu dan
murah. Pihak kedai membeli gula pasir impor ini kepada agen gula
pasir sebesar Rp222 ribu per 50 kg (satu sak). Kalau diecer kepada
konsumen harga gula pasir impor ini Rp5.000 per kg, lebih murah
dibanding gula resmi dalam negeri.

Pedagang kedai di Bagansiapi-api lebih memilih gula pasir impor ini
dibanding gula pasir dalam negeri. Selain harganya murah, mutunya
juga sangat baik. Beberapa waktu lalu pasokan gula impor seludupan
ini sempat putus di Bagansiapi-api dan Dumai sekitarnya. `'Ini
membuat susah masyarakatlah,'' kata pedagang di Bagan. Masyarakat
juga menyebutkan pemasok gula impor ini yang berpusat di Dumai.
Pemasok ini antara lain H, Ah, Zai, dan lain-lain.(azf)


     

 


FastCounter by bCentral